Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
![]() |
| Rumah betang Sungulok Apalin Foto: Viodeogo |
Situs budaya sejak nenek moyang kini bukan saja diilhami sebagai
peninggalan sejarah yang patut dilestarikan oleh masyarakat yang mendiami
keberadaan situs itu. Dinamika perkembangan zaman yang terus berubah dari waktu
ke waktu membuat perubahan orientasi. Situs budaya kini memiliki nilai
komersil.
Lian (43 tahun), mengambil microphone, segala mata tertuju pada dirinya.
Dengan coret-coretan kecil dari kertas HVS yang dilipatnya menjadi persegi
empat, ia keluarkan uneg-unegnya. “Rumah betang ini terpanjang, terkenal,
tertinggi. Ada satu lagi, terkumuh,” katanya dengan nada yang tinggi.
Kacamatanya melorot.
Walaupun dengan predikat Rumah Betang Sungulok Apalin yang sudah
terkenal hingga mancanegara itu, tetap saja rasa sedih bercampuk aduk dengan
rasa marah pada dirinya melihat kondisi nyata rumah adat masyarakat Adat Dayak
Tamambaloh itu. Dengan penggunaan dwi bahasa, Banuaka dan Bahasa Indonesia,
Lian utarakan maksudnya.
“Cobalah, kalau saya buang kulit durian dengan benar, nanti tetangga
yang lain anggap saya sok bersih. Ada anjing yang buang air, saya bilang sama
pemiliknya, tapi justru tersinggung kepada saya,” Lian mengumukakan
kepeduliannya menjaga kebersihan di rumah betang itu.
“Saya sebenarnya malu jika pengunjung datang, karena kumuh rumah betang
kami,” kata Lian.
Semua terbisu mendengar nada
kesal dari Lian sore itu, Minggu (5/2) di teras tepat di depan bilik Rumah
Betang Sungalok Apalin nomor 2 bernama Sikin.
Pada sore cerah itu, sedang dilaksanakan sosialisasi pengembangan
Ekowisata di Desa Sungai Uluk Palin, Kecamatan Putussibau Utara. Lokasinya di
Rumah Betang Sungulok Apalin. Jarak tempuh dari Putussibau, ibukota Kabupaten
Kapuas Hulu ke Desa Uluk Palin, 43 menit.
Desa Uluk Palin terpilih menjadi salah satu dari 3 desa yang mendapat
program PNPM Pariwisata. Lewat program ini, Desa Uluk Palin akan mendapat dana
bantuan dalam satu tahun Rp. 75-150 juta untuk pengembangan ekowisata seperti
bantuan sanggar, jalan akses objek wisata, dana untuk kelompok pengrajin, dan
dana bantuan pariwisata. Desa lainnya seperti Desa Melemba Kecamatan Batang
Lupar, dan Dusun Sadap Kecamatan Embaloh Hulu.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu memasukkan Desa Uluk Palin sebagai
salah kunjungan objek wisata utama wisatawan dari dalam dan luar negeri ke
Kapuas Hulu. Rumah betang Sungulok Apalin menjadi tujuan utama.
Hadir langsung pada sosialisasi itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten
Kapuas Hulu, Drs. Alexander, MMA,
Anggota DPRD Kapuas Hulu, Braun, Camat Putussibau Utara, Ledung, S.Sos,
Kades Uluk Palin, Edy BS, Perwakilan WWF-Indonesia-Kalimantan Barat, Hermas.
Kekecewaan terlontar dari kata-kata penyelenggara, yang diundang harusnya datang di sosialisasi itu, adalah
Dinas Kesehatan, dan Dinas Perdagangan, Industri, dan Koperasi Kabupaten Kapuas
Hulu. Tak ada satupun yang datang hingga bawahan.
Padahal menuju tujuan ekowisata sampai pada tingkat kebersihan, pengananan kesehatan, hingga bagaimana mengemas produk hasil handycraft bernilai ekonomis, bagi warga Desa Uluk Palin.
Padahal menuju tujuan ekowisata sampai pada tingkat kebersihan, pengananan kesehatan, hingga bagaimana mengemas produk hasil handycraft bernilai ekonomis, bagi warga Desa Uluk Palin.
