KETAHANAN PANGAN: Panen Rupiah Berkat Padi Hazton

PONTIANAK -- “Kalau hanya dipikirkan tetapi tidak dipraktikkan pasti yang ada rumit. Kami dulu awalnya begitu, sekarang sudah biasa,” kata Rokip, petani kelompok Makmur I dari Desa Peniraman, pada Kamis (8/10).

Dia bersama 11 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di seluruh desa sempat bergeming dengan bujukan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat dan Bank Indonesia untuk mau mencoba metode tanam padi Hazton di desa yang memiliki waktu tempuh sejam dari Kota Pontianak itu.

Dalam benak petani, mustahil bisa meraih hasil panen mencapai puluhan juta. Namun, setelah mau mencoba dan merasakan hasil panen ternyata terbukti bisa menghasilkan panen dua kali lipat dari panen sebelumnya.

Sekarang, tidak ada lagi terbesit keraguan di antara mereka. Tidak jauh dari hiruk pikuk padatnya kota, ada potensi putaran uang mencapai belasan triliunan rupiah di atas lahan 200.075 hektare dalam satu tahun itu. Rokip saja, dalam sekali panen bisa mendapatkan pendapatan kotor senilai Rp45 juta.

“Dulu sekali, panen saya hanya mendapatkan 75 ton untuk 25 hektare (ha) atau Rp15 juta sebelum menggunakan teknik padi Hazton. Panen terakhir yang kedua tahun ini, saya bisa mendapatkan 11,3 ton padi per ha atau 282,5 ton,” tuturnya.

Kesuksesan petani Desa Peniraman itu, bermula dari ide Kadis Pertanian Kalbar Hazairin bersama Anton Kamaruddin, staf Penyuluh Dinas Pertanian, yang menemukan teknik baru bertanam di polybag, di kediaman Hazairin. Keduanya mendalami proses untuk menciptakan teknik tersebut hingga berhasil.

PRODUKSI PADI
Badan Pusat Statistik memprediksi produksi padi 2015 seluruh Indonesia mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG), yang mengalami kenaikan sebesar 6,64% atau lebih banyak 4,70 juta ton dibandingkan dengan 2014 yang mencapai 70,83 juta ton.

Produksi GKG masih didominasi dari sentra-sentra pertanian di Jawa sebanyak 1,83 juta ton dan di luar Pulau Jawa sebanyak 2,88 juta ton, pada akhir 2015 ini.

Sementara produksi padi Kalbar mencapai 1,3 juta ton terdiri dari 1,19 juta ton padi sawah dan 173.623 padi ladang.

“Secara umum produksi padi di Kalbar masih rendah rata-rata 5 ton per ha dengan rincian 3 ton per ha padi sawah dan 2 ton padi ladang per ha. Sekarang saja produksi padi 900.000 ton surplus 270.000 ton dari kebutuhan sekitar 630.000 ton,” tuturnya.

Keberhasilan petani Desa Peniraman mengembangkan padi Hazton berbuah manis terhadap bantuan dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat dalam bentuk pupuk, bibit, dan mesin giling.

“Total sudah kami berikan bantuan sebanyak 114 ha dari target 1.000 ha seluruh Kalbar. Tahun depan, kami akan mengejar 900 ha untuk demplot-demplot yang akan menerima bantuan tersebut,” kata Dwi Suslamanto, Kepala BI Perwakilan Kalbar.

Langkah serius lain yang dilakukan pihaknya adalah dengan memberikan bantuan mesin penggilingan padi seperti di Desa Peniraman dan sejumlah desa di Kabupaten Sambas dan
Kabupaten Kubu Raya. Dari mesin itu, petani tidak perlu lagi membawa hasil panen ke penampung dan langsung digiling oleh petani.

Limbah dari penggilingan, kemudian dibuat dedak untuk pakan ternak dan dijual. Kini petani-petani didorong menjadi pebisnis dengan adanya kemudahan memiliki mesin penggilingan beras tersebut.

Dengan menanam Padi Hazton dinilai ada secercah harapan, naiknya kesejahteraan petani seluruh Kalbar yang saat ini dilihat dari nilai tukar petani (NTP) Kalbar mengalami penurunan sebesar 0,27 poin pada September 2015 atau mencapai 96,30 poin dibandingkan dengan Agustus sebesar 96,57 poin.

Diterbitkan Harian Bisnis Indonesia

Comments