Menuju Wisata Dunia
(Bagian 1)
Menuju Wisata Dunia (Bagian 2)
S aat musim kemarau
bulan lalu hamparan padang rumput Danau Sentarum menjadi primadona. Karena air
sungai yang menyusut. Biasanya dengan naik motor saja bisa menyusuri luasnya
Danau Sentarum. Teringat dengan pengalaman teman tersesat selama dua jam tidak
bisa kembali ke Lanjak. “Sampai sekarang orang bisa tersesat, karena tidak
jelas mana arah keluar. Kami tersesat hingga 2 jam lebih,” kata Yuliana Reo,
seorang PNS di lingkungan Pemkab Kapuas Hulu.
FDS Menuju Gerbang
Wisata Internasional
Viodeogo
Diterbitkan Borneo Tribune
Saya meliput
penyelenggaraan Festival Danau Sentarum yang pertama kali digelar 28 November
-2 Desember 2011 lalu di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar. Saya ingat dari bacaan
dan tayangan televisi, di Papua memiliki Festival Asmat, di Kabupaten Asmat.
Suatu festival adat memperkenalkan istiadat masyarakat Papua. Ia juga festival
yang menunjukkan panorama alam kepada para pengunjung wisata. Kini wisata itu,
menjadi salah satu agenda tujuan para pelancong wisatawan dalam negeri dan luar
negeri.
Di Vietnam terdapat Ha
Long Bay, dengan luas sekitar 1.500 persegi, berserakan 1.996 pulau karang,
kawasan itu tercatat dalam warisan UNESCO. Di dalamnya, terdiri dari
pulau-pulau dengan 435 jenis tanaman, 22 spesies hewan laut, dan 76 spesies
burung, 28 varietas mangrove, 315 spesies ikan, serta 545 spesies
hewan invertebrate dan 234 jenis koral.
Kedua tempat di atas
sudah terkenal keberadaannya sebagai tujuan destinasi wisata baik bagi
Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah negara Vietnam. Gabungan panorama alam
dan kemampuan masyarakat mengolah kebiasaan turun temurun dari para leluhur di
Asmat dan Ha Long Bay ada di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Pemerintah
Kabupaten Kapuas Hulu kini punya gebrakan peluang baru, supaya mata dunia
tertuju mau datang ke Kapuas Hulu. Di kecamatan Batang Lupar, terbentang luas
lahan basah dan segala isi flora dan faunanya. Namanya Danau Sentarum. Lewat
kawasan dengan luas 132.000 ha itu, lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,
Pemkab Kapuas Hulu ingin menunjukkan Danau Sentarum sebagai salah satu kawasan
wisata untuk dikunjungi.
Lewat Festival Danau
Sentarum, Pemkab Kapuas Hulu ingin memperkenalkan 500 jenis tumbuh-tumbuhan,
260 jenis ikan, 300 jenis burung, 11 jenis kura-kura air tawar, 3 jenis buaya
dan kekayaan adat istiadat dan budaya masyarakat setempat dari etnis Dayak
Tamambaloh, Iban, Kantuk, dan Melayu kepada mata nasional dan internasional.
Ia adalah puncak dari
kegiatan serangkaian promosi Pemkab Kapuas Hulu mengenalkan Danau Sentarum.
Sebelumnya dimulai dari mengenalkan Desa Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu sebagai
Desa Wisata. Dengan konsep home stay, wisatawan atau peneliti yang ingin tahu
cara memukat ikan, merajut manik-manik menjadi gelang, kalung, baju, menari,
dan bermain musik adat Iban ada di tempat itu. Kemudian diadakan lokakarya
Pengembangan Ekowisata dan Lingkungan Air Kawasan Danau Sentarum dan Taman
Nasional Betung Kerihun.
Tak tanggung-tanggung
Dirjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI hadir. Malah Kepala Balai
Taman Nasional Danau Sentarum, Ir. Soewignyo menapak kakinya di Kapuas Hulu.
