Danau Sentarum

Menuju Wisata Dunia (Bagian 1)
FDS Menuju Gerbang Wisata Internasional

Viodeogo
Diterbitkan Borneo Tribune

Sambutan adat Dayak Iban pada Festival Danau Sentarum I, Lanjak, Kecamatan Batang Lupar  (28/11). Nilai budaya setempat menjadi salah satu unsur kekuatan menaikkan kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. 
Saya meliput penyelenggaraan Festival Danau Sentarum yang pertama kali digelar 28 November -2 Desember 2011 lalu di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar. Saya ingat dari bacaan dan tayangan televisi, di Papua memiliki Festival Asmat, di Kabupaten Asmat. Suatu festival adat memperkenalkan istiadat masyarakat Papua. Ia juga festival yang menunjukkan panorama alam kepada para pengunjung wisata. Kini wisata itu, menjadi salah satu agenda tujuan para pelancong wisatawan dalam negeri dan luar negeri. 

Di Vietnam terdapat Ha Long Bay, dengan luas sekitar 1.500 persegi, berserakan 1.996 pulau karang, kawasan itu tercatat dalam warisan UNESCO. Di dalamnya, terdiri dari pulau-pulau dengan 435 jenis tanaman, 22 spesies hewan laut, dan 76 spesies burung, 28 varietas mangrove, 315 spesies ikan, serta 545 spesies hewan invertebrate dan 234 jenis koral.

Kedua tempat di atas sudah terkenal keberadaannya sebagai tujuan destinasi wisata baik bagi Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah negara Vietnam. Gabungan panorama alam dan kemampuan masyarakat mengolah kebiasaan turun temurun dari para leluhur di Asmat dan Ha Long Bay ada di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. 

Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu kini punya gebrakan peluang baru, supaya mata dunia tertuju mau datang ke Kapuas Hulu. Di kecamatan Batang Lupar, terbentang luas lahan basah dan segala isi flora dan faunanya. Namanya Danau Sentarum. Lewat kawasan dengan luas 132.000 ha itu, lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemkab Kapuas Hulu ingin menunjukkan Danau Sentarum sebagai salah satu kawasan wisata untuk dikunjungi.

Lewat Festival Danau Sentarum, Pemkab Kapuas Hulu ingin memperkenalkan 500 jenis tumbuh-tumbuhan, 260 jenis ikan, 300 jenis burung, 11 jenis kura-kura air tawar, 3 jenis buaya dan kekayaan adat istiadat dan budaya masyarakat setempat dari etnis Dayak Tamambaloh, Iban, Kantuk, dan Melayu kepada mata nasional dan internasional.

Ia adalah puncak dari kegiatan serangkaian promosi Pemkab Kapuas Hulu mengenalkan Danau Sentarum. Sebelumnya dimulai dari mengenalkan Desa Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu sebagai Desa Wisata. Dengan konsep home stay, wisatawan atau peneliti yang ingin tahu cara memukat ikan, merajut manik-manik menjadi gelang, kalung, baju, menari, dan bermain musik adat Iban ada di tempat itu. Kemudian diadakan lokakarya Pengembangan Ekowisata dan Lingkungan Air Kawasan Danau Sentarum dan Taman Nasional Betung Kerihun.

Tak tanggung-tanggung Dirjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI hadir. Malah Kepala Balai Taman Nasional Danau Sentarum, Ir. Soewignyo menapak kakinya di Kapuas Hulu. Dalam setahun, sedikit sekali Soewignyo berada di Kapuas Hulu. Ia berada di Sintang, tempat kantor kerja TNDS. Semestinya Danau Sentarum di Kapuas Hulu, tiap hari paling tidak ia berada di Kapuas Hulu. Pemkab Kapuas Hulu dibikin geram lokasi kantor TNDS di Sintang. Jawaban lokasi TNDS tidak bertempat di Kapuas Hulu, hanya bisa wartawan dapatkan dari suara Soewignyo.

Kehadiran Soewignyo ibarat oase di tengah padang gurun pasir yang tandus dan kering kerontang. Kantor TNDS harus berada di Putussibau memang menjadi harapan besar. “Tahun 2012, kantor TNDS akan berada di Putussibau. Kami menggunakan kantor sementara TNBK,” kata Soewignyo. Selama ini, kantor TNDS di Sintang, karena  Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 34/Kpts-II/4 Februari 1999 dan di tanggal 1 Februari 2007 melalui Permen Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007, UPT Kantor Balai TNDS di Kabupaten Sintang.

