PONTIANAK -- Terik Matahari
yang menyengat di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat tak
menyurutkan semangat Yusman Mistar untuk menyimak pemaparan seorang konsultan
keuangan.
Hari itu
Sang Konsultan, Ahmad Gozali, memberikan penjelasan tentang cara pengelolaan
keuangan kepada sejumlah warga. Ahmad beberapa kali melontarkan pertanyaan
kepada puluhan warga Entikong yang mengikuti seminar di aula Kantor Camat
Entikong.
Yusman pun sempat ikut menjawab pertanyaan dan menerima hadiah sebuah
buku.
Yusman
merupakan petani yang tinggal di wilayah perbatasan antara Indonesia dan
Kuching, Malaysia. Beberapa komoditas pertanian yang dia tanam antara lain
lada, karet, kakao, pisang, dan padi. Menurutnya, bertani sudah dia rintis
sejak masih remaja. Yusman juga memiliki toko sembako.
Kepada Bisnis Yusman bercerita jika Kecamatan Entikong
sangat strategis untuk menjual beragam produk pertanian dan perkebunan.
Pembelinya bukan hanya warga Indonesia, melainkan juga masyarakat Malaysia.
Entikong
memang kawasan sangat strategis. Ia memiliki akses darat langsung ke distrik
terdekat Malaysia, yakni Tebedu dengan hanya memakan waktu kurang lebih 15
menit untuk sampai ke lokasi tersebut menggunakan kendaraan bermotor.
Alhasil,
Yusman pun dengan mudah dapat menjual hasil panennya kepada pengepul yang telah
menunggu di perbatasan Tebedu dan langsung didistribusikan ke kota-kota lainnya
di
Malaysia.
Kegiatan itu rutin setiap hari dilakukan warga lain di Entikong, tak Cuma
Yusman saja.
“Dalam
satu bulan saya juga bisa satu sampai dua untuk belanja kebutuhan pokok ke Malaysia
karena jaraknya dekat. Setelah itu, saya jual ke toko sembako saya,” kata
Yusman.
Dari
beberapa pohon pisang yang dia tanam, Yusman mengaku dapat memanen hingga empat
kali. Dia bisa memperoleh penghasilan berkisar Rp500.000-Rp1,2 juta setiap kali
panen.
Lain
lagi kalau menjual lada yang sekarang harganya sedang bagus, yakni berkisar
Rp120.000-Rp140.000 per kilogram. Pundi-pundi penghasilannya bisa mencapai
hampir Rp7 juta setiap bulan.
Lada
menjadi komoditas populer di kawasan perbatasan dan primadona bagi
masyarakat
Malaysia. Harga yang naik, membuat permintaan pun menjadi naik.
Sebagian
uang yang didapat dari hasil panen disisihkan Yusman untuk membeli kebutuhan
sehari-hari dan sisanya ditabung. Dia mengaku harus bekerja lebih keras, supaya
kedua anaknya bisa menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.
Yusman
menabung di tiga bank yakni, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalrbar, Bank
Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ketiga bank ini memiliki kantor di
Entikong.
“Saya
masih sebatas untuk menabung saja dulu, belum pada pengelolaan keuangan seperti
untuk investasi asuransi,” katanya.
Akses
perbankan yang mudah tidak membuat Yusman kesulitan untuk mencari tempat
menyimpan uang dengan aman dan cepat.
Bahkan
untuk berbelanja ke Malaysia dia bisa langsung menukarkan uang rupiah ke bank
tidak perlu ke calo dengan harga beli yang tinggi. Namun, untuk berbelanja ke
Malaysia, Yusman terbentur peraturan Sosial Ekonomi Malaysia dan Indonesia
(Sosek Malindo) antara kedua negara hanya memperbolehkan berbelanja sebanyak
600 ringgit atausekitar
Rp2,1 juta saja.
PEMBATASAN
Kepala
Kantor Kas Bank Mandiri Entikong Ray Satria mengatakan sejak dilakukan pembatasan
600 ringgit justru membuat masyarakat Entikong kurang bergairah dalam menabung.
Sebelumnya
rerata pihaknya bisa menghimpun dana hingga Rp1 miliar, tetapi sekarang turun
drastis, hanya berkisar Rp100 juta hingga Rp200 juta.
“Sejak
Bea Cukai membatasi warga untuk memasukkan barang belanjaan dari Malaysia, ada
pengaruhnya dengan tabungan masyarakat. Mereka tidak lagi menabung dalam jumlah
nominal uang yang besar,” ujarnya.
Kendati
demikian, pihaknya melihat masih adanya peluang untuk mengumpulkan dana pihak
ketiga (DPK) di wilayah Entikong pada masa mendatang.