Dalam setahun, sedikit sekali Soewignyo berada di Kapuas Hulu. Ia berada di
Sintang, tempat kantor kerja TNDS. Semestinya Danau Sentarum di Kapuas Hulu,
tiap hari paling tidak ia berada di Kapuas Hulu. Pemkab Kapuas Hulu dibikin
geram lokasi kantor TNDS di Sintang. Jawaban lokasi TNDS tidak bertempat di
Kapuas Hulu, hanya bisa wartawan dapatkan dari suara Soewignyo.
Kehadiran Soewignyo
ibarat oase di tengah padang gurun pasir yang tandus dan kering kerontang.
Kantor TNDS harus berada di Putussibau memang menjadi harapan besar. “Tahun
2012, kantor TNDS akan berada di Putussibau. Kami menggunakan kantor sementara
TNBK,” kata Soewignyo. Selama ini, kantor TNDS di Sintang, karena Surat
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 34/Kpts-II/4 Februari 1999 dan
di tanggal 1 Februari 2007 melalui Permen Kehutanan No. P.03/Menhut-II/2007,
UPT Kantor Balai TNDS di Kabupaten Sintang.
Dengan luas 132.000 Ha,
TNDS memerlukan seorang ‘Bapak’ yang tidak jauh dari anaknya. Dengan begitu,
Pemkab Kapuas Hulu mudah melakukan koordinasi dengan pihak TNDS. Bupati Kapuas
Hulu, AM. Nasir mengemukakan isi hatinya kepada peserta lokakarya waktu itu,
“Kami tidak ingin Kapuas Hulu yang melimpah hasil alamnya, tetapi masyarakatnya
berada di garis kemiskinan, tanpa perhatian dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Raup Rupiah Industri Pariwisata
![]() |
| Lanjak |
Banyak yang bilang
menuju Kabupaten Kapuas Hulu begitu melelahkan karena perjalanan yang begitu
jauh. Hal itu disadari Pemkab Kapuas Hulu yang hendak menjual jasa pariwisata
Danau Sentarum sebagai salah satu cara memperoleh PAD asli daerah. Berbagai alternatif
transportasi, disediakan pengunjung menuju Kapuas Hulu. Wisatawan dengan jiwa
berkantong backpaker ada dua cara menuju Kapuas Hulu dari Pontianak.
Pertama dengan naik Bis. Tersedia bis dengan fasilitas
AC Eksekutif, dengan harga Rp 250 ribu. Kursi dapat direbahkan. Kelas ekonomi
harga bervariatif mulai Rp 100 – Rp 125 ribu. Era mobil Taxi saat ini, pun
dapat dicarter, bervariasi harganya, dari Rp 300 ribu – Rp. 400 ribu. Jarak
Pontianak-Putussibau, 14 Jam. Dengan menggunakan Bis dan Taxi, memang kelelahan
menyebar dari leher, punggung, dan bokong.
Alternatif kedua,
dengan menggunakan pesawat terbang Pontianak - Putussibau, kurang lebih 40
menit menggunakan pesawat terbang Trigana Air atau Kalstar. Harganya dari Rp
700 ribu. Danau Sentarum terletak di Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, jadi dari
Putussibau ke Danau Sentarum wisatawan naik lagi kendaraan selama 3 jam.
Tapi biasanya
alternatif lain, menggunakan speedboat, dari Sintang-Semitau-Danau Sentarum
jaraknya lebih dekat 4 jam saja. Biaya kurang lebih sama dengan naik burung
mesin. Lewat akses ini, wisatawan bisa langsung menikmati sungai Kapuas dengan
panorama alam dan rumah-rumah penduduk di tepi sungai.
Menuju Danau
Sentarum dengan jalur darat Putussibau-Lanjak boros bensin dan waktu. Lalu dari
Lanjak ke dermaga speedboat atau sampan membawa para pelancong wisata menuju
baru Danau Sentarum. Ini kata Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, Drs. Alexander
Rombonang, MMA, rute singkat sesungguhnya.