Dengan luas 132.000 Ha, TNDS memerlukan seorang ‘Bapak’ yang tidak jauh dari anaknya. Dengan begitu, Pemkab Kapuas Hulu mudah melakukan koordinasi dengan pihak TNDS. Bupati Kapuas Hulu, AM. Nasir mengemukakan isi hatinya kepada peserta lokakarya waktu itu, “Kami tidak ingin Kapuas Hulu yang melimpah hasil alamnya, tetapi masyarakatnya berada di garis kemiskinan, tanpa perhatian dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Menuju Wisata Dunia (Bagian 2) 
Raup Rupiah Industri Pariwisata

Lanjak
Banyak yang bilang menuju Kabupaten Kapuas Hulu begitu melelahkan karena perjalanan yang begitu jauh. Hal itu disadari Pemkab Kapuas Hulu yang hendak menjual jasa pariwisata Danau Sentarum sebagai salah satu cara memperoleh PAD asli daerah. Berbagai alternatif transportasi, disediakan pengunjung menuju Kapuas Hulu. Wisatawan dengan jiwa berkantong backpaker ada dua cara menuju Kapuas Hulu dari Pontianak.

Pertama  dengan naik Bis. Tersedia bis dengan fasilitas AC Eksekutif, dengan harga Rp 250 ribu. Kursi dapat direbahkan. Kelas ekonomi harga bervariatif mulai Rp 100 – Rp 125 ribu. Era mobil Taxi saat ini, pun dapat dicarter, bervariasi harganya, dari Rp 300 ribu – Rp. 400 ribu. Jarak Pontianak-Putussibau, 14 Jam. Dengan menggunakan Bis dan Taxi, memang kelelahan menyebar dari leher, punggung, dan bokong.

Alternatif kedua, dengan menggunakan pesawat terbang Pontianak - Putussibau, kurang lebih 40 menit menggunakan pesawat terbang Trigana Air atau Kalstar. Harganya dari Rp 700 ribu. Danau Sentarum terletak di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, jadi dari Putussibau ke Danau Sentarum wisatawan naik lagi kendaraan selama 3 jam.

Tapi biasanya alternatif lain, menggunakan speedboat, dari Sintang-Semitau-Danau Sentarum jaraknya lebih dekat 4 jam saja. Biaya kurang lebih sama dengan naik burung mesin. Lewat akses ini, wisatawan bisa langsung menikmati sungai Kapuas dengan panorama alam dan rumah-rumah penduduk di tepi sungai.

Menuju Danau Sentarum dengan jalur darat Putussibau-Lanjak boros bensin dan waktu. Lalu dari Lanjak ke dermaga speedboat atau sampan membawa para pelancong wisata menuju baru Danau Sentarum. Ini kata Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. Alexander Rombonang, MMA, rute singkat sesungguhnya. 

“Kalau jalan bagus dari Desa Kedungkang hanya 18 kilo tapi 8 kilo lagi belum bisa dilewati, karena jelek berupa tanah. Desa Kedungkang sebelum Lanjak, karena kondisi jalan jelek mau tidak mau ke Lanjak dulu. Di Desa Kedungkanlah pemandangan indah Danau Sentarum bisa terlihat langsung,” kata Rombonang.

Pada Festival Danau Sentarum yang akan datang, akses jalan harapannya bisa langsung ke Desa Kedungkang. Jadi Lanjak sebagai information center, pameran wisata, pusat perekonomian kreatif berbasis kerakyatan; penjualan souvenir, festival, hingga sajian khas masyarakat Dayak Iban, Tamambaloh ber-home stay ria di rumah-rumah penduduk.

FDS I yang lalu, Lanjak bagaikan kerumuman pesta kunang-kunang dalam waktu 5 hari. Kesepian berubah menjadi keramaian saat FDS. Bila pagi hari sebelum FDS, Lanjak hanya rutinitas aktivitas pelajar berangkat sekolah, warga berdagang, mobil-mobil ilegal plat Malaysia wara-wiri membawa barang dagangan dari kecamatan Badau. Kini, selama FDS, masyarakat Kapuas Hulu tertuju pada Lanjak. Tumpah ruah tanpa kenal waktu, Lanjak ibarat gula yang dikerubumi semut. Mobil-mobil legal Malaysia masuk secara resmi pun mudah dijumpai. 


Menuju Wisata Dunia (Bagian 3)
Sensasi Getaran Ombak Tour Cruising
Pesona danau lahan basah ini memikat hati bagi para pelancong menyusuri aliran sungai di kawasan Danau Sentarum. Penyelenggaran Festival Danau Sentarum I, menambah keingintahuan sebagian orang datang melihat dari dekat Danau Sentarum. Panitia mencoba memperkenalkan kepada publik keanekaragaman Danau Sentarum yang selama ini belum pernah tahu tentang Danau Sentarum. Saat FDS I, panitia membuat konsep Tour Cruising berlabuh dari satu pulau ke pulau lainnya yang ada di danau itu dengan menggunakan speedboat.