Rumah Betang Sungulok Apalin didirikan pada tahun 1941. Tahun itu
dijadikan tahun resmi rumah betang itu resmi dibangun. Sebelumnya posisi rumah
betang tersebut, tidak seperti sekarang ini yang langsung menghadap Sungai Uluk
Palin. Dulunya lumayan jauh dari sungai.
Panjang bangunan mencapai 240 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 7-8
meter. Di Kalimantan Barat, inilah rumah betang paling panjang, paling tinggi
dari tanah, dan paling tua didirikan.
Dan rumah betang yang masih menggunakan pondasi kayu dari Belian. Kayu dengan kekuatan nomor satu dalam jenis pepohanan. Orang biasa menyebutnya, kayu besi.
Dan rumah betang yang masih menggunakan pondasi kayu dari Belian. Kayu dengan kekuatan nomor satu dalam jenis pepohanan. Orang biasa menyebutnya, kayu besi.
Ada 53 bilik dengan jumlah kepala keluarga 137, data sensus tahun 2008
Laki-laki sebanyak 538 orang dan perempuan 278 orang.
Juru Pelihara Situs
![]() |
| Foto: Viodeogo |
Dari jalan raya arah Putussibau, gerbang bertuliskan Desa Uluk Palin
tidak terlalu jelas kelihatan secara sekilas. Penyebabnya tulisan Uluk Palin
telah kusam. Sekitar sekilometer, sebelah kiri berdiri kokoh gedung Sekolah
Dasar. Bentuknya berbeda sama sekali dengan gedung sekolah pada umumnya. Gedung
itu menggunakan ciri khas arsitektur rumah betang.
Sebentar lagi, saya tiba di Rumah Betang Sungulok Apalin. Setelah
memarkir mobil tumpangan, di mana rumah betang itu, pikir saya. Teman media
lain, menunjuk rumah betang itu. Pohon-pohon kelapa, enau, dan jenis pohon lain
lebat berjejer menghalangi rumah raksasa tersebut.
Ada sekitar 20 meter sebelum naik tangga menuju rumah betang tersebut.
Di pelataran kanan 2 perempuan menganyam manik-manik menjadi gelang, dan
kalung. “Bang, beli kalungnya,” kata seorang ibu, matanya mengarah pada saya,
sambil ia mengeluarkan beberapa gelang.
Setelah beberapa melangkah, saya benar-benar kaget ketika mata tertuju
tepat di depan saya. Tinggi dan panjang rumah betang itu. Rumah Betang Sungulok
Apaling ini begitu tinggi dan panjang.
Hermas, dari Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH) membisikkan
kepada saya, pengalaman dua orang bule yang 2 minggu lalu dibawanya. Hermas
Tour Guide berlisensi resmi. Asli kelahiran dari Kapuas Hulu, memiliki darah
orang tua dari etnik Dayak Tamambaloh.
“Pas naik tangga, mereka katakan
adventure,” kata Hermas. Kemiringan tangga setinggi 7-8 meter itu hampir 180
derajat. Hanya satu tangga kayu belian
warna hitam pekat untuk pijakan-pijakan kaki menuju ke atas. Kedua sisi kiri
kanan membentang kayu untuk pegangan tangan. Seutas tali tambang panjang
disimpul dari atas teras rumah betang ke posisi tengah tangga kayu belian
supaya tangga semakin kokoh. 71 tahun belum berubah posisi tangga itu.
Lantai terbuat dari kayu-kayu tembesu. Paling depan batang-batang kayu
kecil membentang di teras setiap depan bilik. Kayu-kayu itu ada yang dijadikan
gantungan jala ikan, bubu –anyaman bambu menangkap ikan, tempat sandar
tikar-tikar yang berfungsi menjemur padi.
Atap rumah betang dari kulit kayu. Beberapa seng menjadi atap, terkesan
merubah keaslian atap kayu itu. Keranjang-keranjang beranyaman bambu mengangkat
hasil panen padi diletakkan di atas atap. Mereka naik dengan gunakan tangga di
dalam untuk menyimpan keranjang-keranjang itu. jumlahnya lebih 10 keranjang
untuk 1 bilik saja.
Setiap bilik di atas daun pintu tepat di bawah ventilasi tertulis nama
kepala keluarga. 1 bilik didiami 3-4 kepala keluarga. Kepala keluarga di rumah
betang Sungulok Apalin yang mendiami setiap bilik masih menganut strata atau
tingkatan sosial.
