Ben-gas yang Ramah Dompet

PONTIANAK – Tiga sampan bermesin 10-15 PK berputar-putar dengan kecepatan sedang, di tepian Sungai Kapuas. Pengemudinya tak berminat menyusuri hingga ke tengah sungai.

Mereka sedang tidak menangkap ikan, hanya sekadar bermain-main. Sesekali, satu di antaranya berseru kencang memanggil seorang lainnya untuk beradu cepat, satunya lagi tertawa berusaha mengejar. Sementara, satunya lagi sedang menghidupkan mesin.

Walau bermain-main, mereka tidak khawatir kehabisan bahan bakar. Pasalnya, bahan bakar yang digunakan adalahliquefied petroleum gas (LPG) ukuran 3 kg.

Kok bisa? Bukan kah gas yang disubsidi pemerintah itu sebagai energi bahan bakar untuk ibu  rumah tangga sehingga bisa menggoreng sambal ikan teri, dan menumis sayur genjer-genjer.

Usman Ali, seorang nelayan dari Kampung Sungai Tekong, Kabupaten Kubu Raya, mengaku sudah 3 tahun menggunakan LPG 3 kg sebagai pengganti bensin untuk bahan bakar mesin sampannya.

Sambil berbincang dengan Bisnis, Sabtu sore (15/11), Usman tersenyum melihat polah tingkah sahabat-sahabatnya.

Dia menuturkan senyumnya bermakna, sebab LPG 3 kg meringankan beban pengeluarannya sehari-hari.

“Isu yang kami dengar, bensin mau naik tapi kami tidak perlu khawatir karena selama ini LPG 3 kg telah  membantu kami. Secara hitung-hitungan, pergi pagi pulang sore dan hasil tangkapan sama saja dengan menggunakan bensin tetapi dengan LPG 3 kg, pengeluaran lebih hemat,” kata Usman.

Dia mengumpamakan penggunaan satu tabung LPG 3 kg untuk menuju lokasi penangkapan ikan dan pulang pada sore hari, bisa bertahan selama 4 hari dengan pengeluaran Rp18.000.

Sebelum menggunakan tabung gas, dalam empat hari dia membutuhkan 15 liter bensin dengan harga 1 liternya senilai Rp6.500. Berarti sebelum harga BBM naik, Senin malam (17/11), dia mengeluarkan biaya Rp97.500.

“Dalam sehari, rata-rata kami bisa menangkap ikan sebanyak 5 kg,” ujarnya.

Ben-gas
Nama bahan bakar yang digunakan Usman dan nelayan lainnya adalah ben-gas singkatan dari bensin dan gas. Penemu inovasi itu bernama bernama Amin, pria kelahiran 44 tahun, di Pontianak.

Amin menciptakan alat konverter kit yang mengkonversi antara bensin dan LPG 3 kg, lima tahun lalu. Kini, sedikitnya 150-an nelayan di Kabupaten Raya menggunakan ben-gas.

“Saya bikin konverter kit karena nelayan di Kubu Raya sulit mendapatkan bensin. Saya pikir nelayan perlu alternatif bahan bakar tidak tergantung lagi dengan bensin,” kata Amin kepada Bisnis.

Amin memaparkan awalnya nelayan menggunakan konverter kit, masih menggunakan bensin dengan komposisi penggunaan LPG 3 kg lebih dominan. Sekarang sudah ada nelayan yang murni menggunakan LPG 3 kg.

“1 tabung LPG 3 kg untuk bisa untuk 4 hari, dengan begitu nelayan menghemat biaya operasional sampai 70% dari pada menggunakan bensin,” tuturnya.

Adapun, rinciannya kata Amin, bila 1 liter bensin Rp 8.500 pasca kenaikan BBM Senin malam (17/11), artinya kebutuhan sehari nelayan sebanyak 5 liter yang menghabiskan Rp42.500 dan per bulan Rp1.275.000.

“Dengan LPG 3 kg, nelayan hanya menghabiskan biaya operasional Rp675.000 per bulan atau kurang dari itu, dengan pemakaian hanya 4 sampai 5 kali tabung LPG 3 kg,” terangnya.

Dengan hasil temuannya itu, Amin memiliki hak paten atas alat ciptaan konversi bbm ke LPG dari Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia, dengan SK NO. S 00210300051 tanggal 15 Maret 2013.

Dia berharap temuannya berguna bagi nelayan-nelayan kecil tidak hanya di Kabupaten Kubu Raya, tetapi seluruh nelayan di tanah air. Ke depan, Amin mengutarakan para nelayan yang menggunakan mesin 30 gross ton (GT) juga bisa menggunakan alat temuannya.

Selama 5 tahun sejak menciptakan alat itu, menurutnya, belum ada perhatian dari pemerintah pusat membuat regulasi memassalkan alat konverter kit-nya dan bantuan LPG 3 kg kepada para nelayan.

Sementara, Bupati Kubu Raya Rusman Ali mengatakan pihaknya baru sebatas  memberikan bantuan 60 mesin sampan bagi nelayan yang menggunakan LPG 3 kg.

“Tahun depan, kami anggarkan 60 mesin supaya para nelayan bisa menghemat biaya nelayannya. BBM naik pun tidak bermasalah bagi nelayan karena mereka menggunakan bahan bakar gas,” kata Rusman seraya berujar tidak dapat berbuat lebih karena terbatas anggaran pemda. 

Diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia

Comments