Floating House di Pulau Melayu
Catatan bagi pengunjung lain waktu ingin menghabiskan waktu seharian berada di Danau Sentarum perhatikan cuaca. Komunikasikan keinginan dengan driver speedboat yang membawa hendak membawa kita. Saat tour cruising, cuaca di Lanjak, sedang tidak bersahabat. Mendung saja, gelombang air sungai Danau Sentarum mulai naik. Silih berganti cuaca langit Desa Lanjak menemani kami yang hendak merasakan tantangan ber-tour cruising ria. Tujuan pertama singgah di Pulau Melayu, pulau tak berpenduduk terletak di tengah hamparan sungai Danau Sentarum.

Sebelum mencapai Lanjak, ada yang namanya Tanah Genting Lanjak. Ia merupakan tanjakan beraspal. Tepat di titik ketinggian puncak Tanah Genting Lanjak, panorama Danau Sentarum terlihat. Dan Pulau Melayu, pulau dari 3 pulau di Danau Sentarum yang kasat mata terlihat dari ketinggian itu.

Saya bersama 3 rekan media massa, asli putra kelahiran Kapuas Hulu. Lama tinggal di Kota Putussibau, tapi baru pertama kali inilah mereka mengunjungi Danau Sentarum. Speedboat yang kami tumpangi membelah sungai Danau Sentarum. Sensasi ombak sungai Sentarum menerjang sisi-sisi speedboat. Terjangan ombak semakin kuat, karena di kiri-kanan kami, speed boat membawa rombongan pengunjung tak mau kalah saling mendahului. 

Tetap saja, rasa khawatir membayangi benak saya. Terlempar di dalam sungai Sentarum dengan kedalaman 4 meter lebih karena hantaman ombak speedboat. Berenang bukan masalah, tetapi alat komunikasi dan kamera selamat tinggal.

Selama 15 menit, adu kecepatan antar speedboat lain akhirnya mengantar kami sampai di Pulau Melayu. Pulau ini gersang. Karang-karang batu hitam diselimuti lumut-lumut hijau pulau itu. Aneka rumbuh-tumbuhan berada di pulau itu. Susah sekali menemukan tempat untuk duduk bersantai, karena batu-batunya yang curam ke bawah. 

Singgah pertama di pulau itu, pengunjung menyaksikan perlombaan sampan yang diikuti para pedayung-pedayung seluruh kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Terik panas matahari, begitu menyengat. Rombongan burung-burung putih terbang rendah di atas kepala.

Berikutnya menuju Pulau Pandan. Hampir sama seperti dengan Pulau Melayu, karakteristik dari pulau ini. Pulau tak berpenghuni, dan merupakan bongkahan batu karang besar. Bedanya, hanya pada kenyamanan untuk menikmati pemandangan tanpa harus khawatir dengan batu-batu curam seperti di Pulau Melayu. Di bibir batu tempat speed boat bersandar, ada sebuah Lanting (perahu berukuran penginapan –floating house disediakan Pemkab Kapuas Hulu bagi pelancong-pelancong yang ingin menyusuri sungai Danau Sentarum sambil menginap berhari-hari di atas goyangan air sungai.

Dibandingkan dengan pulau Melayu, di pulau ini terdapat bangunan rumah tak berpenghuni dan tak terawat. Ada pondok wisata. Konon, bangunan ini milik Kementerian Kehutanan. Di dalamnya hanya coret-coretan di dinding, dan kaca-kaca jendela yang pecah di sana sini. Bau pesing.

Menarik dari pulau ini, menjadi tempat masyarakat melakukan sesajian kepada Sang Maha Pencipta. Saat kami datang, sekelompok ibu-ibu mengelilingi sesajian untuk satu gundukan batu yang diyakini melindungi Danau Sentarum, menjaga kehidupan dan kelimpahan hasil sungai seperti ikan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai Danau Sentarum. Sesajian dari nasi, telur, dan daging ayam.

Berdiri di bibir daratan Pulau Pandan terbentang hamparan sungai Danau Sentarum yang begitu luas. Di pulau ini, bukit-bukti hijau yang menglilingi Danau Sentarum lebih terlihat jelas, karena jaraknya dekat. Bagi para fotografer, pemandangan lansdcape seperti ini bisa menjadi koleksi potongan-potongan frame yang indah. Hutan Manggrove terbentang luas.