“Kalau jalan bagus dari Desa
Kedungkang hanya 18 kilo tapi 8 kilo lagi belum bisa dilewati, karena jelek
berupa tanah. Desa Kedungkang sebelum Lanjak, karena kondisi jalan jelek mau
tidak mau ke Lanjak dulu. Di Desa Kedungkanlah pemandangan indah Danau
Sentarum bisa terlihat langsung,” kata Rombonang.
Pada Festival Danau
Sentarum yang akan datang, akses jalan harapannya bisa langsung ke Desa
Kedungkang. Jadi Lanjak sebagai information center, pameran wisata, pusat
perekonomian kreatif berbasis kerakyatan; penjualan souvenir, festival, hingga
sajian khas masyarakat Dayak Iban, Tamambaloh ber-home stay ria di rumah-rumah
penduduk.
FDS I yang lalu, Lanjak
bagaikan kerumuman pesta kunang-kunang dalam waktu 5 hari. Kesepian berubah
menjadi keramaian saat FDS. Bila pagi hari sebelum FDS, Lanjak hanya rutinitas aktivitas
pelajar berangkat sekolah, warga berdagang, mobil-mobil ilegal plat Malaysia
wara-wiri membawa barang dagangan dari kecamatan Badau. Kini, selama FDS,
masyarakat Kapuas Hulu tertuju pada Lanjak. Tumpah ruah tanpa kenal waktu,
Lanjak ibarat gula yang dikerubumi semut. Mobil-mobil legal Malaysia masuk secara
resmi pun mudah dijumpai.
Menuju Wisata Dunia (Bagian 3)
Sensasi Getaran Ombak Tour
Cruising
Pesona danau lahan basah ini memikat hati bagi para pelancong menyusuri
aliran sungai di kawasan Danau Sentarum. Penyelenggaran Festival Danau Sentarum
I, menambah keingintahuan sebagian orang datang melihat dari dekat Danau
Sentarum. Panitia mencoba memperkenalkan kepada publik keanekaragaman Danau
Sentarum yang selama ini belum pernah tahu tentang Danau Sentarum. Saat FDS I,
panitia membuat konsep Tour Cruising berlabuh dari satu pulau ke pulau lainnya
yang ada di danau itu dengan menggunakan speedboat.
![]() |
| Floating House di Pulau Melayu |
Catatan bagi pengunjung lain waktu ingin menghabiskan waktu seharian
berada di Danau Sentarum perhatikan cuaca. Komunikasikan keinginan dengan driver speedboat yang membawa hendak membawa kita. Saat tour cruising, cuaca di Lanjak, sedang
tidak bersahabat. Mendung saja, gelombang air sungai Danau Sentarum mulai naik.
Silih berganti cuaca langit Desa Lanjak menemani kami yang hendak merasakan
tantangan ber-tour cruising ria.
Tujuan pertama singgah di Pulau Melayu, pulau tak berpenduduk terletak di
tengah hamparan sungai Danau Sentarum.
Sebelum mencapai Lanjak, ada yang namanya Tanah Genting Lanjak. Ia
merupakan tanjakan beraspal. Tepat di titik ketinggian puncak Tanah Genting
Lanjak, panorama Danau Sentarum terlihat. Dan Pulau Melayu, pulau dari 3 pulau
di Danau Sentarum yang kasat mata terlihat dari ketinggian itu.
Saya bersama 3 rekan media massa, asli putra kelahiran Kapuas Hulu.
Lama tinggal di Kota Putussibau, tapi baru pertama kali inilah mereka
mengunjungi Danau Sentarum. Speedboat
yang kami tumpangi membelah sungai Danau Sentarum. Sensasi ombak sungai
Sentarum menerjang sisi-sisi speedboat.
Terjangan ombak semakin kuat, karena di kiri-kanan kami, speed boat membawa
rombongan pengunjung tak mau kalah saling mendahului.