Ray
mengatakan telah memiliki sejumlah program untuk menggaet langsung calon nasabah.
Kantor Bank Mandiri Kas Entikong mempunyai satu mesin ATM dan satu
mesin
serupa di Balai Karangan dengan jarak hampir 30 menit dari Entikong.
Kebutuhan
uang melalui mesin ATM masih relatif rendah dengan tingkat pengisian setiap
tiga hari sekali dengan sekali isi Rp650 juta.
Di sisi
lain, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalbar juga melihat ada potensi besar untuk
menarik DPK di wilayah perbatasan.
Namun, infrastruktur jalan dan listrik di perbatasan tidak memungkinkan bagi BPD Kalbar guna membuka jaringan kantor perbankansetingkat kantor cabang pembantu (capem) di seluruh wilayah perbatasan.
Namun, infrastruktur jalan dan listrik di perbatasan tidak memungkinkan bagi BPD Kalbar guna membuka jaringan kantor perbankansetingkat kantor cabang pembantu (capem) di seluruh wilayah perbatasan.
Saat
ini,BPD Kalbar memiliki sejumlah kantor capem a.l, Capem Entikong-Sanggau,
Capem Sajingan-Sambas, dan Capem Badau-Kapuas Hulu. Di perbatasan Jagoi
Babang-Kabupaten Bengkayang baru sebatas kantor kas dan Kecamatan Ketungau
Tengah-Sintang belum dibangun kantor jaringan bank.
Kepala
Divisi Tresuri BPD Kalbar Restuanda mengutarakan besarnya biaya dan perhitungan
untung rugi menjadi pertimbangan untuk membangun jaringan kantor bank di
perbatasan. Misalnya, katanya, untuk satu capem saja baru bisa menghimpun DPK
dalam setahun sebesar Rp10 miliar.
“Idealnya
masing-masing kantor capem bisa mengumpulkan uang DPK minimal Rp50 miliar
setiap tahun. Itu bisa dianggap menguntungkan secara bisnis. Perlu investasi
besar untuk membangun gedung, mesin, dan karyawan,” katanya.
Sebelum
membangun kantor, menurut Restuanda, pihaknya harus mengkaji dulu potensi SDA
masyarakat setempat, jenis pekerjaan, dan bisa atau tidak mengelola uang secara
mandiri atau kelompok.
Meski
demikian agaknya potensi besar di Entikong tak bisa dikesampingkan begitu saja.
Apalagi wilayah tersebut berada di daearah perbatasan yang cenderung dinamis.
Direktur
Utama BPD Kalbar Sudirman HMY, dalam satu kesempatan wawancara, mengatakan bank
dengan kepemilikan saham terbesar milik Pemprov Kalbar ini sedang membina para
peternak kambing etawa di Jagoi Babang agar dapat mengelola pembukuan keuangan dengan
benar.
Setumpuk Uang Lusuh di Perbatasan
Belum lama ini
saya berjumpa Stepanus, seorang pedagang warung kopi di Kecamatan Badau, Kabupaten
Kapuas Hulu. Dia rutin menyambangi Lubuk Antuk, Malaysia, minimal sepekan sekali.
Kala itu,
Stepanus hendak menukarkan uang kertas ke Bank Indonesia yang membuka layanan
pertukaran uang di BPD Kalbar Cabang Pembantu (Capem) Badau. Beberapa lembar
uang kertas pecahan Rp1.000, Rp2.000, dan Rp5.000 miliknya koyak, dan beberapa di
antaranya terdapat tempelan plester.
“Pakai
uang rupiah ke Malaysia malu, orang [pedagang] Malaysia tidak mau terima uang
rupiah yang ada coretan pulpen dan koyak. Saya malu, belum lagi sering ganti
‘pahlawan’,” ujarnya.
Namun,
untuk menukarkan uang, bukanlah perkara yang mudah bagi Stepanus. Sulitnya akses
membuat bank sulit mengantar uang baru ke masyarakat perbatasan. Waktu tempuh
me lalui
jalur normal menuju Kantor Cabang Pembantu BPD Kalbar Kota Putussibau kurang lebih
lima jam.
Terdapat
jalan pintas antara Kantor Capem Badau dan cabang di Semitau yang bisa ditem
puh dalam waktu sekitar dua jam. Namun, jalur ini melewati wilayah perkebunan
kelapa
sawit
dengan medan yang cukup menyulitkan.
Apa yang
dialami Stepanus, lazim terjadi pula pada masyarakat yang tinggal di
perbatasan.
Tak bisa
dipungkiri, alat pembayaran di wilayah pelosok masih didominasi uang tunai.