Matahari bergerak semakin ke arah senja. Speedboat mengarah ke tujuan terakhir di Pulau Tekenang. Dari kejauhan rumah-rumah kayu berpenghuni, keramba ikan, dan MCK kayu. Di sinilah Pemkab Kapuas Hulu dan pihak Taman Nasional Danau Sentarum menyediakan Pusat Informasi dan Riset Lapangan Bukit Tekenang beserta penginapan. Pulau Tekenang sudah masuk di Kecamatan Selimbau, tepatnya di Dusun Parit, Desa Dalam. Ia berada dalam pengawasan Seksi Pengelolaan TNDS wilayah II Semitau, Balai TNDS yang pusat kantornya di Kabupaten Sintang.
Pulau Tekenang
Speedboat bersandar di satu bangunan dengan ukiran khas Melayu, warna kuning hijau. Karena mayoritas penduduk di kecamatan ini didominasi etnis Melayu. Di tepi-tepi bibir daratan berpasir, bangkai motor bandung, bangkai speed boat tak berfungsi lagi dibiarkan saja dihempas air sungai. Satu nelayan sedang memancing di atas sampannya. Jenis-jenis pohon seperti Tembesu, Tembesu Rebung, Bambu, ada juga pohon Rengas, menutupi bangunan Pusat Informasi dan Riset Lapangan TNDS. Suasana sejuk rindang.

TNDS menyediakan berbagai informasi tentang Danau Sentarum dari kehidupan biota flora dan faunanya hingga, kebiasaan sehari-hari masyarakat di seputaran Sentarum. Di bangunan bergaya rumah hujan tropis dominan unsur kayu mulai dari lantai, dan dinding. Pengunjung terasa dekat sekali dengan alam. Ada ruangan pertemuan, ruangan terbuka -memajang foto kehidupan masyarakat Sentarum memukat ikan, menenun manik-manik, dan panorama alam Danau Sentarum bernafas teknik fotografi. Bangunan ini juga beberapa bilik kamar tempat menginap. Tampak bersih dan terawat.

Menuju Wisata Dunia (Bagian 4)
Menjaga Kelestarian Laboratorium Raksasa
Suasana semakin gelap. Tiba waktunya untuk kembali ke Lanjak. Angin malam begitu dingin, ingin secepatnya segera kembali ke Lanjak. Karena angin malam berdampak pada air pasang. Selain itu, secepatnya kembali pulang bila tidak ingin nyasar di tengah-tengah sungai. Suasana terang saja bisa sesat, seperti dialami teman-teman dari media elektronik speedboat yang mereka tumpangi nyasar. Bahkan kami pulangnya pun nyasar di kegelapan malam sungai Sentarum. “Harusnya ada rambu-rambu sepanjang lintasan sungai Danau Sentarum,” pikir saya.

Koes Plus di penutupan FDS I
Saat musim kemarau bulan lalu hamparan padang rumput Danau Sentarum menjadi primadona. Karena air sungai yang menyusut. Biasanya dengan naik motor saja bisa menyusuri luasnya Danau Sentarum. Teringat dengan pengalaman teman tersesat selama dua jam tidak bisa kembali ke Lanjak. “Sampai sekarang orang bisa tersesat, karena tidak jelas mana arah keluar. Kami tersesat hingga 2 jam lebih,” kata Yuliana Reo, seorang PNS di lingkungan Pemkab Kapuas Hulu.

Tantangan di atas disadari oleh Pemkab Kapuas Hulu dan mengolah tantangan itu menjadi bagian daya tarik wisata alam Danau Sentarum ke dunia luar. Pemkab Kapuas Hulu melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, berupaya mempromosikan Danau Sentarum semaksimal mungkin ke dunia luar. Salah satunya dengan rencana membangun Tourism Information Center. “Segala akses informasi tentang wisata Kabupaten Kapuas Hulu bisa diketahui lewat TIC itu,” kata Alexander Rombonang, Kadis Budpar Kapuas Hulu.

Danau Sentarum selain memiliki eksotisme panorama alam yang memanjakan mata, pengunjung yang ingin dalam lagi mengetahui isi dari Danau Sentarum, coba difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Kapuas Hulu. Bagi para peneliti ilmu alam dan sosial inilah laboratorium raksasa. Saya tertarik pada 2 potensi alam yang ada di Danau Sentarum, yaitu Ikan, dan Madu.

