Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Warga Kampung Prajurit di tepi bantaran Sungai Kapuas, Putussibau berada dalam ancaman tanah longsor. Sewaktu-waktu rumah mereka bisa hanyut terbawa arus sungai.
Borneo Tribune, Putussibau
Warga Kampung Prajurit di tepi bantaran Sungai Kapuas, Putussibau berada dalam ancaman tanah longsor. Sewaktu-waktu rumah mereka bisa hanyut terbawa arus sungai.
![]() | |
| Sedikitnya 3 KK masih mencoba bertahan di bibir sungai |
Minggu ketiga bulan Ramadan, Borneo Tribune menyusuri perkampungan padat penduduk di Jalan Sibat, Kota Putussibau. Kampung itu bernama Kampung Prajurit. Dari jauh terlihat 1 kelompok anak SD laksana prajurit tempur, memainkan meriam kecil terbuat dari botol plastik di bibir tebing sungai.
Bau asap dari batu karbit menyengat menusuk hidung. Raut wajah mereka gembira. Tapi ada guratan mendung memayungi garis muka Mustawadin (35). Dari atas teras rumahnya, bahasanya sangat pelan dan tutur katanya sangat hati-hati memberikan pesan kepada anak-anak yang sedang bermain meriam karbit. Dirinya khawatir anak-anak itu bisa terpeleset jatuh ke bawah dari tebing curam, tingginya lebih dari 50 meter.
"Bisa lihat sendiri, tanahnya menyeramkan. Rumah kami dekat dengan tepi tebing atau tinggal 5 jengkal saja. Dulu bagian ruang tamu di depan sana. Tempat kita duduk ini, dulu dapur. Sekarang menjadi ruang tidur satu keluarga, dapur, dan bagian belakang adalah kamar mandi," kata Mus—sapaan akrabnya.
Di lokasi obrolan Borneo Tribune bersama Mus, atau 10 meter ke arah depan, ruang tamu Mus terlihat masih kokoh. Jalan gang semen juga masih ada. "Di samping ruang tamu dulu sebelum longsor masih kokoh berdiri 2 pohon mangga. Tapi sekarang tinggal kenangan saja," ujarnya.
Setelah itu ia menunjuk lokasi tempat pohon mangga yang berdiri sebelum
longsor terjadi. Ruang tamu, jalan semen, dan pohon mangga jatuh ke dasar
sungai karena tanah tidak kuat menahan terjangan arus Sungai Kapuas.
Mustawadin adalah 1 dari 9 warga asal Kampung Prajurit yang mencoba bertahan, dari tebing yang dapat longsor kapan saja dan kemudian turut meruntuhkan pemukiman rumah di kampung itu.
Mustawadin adalah 1 dari 9 warga asal Kampung Prajurit yang mencoba bertahan, dari tebing yang dapat longsor kapan saja dan kemudian turut meruntuhkan pemukiman rumah di kampung itu.
"Saya bertahan sampai BPBD mau memberikan bantuan," katanya.
Bantuan uang atau fisik tidak masalah bagi Mus. Karena dirinya tidak bisa mengandalkan gaji semata sebagai petugas keamanan PLN untuk membangun satu unit rumah utuh, sebagai langkah pindah dari bibir sungai.
Bantuan uang atau fisik tidak masalah bagi Mus. Karena dirinya tidak bisa mengandalkan gaji semata sebagai petugas keamanan PLN untuk membangun satu unit rumah utuh, sebagai langkah pindah dari bibir sungai.
Bila diberikan bantuan uang, Mus hanya minta uang sebesar Rp 2 juta saja
untuk membeli atap seng. Dirinya mengaku sudah memiliki kerangka, pondasi dan
lantai rumah sederhana di Jalan Serawai. Kekurangan tinggal dipasang seng.
Tetapi bantuan itu tak kunjung tiba sejak 3 bulan lalu seperti yang diusulkan ke BPBD.
