PONTIANAK -- Negara-negara di Eropa dikenal memiliki empat musim
yakni gugur, semi, panas dan dingin. Pada musim dingin, seringkali salju turun
dan menjadi momok mengkhawatirkan bagi dunia penerbangan.
Pembatalan dan delay alias keterlambatan keberangkatan berjam-jam tak bisa dihindari oleh penumpang jika salju tebal turun menyelimuti runway bandara. Tak heran, banyak penumpang tidur di lantai lebih dari satu malam di bandara.

Kabut asap, masuk dalam kategori musiman dalam setahun bagi masyarakat setempat. Musim lainnya yaitu musim hujan dan panas sebagai kawasan tropis. Satu lagi, dikenal pula ‘musim’ durian.
Pembatalan dan delay alias keterlambatan keberangkatan berjam-jam tak bisa dihindari oleh penumpang jika salju tebal turun menyelimuti runway bandara. Tak heran, banyak penumpang tidur di lantai lebih dari satu malam di bandara.
Sementara, di Indonesia tepatnya di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan
Barat, dikenal memiliki empat musim juga dan salah satu musim yang mengganggu
jadwal penerbangan adalah ‘musim’ kabut asap.
Kabut asap, masuk dalam kategori musiman dalam setahun bagi masyarakat setempat. Musim lainnya yaitu musim hujan dan panas sebagai kawasan tropis. Satu lagi, dikenal pula ‘musim’ durian.
Tak ayal, ‘musim’ kabut asap setiap kali kemarau panjang tiba,
acap menjadi momok yang mengganggu jadwal penerbangan baik maskapai yang akan take off dan landing ke Bandara Internasional Supadio Pontianak.
Langit Kota Pontianak begitu pekat karena kabut asap, sejak Selasa
(1/9) dan Rabu (2/9). Serpihan-serpihan abu dari daun dan ranting berwarna putih
menyelimuti kota, sejak pagi hingga malam.
Maskapai Citilink Indonesia, termasuk yang merasakan dampak dari
munculnya kabut asap sehingga membuat jadwal penerbangan dari bandara
internasional Soekarno-Hatta Jakarta menuju Supadio Pontianak tertunda, pada
Selasa pagi.
Padahal, hari itu, merupakan hari perdana pesawat berwarna hijau
yang membawa 180 penumpang ke Pontianak. Namun, karena kabut asap membuat
pesawat jenis Airbus A320 itu menunda penerbangannya.
Di bandara dengan cuaca mendung berkabut, telah menunggu sejumlah
pejabat tinggi Citilink Indonesia
seperti Commercial Director Hans Nugroho, Wakil Bupati Kubu Raya Hermanus, Staf
Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Pemprov Kalbar, Kapolda Kalbar Arief
Sulistyanto, GM Angkasa Pura II Cabang Bandara Supadio Pontianak Bayuh
Iswantoro melakukan konferensi pers peresmian rute perdana maskapai itu.
Mulanya, maskapai berbiaya murah itu terbang dari Jakarta pada
pukul 07.30 WIB dan semestinya tiba pukul 09.00 WIB tetapi maskapai menunda penerbangan
dan baru mendarat sekitar pukul 10.15 WIB.
GM Angkasa Pura II Cabang Supadio Pontianak Bayuh Iswantoro
mengatakan tidak hanya maskapai Citilink Indonesia yang mengalami keterlambatan
tiba ke Pontianak tetapi maskapai lain juga terlambat.
“Ada tujuh maskapai yang batal datang dan sembilan pesawat yang
batal berangkat dari bandara. Delay berangkat sejak pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB, baru ada yang
terbang pukul 09.00 WIB,” kata Bayuh kepada Bisnis.
Bahkan, keesokan hari pada Rabu (2/9), sejumlah maskapai kembali
terlambat terbang dan tiba di Bandara Supadio. Dia menyebutkan hanya Garuda
Indonesia yang bisa tiba pukul 06.45 WIB.
Setelah itu, sejak pukul 07.00 WIB
hingga 11.00 WIB selama 4 jam lamanya, pesawat
lain tidak diperkenankan mendarat dan terbang.
“Kabut asap membuat jarak pandang tebal dan menghalangi area
bandara, hanya 200 meter dan berangsur
naik menjadi 2 kilometer dengan kecepatan angin 3 knot,” tuturnya.
WATER BOMBING
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar bergerak cepat mengambil langkah guna
mengurangi pekatnya kabut asap. Pada Kamis (3/9) pagi, BPBD Kalbar melakukan
pelepasan operasi water bombing atau hujan buatan dengan menggunakan helikopter kamov.
Kepala BPBD Kalbar TTA. Nyarong mengatakan sebaran hotspot atau titik panas menyebabkan terbakarnya lahan
berdasarkan citra satelit modis dan NOAA-18 per September 2015 yakni, 16 titik di
Kabupaten Ketapang, tiga titik di Kabupaten Melawi, dan
11 titik di Kabupaten Sintang.
“Operasi water bombing berisikan 29 ton garam untuk memadamkan api, dilaksanakan berdasarkan
Keputusan Gubernur Kalbar terkait penetapan status siaga darurat penanganan bencana
asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalbar dan dibentuk komando penanganan
darurat bencana asap,” terangnya.
Berdasarkan data yang diperoleh Bisnis, sebaran lokasi titik kebakaran berada di lahan fungsi
hutan produksi (HP), area penggunaan lain (APL) milik perusahaan hutan tanaman
industri, perkebunan kelapa sawit dan lahan masyarakat.
Commercial Director Citilink Indonesia Hans Nugroho mengutarakan penumpang mendapatkan kompensasi makanan jika
mengalami keterlambatan penerbangan.
“Kami siapkan makanan karena kami berkomitmen memberikan pelayanan
terbaik kepada penumpang merupakan kriteria
utama Citilink,” tuturnya.
Diterbitkan Harian Bisnis Indonesia
Comments
Post a Comment