Ame Doho...Doho

PONTIANAK – “Ame doho, Ame doho.” Kata-kata itu terlontar dari mulut Presiden Joko Widodo saat bertatap muka di hadapan kurang lebih 500 petani, dari sejumlah desa di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Sontak, para petani langsung bertepuk tangan dan tertawa lepas ketika Jokowi mengucapkan kata-kata itu dalam bahasa Dayak Kanayatn, kepada mereka, di Desa Ngarak, Selasa (20/1).  

Dalam bahasa Indonesia, Ame bisa diartikan sebagai kata kerja yaitu jangan, Doho artinya dulu. Dengan demikian artinya “Jangan Dulu.” Dalam konteks dialog tersebut, ‘jangan dulu’ diartikan untuk bersabar.

Pada menit kedelapan belas, Jokowi bertanya kepada Gubernur Kalbar Cornelis yang duduk di sebelah kanannya, untuk mengucapkan kata-kata itu dalam bahasa setempat.

Ucapan itu dilontarkan oleh Jokowi kala hendak menjawab sejumlah pertanyaan yang disampaikan oleh para petani, salah satunya menginginkan supaya harga karet kembali naik.  

Bermula dari seorang petani bernama Theresia, mendapat giliran pertama dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebagai moderator dialog yang ingin mengajukan pertanyaan kepada Jokowi.

Petani dari anggota dari kelompok tani Wanita Mandiri, Desa Senakin itu mengeluh kepada Jokowi karena harga jual getah karet yang terus turun di pasaran lokal.

Dari data yang dihimpun Bisnis, hingga hari ini, harga jual getah karet di Kalbar menembus angka antara Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram.

Padahal, pada 3 hingga 4 tahun sebelumnya, para petani karet di Kalbar pernah  merasakan harga jual senilai Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Selanjutnya, giliran pria asal Kota Solo, Jawa Tengah itu mengambil michrophone dan mengutarakan maksudnya, guna mengatasi supaya harga jual karet dalam negeri tidak terseret dengan pasar global yaitu dengan membangun pabrik olahan turunan dari produk karet.

Namun, katanya, untuk membangun pabrik tersebut memakan waktu yang tidak sebentar, paling cepat 2 hingga 3 tahun. Sehingga perlu kesabaran dari petani karet supaya pabrik itu terwujud. 

"Bikin pabrik tidak bisa lima hari, paling tidak tunggu 2 hingga 3 tahun, ada pabrik-pabrik karet, kita olah sendiri. Saya ngomong apa adanya ya," katanya.

“Ame doho…ame doho, sabar doho…sabar doho.”

Meski demikian, lanjut Jokowi berkomitmen kelak masing-masing provinsi yang memiliki produksi karet dalam jumlah besar, termasuk dari Kalbar bisa dibangun pabrik olahan turunan produk karet.

"Supaya kalau ada pabrik karet sendiri, harga jual karet Indonesia tidak dimainkan oleh pasar dunia. Jadi, walaupun harga jual karet nanti naik, pabrik harus tetap dibuat," ujarnya.

Sementara, data dari Bisnis, Pemprov Kalbar sendiri telah menyiapkan lahan seluas 537 hektare di Kecamatan Mandor, untuk dibangun pabrik olahan turunan produk karet. Namun, hingga kini Pemprov Kalbar masih menunggu calon investor yang tertarik menanamkan modalnya guna membangun pabrik di lokasi itu.

Bila dilihat dari potensi lahan perkebunan karet di Kabupaten Landak, prospek produksinya sangat menjanjikan yang mana mampu mencapai 855 ton per tahun dengan luas lahan saat ini mencapai 87.947 hektare.  

Usai berdialog selama 30 menit, terbesit dari wajah para petani yang menaruh harapan tinggi kepada Presiden Jokowi supaya membawa para calon investor yang tertarik mengeluarkan kocek untuk membangun pabrik di kecamatan tersebut.

Diterbitkan Harian Bisnis Indonesia 

Comments

Post a Comment