Sewaktu ruang tamu jatuh ke sungai 3 tahun lalu, Mus menceritakan, 13 KK
mendapat bantuan sebesar Rp 7 juta per KK. Tapi uang itu dibagi dalam 3
keluarga, mulai dari mertua, kakak, dan dirinya sendiri. Uang itu tidak cukup
membangun rumah Mus kembali. Kemudian 3 bulan yang lalu Mus kembali lagi
mengusulkan bantuan ke BPBD, tapi belum ada jawaban.
Tanah Runtuh
Tanah Runtuh
Mustawadin kemudian dengan cekatan mengambil ponsel buatan Cina dari saku celana pendek jeans. Ia ingin memperlihatkan sesuatu kepada Borneo Tribune. Kami menyaksikan di layar ponsel yakni detik-detik tanah retak persis di depan kami duduk sekarang. Di video itu terlihat jelas dalam hitungan detik tanah runtuh jatuh ke dasar sungai. Kejadian itu berlangsung pada siang hari, pada 6 Mei 2011.
"Saya berdiri agak menjauh mengambil gambar. Rekaman ini tidak akan
saya hapus," kata Mus.
Kejadian itu sungguh cepat sekali. Suara gemuruh keras mirip seperti goncangan gempa di tanah Jawa. Saat itu, musim penghujan. Lebih ditakutkan lagi, hujan deras tiba. Bukan hanya mengancam tanah tergerus akibat terjangan air sungai. Tetapi juga rumah Mus.
Kini rumah Mus tinggal pondasi kayu, dinding papan, lantai papan, dan beratap seng tua juga rapuh. Setiap kali hujan deras disertai angin lebat, membuat Mus, istri serta dua anaknya bersiaga.
"Tidur malam tidak tenang.
Kalau saya keluar mencari uang, anak bini tinggal di rumah. Hari sedang hujan,
saya khawatir sekali," katanya. Setiap hujan, 1 keluarga itu pindah tidur
di ruangan lain. Karena ruang tidur mudah sekali masuk air hujan.
BPBD Janji Usulkan Bantuan
BPBD Janji Usulkan Bantuan
Tahun ini warga Kampung Prajurit mesti bersabar mendapatkan bantuan. Pasalnya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Darurat (BPBD) Kapuas Hulu, Gunawan mengatakan akan mengusulkan bantuan pada anggaran 2013 untuk 9 warga yang rumahnya terancam bahaya langsung longsor.
Bantuan yang diusulkan dan terealisasi pada tahun 2013 nanti bukan berupa bantuan uang melainkan bantuan material bangunan. "Usulan itu nanti berupa bantuan fisik berupa semen, seng, kayu, dan lainnya yang berupa material bukan fisik," kata Gunawan.
Proses pemberian bantuan nanti, saluran penerimaan harus tepat. Bila yang menerima selain si A di mana ada anggota keluarganya yang menerima harus jelas. Sehingga bantuan yang sudah diberikan tidak lagi si A membaginya ke anggota lainnya.
"Kita data lagi, jangan sampai yang benar-benar dapat justru tidak
kebagian," kata Gunawan.
Pengerukan Dasar Sungai
Pengerukan Dasar Sungai
Kondisi Sungai Kapuas belum terlihat ada tanda-tanda air pasang. Penyebabnya tak lain, hujan begitu lama dalam hampir 3 minggu lebih tak mengguyur Kota Putussibau. Alhasil daratan berupa batu-batu kecil muncul ke permukaan.
Sore hari menjadi lokasi primadona bagi kawula muda dan sejumlah keluarga
menikmati panorama alam berada di tengah Sungai Kapuas yang dangkal itu. Ada
yang ingin mengabadikan diri lewat kamera, mancing, mandi di sungai, dan
kegiatan refreshing lainnya. Tapi justru dangkalnya sungai itu lah yang menjadi penyebab arus Sungai Kapuas dari hulu ke hilir menghantam tebing Sungai Kapuas. Kabag Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga dan Perairan Kapuas Hulu, Kesuma Halilintar menerangkan satu-satunya cara agar tebing sungai di Kampung Prajurit aman dari rawan longsor adalah dengan melakukan pengerukan skala besar di areal bebatuan di tengah di pindahkan ke dasar sungai dekat tebing Kampung Prajurit. Sehingga tebing di Kampung prajurit menjadi dangkal.