Tingkat
perputaran yang tinggipun membuat uang cepat lusuh, bahkan rusak. Padahal di
perbatasan tidak hanya perdagangan barang dan jasa, melainkan juga terdapat tenaga
kerja perkebunan kelapa sawit, pegawai negeri sipil (PNS) kecamatan dan medis, TNI
dan Polri, hingga hilir mudiknya para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang
melewati pintu erbatasan resmi.
Kepala
Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat (Kalbar) Dwi Suslamanto mengatakan
penggunaan uang tunai rentan terhadap tindak ke jahatan seperti pencurian, pemalsuan
uang, serta cepat lusuh.
Menurutnya,
Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sangat penting diterapkan khususnya di
wilayah perbatasan seper ti di Kalbar. Melalui GNNT, katanya, Bank Indonesia ke
depan tidak perlu lagi mengantar uang baru kertas ke wilayah pelosok dengan kawalan
polisi bersenjata.
“Transaksi
cepat, bisa dalam jumlah besar, aman, dan bagi pemerintah daerah bisa mengurangi
kebocoran anggaran dan salah sasaran serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD),”
katanya.
KARTU
Dia
mengatakan, terdapat sejumlah alat pembayaran non tunai yang dapat diterapkan antara
lain kartu debet maupun kartu kredit. Ada juga opsi lain yakni dengan menggalakkan
penggunaan handphone dan smartphone untuk transaksi keuangan baik
dengan orang atau perbankan.
Kepala Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Kalbar Asep Ruswandi mengatakan untuk
mem buka
kantor pelayanan baru di kawasan pelosok, bank membutuhkan biaya yang tinggi.
Dengan
demikian, katanya, bank dapat memanfaatkan agen layanan keuangan tanpa kantor alias
Laku Pandai yang telah diinisiasi OJK.
“Itu
untuk membantu pemerintah daerah dan bank supaya masyarakat mau menabung ke
bank dengan sistem agen telepon genggam dan mesin electronic data
capture (EDC) yang bekerja sama dengan bank,” kata
Asep.
Dia
menuturkan dari sebanyak empat bank yang ditunjuk OJK untuk menjalankan agen Laku
Pandai di seluruh Indonesia yaitu Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, dan
Bank
Tabungan
Pensiunan Naional (BTPN), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), baru bank ter -
akhir
yang telah memiliki agen laku pandai di Kalbar.
“Tujuan
Laku Pandai agar bank bisa lebih mendekatkan diri dengan masyarakat yang jauh
jaraknya dengan kantor. Warga tidak perlu pergi jauh-jauh ke bank untuk
menabung dan pinjam uang tetapi tinggal me nyetor dan ambil uang ke agen yang
telah ditunjuk bank,”
kata
Asep.
Kepala
BRI Cabang Pontianak Sutaryo menuturkan pihaknya sudah meluncurkan agen Laku
Pandai di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas pada Maret 2015. Namun, sejauh ini
BRI belum berencana membuka agen Laku Pandai di wilayah perbatasan.
Menurutnya,
untuk menetapkan agen, bank harus mempertimbangkan banyak aspek bisnis a.l
harus nasabah BRI, minimal memiliki usaha menjual kebutuhan pokok masyarakat, warga
sekitar dan dipercaya untuk ditunjuk sebagai agen, serta memiliki potensi ekonomi
yang bagus.
Dia
mengatakan syarat-syarat menjadi agen BRI sejatinya ti dak terlalu sulit yakni
harus nasabah BRI, memiliki simpanan
minimal Rp500.000, paham teknologi, pedagang, serta jarak antara agen dan
kantor cabang kas BRI tergolong jauh.
“Bermodalkan
mesin EDC, kami berharap agen bisa meningkatkan dana pihak ketiga
(DPK)
dari bank karena dengan adanya agen maka memudahkan masyarakat yang ingin
mengirim uang. Di Jawai, lokasi agen ke bank kantor kas sejauh 10 kilometer.”
Sejak
diluncurkan pada Maret 2015, katanya, satu agen di Jawai dalam sehari rata-rata
melakukan 25 transaksi atau sekitar750 transaksi setiap bulan senilai Rp1,2
miliar.
“Sekarang
sudah ada 267 agen dari target untuk seluruh Kalbar sebanyak 282 agen. Memang
belum ada agen ditempatkan di wilayah perbatasan,” kata Sutaryo.
Laku
Pandai mungkin bisa menjadi salah satu solusi mengatasi ketergantungan pada
uang
tunai.
Namun, agaknya program ini pun masih memiliki sejumlah keterbatasan yang harus
dicari solusinya.
Diterbitkan Harian Bisnis Indonesia
Comments
Post a Comment