![]() Agus. |
Karet digunting melingkar itu untuk mengikat kain hijau bermotif Telok Belanga sebagai perekat kain agar tidak terlepas dari pinggangnya. “Acaranya kan lama. Nah saya pakai karet ini supaya bisa menahan kain di pinggang saya,” kata Agus kepada Bisnis, Jumat (5/8) malam.
Pria berumur 37 tahun itu, baru saja meraih penghargaan Kalpataru, dari kategori Penyelamat Lingkungan. Sebuah apresiasi prestisius, diberikan kepada perorangan atau kelompok, atas jasa melestarikan lingkungan hidup di Indonesia dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Bersama dengan 9 anggota kelompok pengawas (Pokwas) lainnya, sejak tahun 2000 sampai sekarang, mereka berkomitmen menjaga keberadaan habitat asli ikan arwana jenis super red.
Dari awalnya hanya tinggal 2 ekor saja di danau, kini telah mencapai ribuan ekor ikan berada di perairan zona inti dan pemanfaatan di Danau Lindung Empangau, Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu.
Sebuah ikan bukan sembarang ikan, dengan ukuran mini saja ini memiliki nilai jual hingga Rp2 juta-Rp3 Juta per ekor. Ikan ini menjadi peliharaan sejumlah kalangan sebagai ikan hias dan komoditas ekspor andalan kabupaten tersebut ke sejumlah negara seperti China, Malaysia dan Singapura dan kota-kota besar lain di Indonesia.
Saat bertemu Bisnis, Agus tampak lelah. Pasalnya, dia baru saja tiba di Kota Pontianak dari Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. Sabtu pagi, dia harus kembali ke Desa Empangau guna menghadiri panen raya ikan. Di sana, mereka bakal menjaring belasan ton ikan konsumsi dan arwana.
“Tahun ini bisa sekitar 15-17 ton ikan ada belidak, jelawat, tapah, baong, tengadak, dan ikan sungai lain. Tahun lalu 15 ton, tahun ini mungkin meningkat lagi. Nanti kami jual, di Kecamatan Jongkong. Arwana kalau panen antara 100-120 ekor anakan,” tuturnya.
Agus bersama 8 anggota Pokwas (kelompok pengawas) danau menjaga ketat habitat dari anak dan indukan arwana super red dari tangan-tangan jahil yang secara sengaja ingin mengambil individu ikan bernama latin scleropages formosus dari danau tersebut.
| Panen raya ikan di Danau Empangau, setiap tahun. Photo/WWF Indonesia-Kalbar |
Biaya yang dikeluarkan semuanya untuk sekolah itu melalui donator warga Empangau. Pada 2012, melalui swadaya masyarakat dibangun gedung sekolah tersebut dan honor para guru setiap bulan dipenuhi dari menyisihkan pendapatan penjualan ikan masyarakat.
Hasil itu semua, bukan sekejap saja. Perlu waktu bertahun-tahun mewujudkannya dibarengi kegigihan dan kemauan keras menjaga danau tetap lestari supaya hasil ikan selalu melimpah. Para nelayan di desa itu bahkan ada yang mampu menyekolahkan anaknya kuliah di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Kuncinya, terletak pada penegakan hukum adat. Pada 2016, seorang anggota pokwas danau lindung Empangau kedapatan memasukkan ikan arwana berwarna hijau ke perairan danau tersebut. Sesuai dengan aturan yang disepakati bersama, tidak boleh jenis ikan lain selain super red masuk ke danau. Akibatnya, si anggota dikeluarkan dari kepengurusan, tidak boleh mencari dan memancing ikan di danau selama dua tahun.
Sejak dimulai kesepakatan adat pada 2000 sampai 2015, ada beragam 3 pelanggaran lain selain pelanggaran di atas yang dilakukan masyarakat yakni, mengambil secara sengaja bibit arwana dengan istilah ‘menyedok’, untuk dibawa keluar dari danau itu. Sanksi berat menanti, tak hanya tidak boleh mengambil ikan apapun jenisnya di danau itu. Si pelanggar dikenakan pula denda untuk kas desa jutaan rupiah.
Selain dipagari dengan aturan adat, ada kesepakatan tertulis didasari payung hukum salah satunya melalui Surat Keputusan Bupati Kapuas Hulu No. 6/2001 tentang Danau Lindung Empangau untuk melindungi danau dari keterancaman tangan manusia maka diwajibkan agar para nelayan memperbanyak populasi ikan arwana super red.
Dalam 2 tahun sekali, harus restoking atau pengkayaan populasi ikan di perairan itu. Pengurus dana kali terakhir merestoking ikan pada 2015, dengan mengambil bibit ikan ukuran 15 cm sebanyak 10 ekor.
Sebelum menjadi calon indukkan, tidak serta merta pokwas mengambil bibit itu secara cuma-cuma tetapi mesti menyisihkan Rp250.000 per ekor bibit artinya Rp2,5 juta untuk 10 bibit dan masuk ke kas nelayan desa.
Kemudian, calon indukkan itu dimasukkan ke dalam akuarium khusus hingga 3 bulan lamanya. Setelah itu, ikan dipindahkan ke keramba dengan ukuran lebar 1,5 meter dan panjang 3 meter selama 1 tahun 10 bulan.
Keramba tersebut khusus untuk pembesaran menjadi indukkan ikan. Setelah hampir 2 tahun umur arwana, barulah dilepas kembali ke zona inti danau. Arwana yang dilepas umumnya memiliki ukuran panjang mencapai 50 cm.
PESAN PRESIDEN
Agus tak mengira bakal menerima penghargaan itu karena diserahkan langsung presiden RI. Dia sempat bimbang, pergi atau tidak, 10 hari sebelum terbang ke Jakarta. Pasalnya, mereka sedang mempersiapkan agenda panen raya ikan di desa.
Dukungan dan permintaan dari masyarakat Empangau, akhirnya membuat Agus tetap berangkat ke Jakarta. Saat menerima Kalpataru, dia sempat mengobrol singkat dengan Presiden RI. “Presiden menanyakan asal daerah saya dan berpesan supaya danau kami dijaga selalu dan hasil ikan terus ditingkatkan,” ucapnya.
Hal sama diutarakan dia, saat berjumpa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar. Dia mengingat kembali ucapan menteri Siti, agar Agus bersama masyarakat Empangau menjaga alam sekitarnya sebaik mungkin demi keberlangsungan ikan konsumsi dan arwana di danau.
Terpisah dihubungi, Direktur Kemitraan Lingkungan Ditjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK Jo Kumala Dewi berpesan, kepada Pokwas Danau Lindung Empangau agar selalu mengedepankan kearifan lokal dalam melestarikan arwana dan habitat ikan-ikan lainnya di danau itu.
"Inti makna Kalpataru yang diterima oleh pak Agus dan penduduk di sana bisa menjadi inspirasi dan ditiru oleh masyarakat lainnya di Tanah Air karena telah berjuang melindungi endemik habitat asli. Kami berharap metode alat penangkapan yang dipergunakan tetap ramah lingkungan dan senantiasa menjaga kearifan lokal," tuturnya.
Jo pun berharap area perlindungan arwana di danau tersebut bisa diperluas lagi oleh para pengelola danau agar populasi ikan turut semakin bertambah.
Diterbitkan Bisnis Indonesia.

Comments
Post a Comment