| Sampan-sampan di tepi Sungai Kapuas yang menjadi transportasi. Foto: Yanuarius Viodeogo-Bisnis Indonesia |
PONTIANAK – “Saya bilang kepada anak saya, jika pinggir Sungai Kapuas ditata dan masyarakat tidak buang sampah ke sungai, Kota Pontianak akan ramai dikunjungi wisatawan.”
Ucapan itu meluncur, dari Andrinof Chaniago, Menteri PPN/Kepala Bappenas kepada Bisnis, di sela mengunjungi Kota Pontianak untuk kesekian kali, Jumat (5/6).
Sebelum dipilih oleh Presiden Joko Widodo menjadi menteri dalam Kabinet Kerja, Andrinof sering kali menyambangi ibu kota Provinsi Kalimantan Barat ini dan dia bersama keluarga selalu memilih menginap di Hotel Kartika.
Hotel tersebut, tepat menghadap ke Sungai Kapuas. Dari hotel ini pengunjung bisa melihat kapal pengangkut barang dan orang dari dalam dan luar provinsi hingga jasa transportasi perahu yang mengantar orang melintasi sungai terpanjang di Tanah Air ini.
Kala menjadi peneliti, pria asal Padang, Sumatera Barat ini kerap kali diundang menjadi nara sumber kebijakan publik untuk kota ini. Terakhir sebagai menteri hadir membuka langsung Musrenbang Provinsi Kalbar, awal April lalu.
Mantan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu tidak ingin sekadar mimpi di siang bolong supaya muara sungai dengan panjang 1.143 dan lebar hampir 400 meter yang terletak di jantung kota itu disulap menjadi kawasan modern, bersih, tertata rapi dan ramah.
Mimpinya menjadi kenyataan untuk mengubah wajah sungai Kapuas karena penataan sungai itu masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Pada kunjungannya akhir pekan lalu, dia telah membentuk tim ahli yang anggotanya diperuntukkan khusus guna mendesain dan berdiskusi bersama Pemerintah Kota Pontianak dan Pemprov Kalbar dalam mengembangkan kawasan tepian sungai Kapuas.
Dia mengatakan sungai Kapuas harus dikembangkan menjadi kota air atau bahasa kekinian yaitu water front city sebagai teras Kota Pontianak yang tidak lagi identik sebagai kawasan yang kumuh.
"Persoalan utama untuk menata kota di Indonesia termasuk menata sungai Kapuas terletak pada aspek perilaku sosial. Masih banyak masyarakat yang membuang botol-botol dan kantong plastik ke Sungai Kapuas," katanya.
Kendati demikian, kata Andrinof, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk memulai rencana aksi menata sungai Kapuas dengan menjadikan sungai ini sebagai prioritas utama.
Tim yang terdiri dari 40 ahli-ahli perencanaan wilayah di Kementerian PPN/Bappenas akan intensif menjalin koordinasi dengan Pemprov Kalbar dan Pemkot Pontianak.
"Saya memprediksi 3 tahun ke depan, sungai Kapuas mulai tampak rapi dan tidak kumuh. Jadi perlu juga dibantu dengan promosi besar-besaran."
Lampu hijau dari pemerintah pusat itu, membuat Wali Kota Pontianak Sutarmidji terpacu untuk menata sungai Kapuas seperti sungai Chao Phraya, sungai yang membelah Kota Bangkok sekaligus sungai kebanggaan masyarakat Thailand.
Pada 2016, pihaknya menganggarkan Rp40 miliar untuk merevitalisasi fisik terutama penataan pemukiman penduduk dan merelokasi area pabrik karet yang beroperasi di tepi sungai.
Dalam 2 tahun ke depan, dia menargetkan pabrik-pabrik karet pindah lokasi dan dampaknya mempermudah Pemkot Pontianak membangun ruang publik.
Gebrakan lainnya, kata Sutarmadji, adalah menata Kelurahan Sungai Jawi. Kawasan ini akan disulap menjadi pusat wisata kuliner dengan mengandalkan jalur pedestrian dan wisata air.
Kelurahan yang wilayahnya menjadi anak sungai Kapuas dengan panjang 18 kilometer dan lebar 20 meter itu merupakan kawasan pemukiman padat penduduk. Namun, justru di situlah letak potensi ekonomi dengan mendorong optimalnya sektor pariwisata.
Diterbitkan Harian Bisnis Indonesia
Comments
Post a Comment