Tetap saja, rasa khawatir
membayangi benak saya. Terlempar di dalam sungai Sentarum dengan kedalaman 4
meter lebih karena hantaman ombak speedboat. Berenang bukan masalah, tetapi alat komunikasi dan kamera selamat
tinggal.
Selama 15 menit, adu kecepatan antar speedboat lain akhirnya mengantar kami sampai di Pulau Melayu.
Pulau ini gersang. Karang-karang batu hitam diselimuti lumut-lumut hijau pulau
itu. Aneka rumbuh-tumbuhan berada di pulau itu. Susah sekali menemukan tempat
untuk duduk bersantai, karena batu-batunya yang curam ke bawah.
Singgah pertama
di pulau itu, pengunjung menyaksikan perlombaan sampan yang diikuti para
pedayung-pedayung seluruh kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Terik panas
matahari, begitu menyengat. Rombongan burung-burung putih terbang rendah di
atas kepala.
Berikutnya menuju Pulau Pandan. Hampir sama seperti dengan Pulau
Melayu, karakteristik dari pulau ini. Pulau tak berpenghuni, dan merupakan
bongkahan batu karang besar. Bedanya, hanya pada kenyamanan untuk menikmati
pemandangan tanpa harus khawatir dengan batu-batu curam seperti di Pulau
Melayu. Di bibir batu tempat speed boat bersandar, ada sebuah Lanting (perahu
berukuran penginapan –floating house
disediakan Pemkab Kapuas Hulu bagi pelancong-pelancong yang ingin menyusuri
sungai Danau Sentarum sambil menginap berhari-hari di atas goyangan air sungai.
Dibandingkan dengan pulau Melayu, di pulau ini terdapat bangunan rumah
tak berpenghuni dan tak terawat. Ada pondok wisata. Konon, bangunan ini milik
Kementerian Kehutanan. Di dalamnya hanya coret-coretan di dinding, dan
kaca-kaca jendela yang pecah di sana sini. Bau pesing.
Menarik dari pulau ini, menjadi tempat masyarakat melakukan sesajian
kepada Sang Maha Pencipta. Saat kami datang, sekelompok ibu-ibu mengelilingi
sesajian untuk satu gundukan batu yang diyakini melindungi Danau Sentarum,
menjaga kehidupan dan kelimpahan hasil sungai seperti ikan bagi masyarakat yang
tinggal di sepanjang aliran sungai Danau Sentarum. Sesajian dari nasi, telur,
dan daging ayam.
Berdiri di bibir daratan Pulau Pandan terbentang hamparan sungai Danau
Sentarum yang begitu luas. Di pulau ini, bukit-bukti hijau yang menglilingi
Danau Sentarum lebih terlihat jelas, karena jaraknya dekat. Bagi para
fotografer, pemandangan lansdcape
seperti ini bisa menjadi koleksi potongan-potongan frame yang indah. Hutan
Manggrove terbentang luas.
Matahari bergerak semakin ke arah senja. Speedboat mengarah ke tujuan terakhir di Pulau Tekenang. Dari
kejauhan rumah-rumah kayu berpenghuni, keramba ikan, dan MCK kayu. Di sinilah
Pemkab Kapuas Hulu dan pihak Taman Nasional Danau Sentarum menyediakan Pusat
Informasi dan Riset Lapangan Bukit Tekenang beserta penginapan. Pulau
Tekenang sudah masuk di Kecamatan Selimbau, tepatnya di Dusun Parit, Desa
Dalam. Ia berada dalam pengawasan Seksi Pengelolaan TNDS wilayah II Semitau,
Balai TNDS yang pusat kantornya di Kabupaten Sintang.