Di bilik pertama, dimulai dari hulu rumah betang ditempati seorang
keturunan Samagat –bangsawan bagi suku Dayak Tamambaloh. Pemilik bilik itu
seorang Temenggung bernama Moses Salo. Bilik II ditempati kepala keluarga
bernama Kantuk Soeka, dan seterusnya setiap nama kepala keluarga yang dituakan
namanya tertulis di kertas print.
“Itu orangnya, Temenggung Moses Salo,” Hermas tunjukkan orang yang
dimaksud itu kepada saya. Orangnya menggunakan kacamata, gagang warna keemasan.
Mukanya agak serius. Sesuatu ingin diungkapkan.
Ia ditunjuk sebagai juru pemelihara Rumah Betang Sungulok Apalin oleh
perangkat desa. Tapi Moses mengakui, jabatan itu begitu berat diembannya.
Alasan sederhana, ia mengeluh warganya susah sekali menjaga kebersihan rumah
betang itu.
Mukanya tampak kurang begitu bersemangat. “Kami selama ini acuh tak
acuh terhadap lingkungan, karena minim pemahaman tentang lingkungan sekitar,”
akuinya. Ia tidak ingin, rumah betang yang ia tempati menjadi Ter-Ter-Ter dan
Ter. Terkenal-Tertinggi-Terpanjang-Terkumuh.
Mengemas Ekowisata
![]() |
| Foto: Viodeogo |
Temenggung Moses
Sole, tidak serta merta menyalahkan warganya. Dia pun menyadari sepenuhnya,
kurang proaktif setelah ditunjuk sebagai Juru Pelihara situs budaya Rumah
Betang Sungulok Apalin. “Saya minta maaf, bila saya lebih menghabiskan waktu di
Kota Putussibau. Tahun 2012 ini saya berjanji untuk tetap berada di sini,
bersama-sama mengembangkan wisata kita,” janji Moses.
Belum lama ini, 70 orang dari negara bagian Serawak Malaysia
mengunjungi rumah betang ini. Masing-masing mendokumentasikan setiap momen
berada ada baik dengan kamera saku atau dengan kamera video. Mereka takjub
dengan adanya rumah betang ini.
Lebih
mengagetkan lagi, rumah betang ini, Moses berkisah merupakan bukti sejarah
kelam masa lampau leluhur masyarakat Dayak Iban Malaysia dengan Dayak Banuaka
Tamambaloh. Pernah terjadi pertumpahan darah.
Seiring berpacunya jarum jam, para sebagian orang-orang dari Serawak yang merupakan Dayak Iban Malaysia itu memiliki ikatan batin saat berada di rumah betang tersebut.
Seiring berpacunya jarum jam, para sebagian orang-orang dari Serawak yang merupakan Dayak Iban Malaysia itu memiliki ikatan batin saat berada di rumah betang tersebut.
“Mereka ingin
ada tugu atau prasasti perdamaian di rumah betang ini, sebagai bukti sejarah
Dayak Iban dan Dayak Tamambaloh. Nanti mereka di sana juga ingin membangun tugu
perdamaian,” kisah Moses.
Kedatangan para
turis Serawak, menjadi bukti antusias mereka memilih rumah betang Sungulok
Apalin sebagai kunjungan wisata mereka. Padahal ada rumah betang lain di Kapuas
Hulu. Diprediksi Dengan dibukanya Pintu Lintas
Batas, antara Indonesia-Malaysia di Kecamatan Badau, akan lebih banyak lagi
turis dari mancanegara yang datang dari Malaysia melanjutkan perjalanan ke
Kapuas Hulu.
Bila ingin
merasakan sensasi tantangan menyusuri hutan rimba di Kapuas Hulu, biasanya turis-turis
mancanegara menginap di rumah betang 1 malam. Hermas berkisah sebagai tour
guide setelah tracking berjalan kaki menyusuri
belantara hutan satu hari penuh, berjalan kaki dimulai dari Sibau dilanjutkan
ke Nanga Awin berhenti di Uluk Apalin.
“Mereka
beristirahat di Rumah Betang ini. Berbaur bersama penghuni Rumah Betang
Sungulok Apalin ini,” kata Hermas. Turis-turis menonton sekelompok
pemuda-pemudi menari, keesokkan harinya turis diajak mengayam manik-manik.