Tetapi cara itu belum dilakukan untuk tahun ini. Belum ada kepastian ada pengerukan dilakukan tahun depan. Untuk saat ini, Dinas Bina Marga dan Perairan mencegah tidak terjadinya longsor lagi dengan menggunakan cara bronjong. Cara tersebut adalah menumpukkan batu-batu kubus beton ukuran 50x50 cm ke dalam dasar sungai.
Di antara tiang besi yang ditancapkan ke dasar sungai, ditumpuk lagi
pecahan batu besar yang disusun menyerupai tangga. Agar batu-batu itu tidak
ikut terbawa arus sungai, maka diikat dengan kawat keras yang sudah dipasang
terlebih dahulu sebelum batu dimasukkan di kawat itu.
Sedikitnya ada 700 meter dari jembatan Kapuas hingga ke Kampung Prajurit proyek itu dikerjakan. "Pengerjaannya baru dikerjakan seminggu sebelum bulan puasa," kata Kesuma.
Sedikitnya ada 700 meter dari jembatan Kapuas hingga ke Kampung Prajurit proyek itu dikerjakan. "Pengerjaannya baru dikerjakan seminggu sebelum bulan puasa," kata Kesuma.
Tender proyek itu baru berjalan tanggal 22 Juni 2012. Karena musim
kemarau tahun ini dan air surut pada pertengahan bulan Juli, proyek baru dapat
dikerjakan menunggu musim kemarau tiba.
Proyek itu menelan dana anggaran Rp. 1.078.542.300 khusus untuk
pengerjaan fisik saja. Besar total proyek mencapai Rp. 6.000.000.000, dengan
kontrak Rp. 5.900.000.000 tahun 2010 untuk pengadaan material. Seperti batu,
kawat, tiang, dan kebutuhan material pembangunan bronjong itu.
"Pengerjaan baru bisa dilakukan pada tahun 2012. Karena 2 tahun
belakangan intensitas curah hujan cukup tinggi, dengan musim kemarau yang
cepat," ungkapnya.
Rawan Longsor
Rawan Longsor
Kapuas Hulu merupakan kabupaten paling ujung Kalbar atau daerah hulu Sungai Kapuas. Pada masa lampau, transportasi air menjadi favorit masyarakat. Jalan melalui darat sebelum tahun 1990an masih belum ada. Itu juga yang membuat masyarakatnya memilih tinggal di tepian sungai Kapuas. meski ancaman air pasang, tak membuat mereka pindah jauh dari tepi sungai.
Ancaman longsor pernah dialami masyarakat Desa Teluk Aur, Kecamatan Bunut Hilir. Kurang lebih membutuhkan waktu tiga jam kurang sampai di tujuan. Satu-satunya akses jalan menuju ke sana hanya bisa dilalui dengan jalur sungai.
Borneo Tribune bersama Gunawan (Kepala BPBD), Sofiah, ST. MT (Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD) dan Raymundus, ST. M.Eng (Kasi Perencanaan, Bidang Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga dan Perairan Kapuas Hulu) mengunjungi 47 KK yang terancam terkena tanah longsor pada tanggal 30 Juli 2012. Bahkan di sana, para murid TK diungsikan ke SD dan SMP satu atap agar mereka terhindar dari bencana longsor.
Kondisi tanah longsor di Teluk Aur sangat mengkhawatirkan. Arus sungai menerjang tanah dan tiang bangunan perumahan guru TK. Penghuninya terpaksa diungsikan pula.
"Air pasang terjadi 3 kali menerjang sepanjang 500 meter di Desa
Teluk Aur. Tinggi air mencapai 30 meter. Pohon-pohon tidak dapat menahan
terjangan air," kata Rustam Usman, Camat Bunut Hilir.