![]() |
| Pulau Tekenang |
Speedboat bersandar di satu
bangunan dengan ukiran khas Melayu, warna kuning hijau. Karena mayoritas
penduduk di kecamatan ini didominasi etnis Melayu. Di tepi-tepi bibir daratan
berpasir, bangkai motor bandung, bangkai speed boat tak berfungsi lagi
dibiarkan saja dihempas air sungai. Satu nelayan sedang memancing di atas
sampannya. Jenis-jenis pohon seperti Tembesu, Tembesu Rebung, Bambu, ada juga
pohon Rengas, menutupi bangunan Pusat Informasi dan Riset Lapangan TNDS.
Suasana sejuk rindang.
TNDS menyediakan berbagai informasi tentang Danau Sentarum dari
kehidupan biota flora dan faunanya hingga, kebiasaan sehari-hari masyarakat di
seputaran Sentarum. Di bangunan bergaya rumah hujan tropis dominan unsur kayu
mulai dari lantai, dan dinding. Pengunjung terasa dekat sekali dengan alam. Ada
ruangan pertemuan, ruangan terbuka -memajang foto kehidupan masyarakat Sentarum
memukat ikan, menenun manik-manik, dan panorama alam Danau Sentarum bernafas
teknik fotografi. Bangunan ini juga beberapa bilik kamar tempat menginap.
Tampak bersih dan terawat.
Menuju Wisata Dunia (Bagian 4)
Menjaga
Kelestarian Laboratorium Raksasa
Suasana semakin
gelap. Tiba waktunya untuk kembali ke Lanjak. Angin malam begitu dingin, ingin
secepatnya segera kembali ke Lanjak. Karena angin malam berdampak pada air
pasang. Selain itu, secepatnya kembali pulang bila tidak ingin nyasar di
tengah-tengah sungai. Suasana terang saja bisa sesat, seperti dialami
teman-teman dari media elektronik speedboat yang mereka tumpangi nyasar.
Bahkan kami pulangnya pun nyasar di kegelapan malam sungai Sentarum. “Harusnya
ada rambu-rambu sepanjang lintasan sungai Danau Sentarum,” pikir saya.
![]() |
| Koes Plus di penutupan FDS I |
Tantangan di atas
disadari oleh Pemkab Kapuas Hulu dan mengolah tantangan itu menjadi bagian daya
tarik wisata alam Danau Sentarum ke dunia luar. Pemkab Kapuas Hulu melalui Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata, berupaya mempromosikan Danau Sentarum semaksimal
mungkin ke dunia luar. Salah satunya dengan rencana membangun Tourism Information Center. “Segala
akses informasi tentang wisata Kabupaten Kapuas Hulu bisa diketahui lewat TIC
itu,” kata Alexander Rombonang, Kadis Budpar Kapuas Hulu.
Danau Sentarum
selain memiliki eksotisme panorama alam yang memanjakan mata, pengunjung yang
ingin dalam lagi mengetahui isi dari Danau Sentarum, coba difasilitasi oleh
Dinas Kebudayaan Pariwisata Kapuas Hulu. Bagi para peneliti ilmu alam dan
sosial inilah laboratorium raksasa. Saya tertarik pada 2 potensi alam yang ada
di Danau Sentarum, yaitu Ikan, dan Madu.
Di antara sekian
banyaknya spesies jenis ikan di Danau Sentarum, Ikan Arwana menarik perhatian
saya. Ikan ini menjadi ikon Kapuas Hulu terutama ikan Arwana jenis Super Red.
Di tempat lain, seperti provinsi Papua, ada jenis arwana hijau, di Sumatera
Arwana Gold. Untuk menjaga ikan ini dari kepunahan, ada kesepakatan bersama
secara lisan dengan tidak membawa pulang ikan ini keluar dari Danau Sentarum.
Peraturan secara tertulis, dilarang menggunakan pukat jermal kurang dari 2
inci. Supaya arwana-arwana kecil di perairan Danau Sentarum tetap hidup di
habitatnya. “Apalagi menggunakan sentrum, masyarakat di sana sudah lama menjaga
nilai-nilai kearifan lokal untuk menjaga kelestarian Ikan Arwana,” kata
Alexander, yang baru dua bulan menjabat menjadi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata
ini.