Yang menarik,
kalau musim panen tebu, Hermas mengajak turis melihat dari dekat pembuatan
Papa’ dibaca Papak -air minum terbuat dari tebu dicampur kulit kayu yang dimasak. “Minuman
ini sungguh memabukkan,” Hermas mencoba mengingatkan kepada saya, saat memesan
1 botol untuk dibawa pulang.
Benar saja, saya coba 2 gelas mineral, kepala mulai terasa bengkak
kepala. Rasanya manis seperti bram bali, tapi lebih encer. Kelat di
tenggorakkan. Harga 1 botol dijual Rp. 25 ribu. Sayang sekali bulan Februari
ini bukan musim panen. Nanti di bulan Maret-April adalah masa panennya.
Minuman Papa’ menjadi salah satu produk unggulan dan khas wisata
dari Uluk Palin. Namun, pengemasannya yang masih asal menempatkan di botol apa
saja yang membuat produk ini tidak memiliki nilai jual tinggi sebagai buah
tangan.
Alexander Rambonan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
mencontohkan masyarakat Bali yang bisa menjadikan minuman tradisional Bram Bali
menjadi oleh-oleh unggulan. “Kalau Bram Bali, sudah dikemas dalam bentuk botol
dan cap. Kemasan dibuat menarik sebagai oleh-oleh, dengan dibuat keranjang,”
kata Rambonang.
Saya coba buktikkan perkataan Kepala Dinas, bagaimana warga
Sungulok Apalin menjual Papa’. Saya katakan pada Hermas tolong pesan minuman
itu. Hermas memanggil seorang pemuda pesan 1 botol Papa’. Pemuda itu kembali
kepada Hermas tidak ada persedian botol. Tak lama berselang, ia membawa botol
bermerk Aquarin ukuran 1500 ml. Tidak ada stok botol khusus yang disediakan
oleh mereka.
Konsep Ekowisata memang belum maksimal diterapkan di Sungulok
Apaling. Karena pemahaman masyarakat yang masih belum tahu dengan istilah
tersebut. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu memiliki kewajiban membina dan
mengerahkan warga di sini.
Alexander Rambonang katakan, ke depan harus ada gerakan terpola. Ia
katakan, pariwisata adalah suatu kegiatan yang bertumpu pada hal yang bisa
menarik orang untuk datang. Kenapa akhirnya Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu
menetapkan rumah betang ini menjadi situs.
Kini banyak rumah betang mulai bermuncul-munculan meminta kepada pemerintah kabupaten supaya disituskan. Tentu pemerintah tidak bisa menetapkannya menjadi situs.
Kini banyak rumah betang mulai bermuncul-munculan meminta kepada pemerintah kabupaten supaya disituskan. Tentu pemerintah tidak bisa menetapkannya menjadi situs.
“Juru pelihara
misalnya bukan semata-mata ia yang yang menjaga. Ia sebagai simbol fungsional
ke pemerintahan. Masyarakat jugalah yang melindungi bersama-sama,” terangnya. Ia
tegaskan, rumah betang Sungulok Apalin telah ditetapkan menjadi situs oleh
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu maka pertama, tidak ada satupun orang mengubah
bentuk atau fisik asli, bila renovasi harus ada perizinan.
Boleh direhab,
tapi bila mengganti kayu-kayu asli, dan atap menjadi semen itu tidak boleh.
Kedua, sebagai unggulan wisata harus memperhatikan segi penataan lingkungan,
bersih luar dalam, tertata dengan baik.
“Saya saran
tatalah kolong di bawah ini, jadi tempat parkir, tempat santai. Dari pada
kumuh. Kemudian, supaya terlihat dari depan tidak ada bangunan itu, supaya
orang bisa berfoto sebagai latar belakang,” tunjuknya, seindah apapun rumah
betang tapi tidak dapat dinikmati sia-sia.
Menghargai Budaya Begitu Juga Menghargai Diri Sendiri
![]() |
| Foto: Viodeogo |
Alexander Rombonang
memberikan gambaran, pertunjukkan atraksi agar menarik perhatian pelancong
wisata, tidak hanya sekedar lenggak-lenggok tarian saja, tetapi juga seperti
membuat kerajinan tanga. Sebutlah membuat manik-manik, anyaman tikar, membuat
pulut, dan membuat Papa’.