Di antara sekian banyaknya spesies jenis ikan di Danau Sentarum, Ikan Arwana menarik perhatian saya. Ikan ini menjadi ikon Kapuas Hulu terutama ikan Arwana jenis Super Red. Di tempat lain, seperti provinsi Papua, ada jenis arwana hijau, di Sumatera Arwana Gold. Untuk menjaga ikan ini dari kepunahan, ada kesepakatan bersama secara lisan dengan tidak membawa pulang ikan ini keluar dari Danau Sentarum. Peraturan secara tertulis, dilarang menggunakan pukat jermal kurang dari 2 inci. Supaya arwana-arwana kecil di perairan Danau Sentarum tetap hidup di habitatnya. “Apalagi menggunakan sentrum, masyarakat di sana sudah lama menjaga nilai-nilai kearifan lokal untuk menjaga kelestarian Ikan Arwana,” kata Alexander, yang baru dua bulan menjabat menjadi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata ini.

Kemudian madu, di Danau Sentarum, madu-madu asli dari pohon-pohon sekitar Danau Sentarum menjadi favorit bagi masyarakat sekitar. Bahkan menjadi buah tangan bagi pengunjung luar Kapuas Hulu.

Rasa madu dari lebah-lebah itu biasanya berbeda-beda. Terasa manis sekali bila musim padi tiba, bila pahit karena lebah-lebah lebih memilih menyimpan madunya di pohon Pukat. Kalau rasa madu asam-asam, lebah-lebah itu mengkonsumsi durian sebagai sumber makanannya. “Ada asosiasi PICIA, yang merupakan kelompok petani-petani lebah di sepanjang aliran sungai Danau Sentarum. Madu Kapuas Hulu dari Danau Sentarum sudah mendapatkan Sertifikasi Nasional dengan ISO Quality Control,” ucapnya. Namun, dalam 2 tahun ini gagal panen karena perubahan iklan. Salah satu cara supaya tetap bertahan produksi lebah dan madu Danau Sentarum, berbagai NGO lokal dan luar negeri seperti Riak Bumi dan Cifor –Bogor, membantu kelestarian manisnya madu Sentarum.

Kekayaan alam Danau Sentarum lebih banyak lagi selain ikan Arwana dan Madu yang ke depannya menjadi produk-produk unggulan pariwisata Kapuas Hulu dan bahan penelitian bagi para akademisi. Terpenting adalah, masyarakat setempat tuan di atas tanah sendiri. Masyarakat setempat bukan penonton saja melihat speed-speed turis melintas di depan rumah terapung mereka, tetapi melek pariwisata dengan potensi yang ada.

“Masyarakat menjadi tour guide lokal, mampu berbahasa Inggris memperkenalkan daerah di sini,” ujar Alexander. Program pelatihan belajar bahasa Inggris dan pengetahuan wisata sudah dilaksanakan 11 Desember 2011 lalu. Tour guide lokal iu juga, nanti kata Alex mendapatkan kartu driver speed boat bersertifikasi.

Sebelumnya sudah dijalankan Konsep Desa Wisata di Desa Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu. Desa itu diharapkan menjadi cerminan bagi desa-desa lain yang ingin desanya menjadi desa wisata. “Menjual jasa pariwisata memang tidak mudah, tapi paling sederhana menjual jasa pariwisata dengan selalu menjaga kebersihan dan kenyamanan wisatawan,” terangnya.

Kebersihan memang menjadi problema dunia wisata yang ada di Indonesia. Perhatian kebersihan pun menjadi sorotan wisatawan lokal pada Danau Sentarum yang menuju destinasi wisata dunia, dan laboratorium raksasa. Murniati, warga Putussibau menyayangkan keindahan pulau Melayu yang harus kotor karena banyak sampah minuman kalen, botol minuman keras, plastik-plastik snack. “Daya tarik wisata Danau Sentarum bisa berkurang karena tidak optimal pengelolaannya,” kata Murniati.

Ada satu pepatah dari Bumi Uncak Kapuas, “Minum air Kapuas, pantang tidak kembali”, pepatah itu bisa tidak berlaku bila potensi alam Danau Sentarum tidak dirawat sebaik mungkin. “Saya suka pemandangan Danau Sentarum, apalagi makan duriannya. Rasanya lebih enak dibandingkan Durian Bangkok. Saya akan kembali tahun depan, tapi pesan saya, jangan sampai kekayaan alam itu rusak oleh kita sendiri,” kata Yon Koeswoyo, personil band Koes Plus saat konser di penutupan Festival Danau Sentarum 1. 

Koleksi foto: Viodeogo

Comments

  1. Mas sya minta tolong infokan agen madu di danau sentarum yg bisa antar ke pontianak...
    Terimakasi.
    Mohon info y...?

    ReplyDelete

Post a Comment