Kemudian madu, di
Danau Sentarum, madu-madu asli dari pohon-pohon sekitar Danau Sentarum menjadi
favorit bagi masyarakat sekitar. Bahkan menjadi buah tangan bagi pengunjung
luar Kapuas Hulu.
Rasa madu dari
lebah-lebah itu biasanya berbeda-beda. Terasa manis sekali bila musim padi
tiba, bila pahit karena lebah-lebah lebih memilih menyimpan madunya di pohon
Pukat. Kalau rasa madu asam-asam, lebah-lebah itu mengkonsumsi durian sebagai
sumber makanannya. “Ada asosiasi PICIA, yang merupakan kelompok petani-petani
lebah di sepanjang aliran sungai Danau Sentarum. Madu Kapuas Hulu dari Danau
Sentarum sudah mendapatkan Sertifikasi Nasional dengan ISO Quality Control,” ucapnya. Namun, dalam 2 tahun ini gagal panen
karena perubahan iklan. Salah satu cara supaya tetap bertahan produksi lebah
dan madu Danau Sentarum, berbagai NGO lokal dan luar negeri seperti Riak Bumi
dan Cifor –Bogor, membantu kelestarian manisnya madu Sentarum.
Kekayaan alam Danau
Sentarum lebih banyak lagi selain ikan Arwana dan Madu yang ke depannya menjadi
produk-produk unggulan pariwisata Kapuas Hulu dan bahan penelitian bagi para
akademisi. Terpenting adalah, masyarakat setempat tuan di atas tanah sendiri.
Masyarakat setempat bukan penonton saja melihat speed-speed turis melintas di depan rumah terapung mereka, tetapi
melek pariwisata dengan potensi yang ada.
“Masyarakat menjadi
tour guide lokal, mampu berbahasa
Inggris memperkenalkan daerah di sini,” ujar Alexander. Program pelatihan
belajar bahasa Inggris dan pengetahuan wisata sudah dilaksanakan 11 Desember
2011 lalu. Tour guide lokal iu juga, nanti
kata Alex mendapatkan kartu driver speed
boat bersertifikasi.
Sebelumnya sudah dijalankan
Konsep Desa Wisata di Desa Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu. Desa itu diharapkan
menjadi cerminan bagi desa-desa lain yang ingin desanya menjadi desa wisata.
“Menjual jasa pariwisata memang tidak mudah, tapi paling sederhana menjual jasa
pariwisata dengan selalu menjaga kebersihan dan kenyamanan wisatawan,”
terangnya.
Kebersihan memang
menjadi problema dunia wisata yang ada di Indonesia. Perhatian kebersihan pun
menjadi sorotan wisatawan lokal pada Danau Sentarum yang menuju destinasi
wisata dunia, dan laboratorium raksasa. Murniati, warga Putussibau menyayangkan
keindahan pulau Melayu yang harus kotor karena banyak sampah minuman kalen,
botol minuman keras, plastik-plastik snack. “Daya tarik wisata Danau Sentarum
bisa berkurang karena tidak optimal pengelolaannya,” kata Murniati.
Ada satu pepatah
dari Bumi Uncak Kapuas, “Minum air Kapuas, pantang tidak kembali”, pepatah itu
bisa tidak berlaku bila potensi alam Danau Sentarum tidak dirawat sebaik
mungkin. “Saya suka pemandangan Danau Sentarum, apalagi makan duriannya.
Rasanya lebih enak dibandingkan Durian Bangkok. Saya akan kembali tahun depan,
tapi pesan saya, jangan sampai kekayaan alam itu rusak oleh kita sendiri,” kata
Yon Koeswoyo, personil band Koes Plus saat konser di penutupan Festival Danau
Sentarum 1.
Koleksi foto: Viodeogo





Mas sya minta tolong infokan agen madu di danau sentarum yg bisa antar ke pontianak...
ReplyDeleteTerimakasi.
Mohon info y...?