“Saya walaupun
generasi Banuaka belum tentu bisa menganyam tikar ini,” kata Rombonang.
Ada kesan, dana
menjadi penghalang segala-galanya untuk mewujudkan atraksi di atas. Rombonang
tegaskan pada masa eranya masih kecil, ada saja keramaian di Desa Martinus,
Kecamatan Embaloh Hulu. Ia kala itu duduk di bangku SMP. Di sana masyarakat,
dan ia menyakini begitu juga di Desa Uluk Palin tidak perlu menunggu
berlama-lama biaya dari pemerintah.
Tapi sekarang
justru masyarakat lebih mudah memperoleh dana. Tahun 2012 terdapat program PNPM
Pariwisata, sebesar Rp. 75 sampai Rp. 170 juta bagi Desa Uluk Palin untuk
ekonomi kreatif seperti pengembangan pembuatan manik-manik, pengemasan botol
minuman Papa’, sanggar menari, dan musik.
“Pergunakan uang
itu semaksimal mungkin,” saran Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten
Kapuas Hulu yang baru beberapa bulan dilantik menjadi Kepala Dinas tersebut.
Belum lama ini Sungulok Apalin mendapat bantuan sebesar 5 juta untuk
pembinaan kerajinan manik-manik.
Camat Putussibau Utara, Ledung menyampaikan agar Rumah Betang
Sungulok Apalin direnovasi. Hal itu ia katakan dihadapan Menteri Perumahan
Rakyat, di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. “Kementerian Perumahan Rakyat
langsung merespon agar Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu membuat proposal
renovasi diteruskan ke Provinsi,” ujarnya.
Ledung ingin sekali, dengan mendapat perhatian serius dari
pemerintah, masyarakat Sungulok Apalin memiliki komitmen menjaga kebersihan. “Sifat
kegotong royongan mulai luntur, harus dikembalikan kembali. Rumah betang ini
harus tetap terjaga kebersihannya,” kata Ledung.
“Rumah betang ini jangan sekedar simbol saja tetapi harus ada
pengelolaan serius dari warga sebagai penghuni sejatinya,” tambahnya.
Hermas mengatakan ekowisata, bertanggung jawab secara ekonomi, ekologi,
dan sosial. Secara ekonomi, pariwisata menjadi bisnis bagi masyarakat setempat.
Secara ekologi, ramah lingkungan, tidak membangun gedung-gedung baru. Secara
sosial, ekowisata menjadi suatu kesempatan bagi masyarakat sendiri menggali
nilai-nilai budaya, dan adat istiadat sehingga lebih tertarik lagi untuk
diangkat dalam bentuk penelitian.
“Saya tidak suka dengan konsep ekowisata yang membangun resort. Itu untuk
para bos-bos, sedangkan Ekowisata tidur pakai kelambu,” ujarnya. Ekowisata itu
jangan berpikir ada kamar mewah, tetapi dengan bersih dan nyaman saja sudah
cukup.
Di Kapuas Hulu, Ekowisata terdapat di 10 tempat yaitu di Nanga Potan,
Tanjung Lokang, Bali Gundi, Bungan Jaya, Mata Lunai, Teluk Aur, Meliau, Nanga
Awin dan Uluk Palin sendiri.




Makasih banyak info rumah betang nya, sangat membantu dlm tugas akhirku...
ReplyDeletehehehe ditunggu artikel2nya lagi, bsk2 ajarin nulis beginian ya bang :)
Sukses selalu
Iya Dian, terimakasih jg sdh membaca laporan itu.
DeleteSelamat menikmati suguhan rumah betang Ulok Palin.
Kalau sudah jdi tugas akhirnya, boleh dilihat yah.
Sukses jg.
Hehehe OkeOke gampang, ntar kalo udh jadi bisa diliat di rumah, minta do'anya aja biar lancar...
Deleteamiiiin
hai pak viodeogo saya tertarik jalan2 ke Rumah Betang Sungulok Apalin. bapak ada teman disana, kalau ada saya minta no hpnya. makasih pak.
DeleteDear pak Rusli,
ReplyDeleteIni email sy viodeogo@gmail.com. Saya kirim kontak melalui email.