Sebagai solusi, ada dua alternatif relokasi ke 47 KK itu. Pertama di seberang sungai Kampung Teluk Aur, atau pindah lebih ke dalam lagi, jaraknya 1,6 km dari lokasi ancaman longsor. Bila bertahan, kekuatan tanah tidak memungkinkan lagi menahan kekuatan arus sungai.
Sebagai solusi, ada dua alternatif relokasi ke 47 KK itu. Pertama di seberang sungai Kampung Teluk Aur, atau pindah lebih ke dalam lagi, jaraknya 1,6 km dari lokasi ancaman longsor. Bila bertahan, kekuatan tanah tidak memungkinkan lagi menahan kekuatan arus sungai.
"Di Teluk aur, resapan air kuat dari bawah. Di sana dasar tanah
sudah retak duluan. Sehingga sulit bisa ditangani dengan bronjong. Berbeda
dengan di Kampung Prajurit, tanahnya masih kuat, tetapi sewaktu-waktu bisa
longsor bila tiba karena arus. Jadi sekarang masih mampu dengan bronjong,"
katanya.
Titik-titik rawan ancaman longsor lainnya di Kapuas Hulu bisa dijumpai
di Benua Martinus di Kecamatan Embaloh Hulu, Melapi di Kecamatan Putussibau
Selatan, dan Kecamatan Embaloh Hilir.
Ketua RW 3/RT 2, Jalan Sibat, H. Supardi, mengaku adanya proyek itu membuat tanah bisa terkendali untuk sementara waktu walaupun tidak selamanya. Hanya saja sebagai warga ia minta pemborong bekerja mengejar waktu. "Kalau sudah air pasang, tinggi air mencapai 50 meter. Tempat kita berpijak sekarang pakai sampan kalau sudah banjir," kata Supardi.
Sementara pengurus RT/RW berkaitan dengan masalah bantuan, Supardi meminta agar penerima bantuan adalah warga yang menerima tepat sasaran. "Data-data harus dilaporkan sehingga yang menerima bantuan tepat sasaran," katanya.
Mustawadin berharap tidak pindah dari tempatnya tinggal sekarang. Eksotik Sungai Kapuas menjadikan pemandangan indah yang tak ia temui di tempat lain. "Sore-sore menghabiskan waktu berbuka puasa melihat sungai Kapuas di waktu surut senang sekali. Lihat mereka di seberang sana saling berbalas meriam karbit," kata Mustawadin.
Ketua RW 3/RT 2, Jalan Sibat, H. Supardi, mengaku adanya proyek itu membuat tanah bisa terkendali untuk sementara waktu walaupun tidak selamanya. Hanya saja sebagai warga ia minta pemborong bekerja mengejar waktu. "Kalau sudah air pasang, tinggi air mencapai 50 meter. Tempat kita berpijak sekarang pakai sampan kalau sudah banjir," kata Supardi.
Sementara pengurus RT/RW berkaitan dengan masalah bantuan, Supardi meminta agar penerima bantuan adalah warga yang menerima tepat sasaran. "Data-data harus dilaporkan sehingga yang menerima bantuan tepat sasaran," katanya.
Mustawadin berharap tidak pindah dari tempatnya tinggal sekarang. Eksotik Sungai Kapuas menjadikan pemandangan indah yang tak ia temui di tempat lain. "Sore-sore menghabiskan waktu berbuka puasa melihat sungai Kapuas di waktu surut senang sekali. Lihat mereka di seberang sana saling berbalas meriam karbit," kata Mustawadin.
Duar...duar.... Suara meriam karbit menggelegar dari Kampung Prajurit.
Tak ketinggalan para pemuda dan anak-anak dari seberang sungai saling membalas dengan suara meriam. Suasana semakin meriah.
Dan sampai kapan suasana ini bisa bertahan?

Comments
Post a Comment