Ross Gordon
Beijing- Meski sering menemui hambatan, sekolompok kecil wartawan
investigatif di China terus membongkar korupsi pejabat dan perilaku kriminal. Mereka
membahayakan diri mereka sendiri.
Konstitusi China dan Rencana Aksi HAM Nasional, yang mengamanatkan
negara satu partai ini untuk memperkuat “hak-hak dan kepentingan hukum” para
wartawan, menjamin kebebasan pers, tapi jarang memberikan hak untuk melaporkan
secara bebas. Wartawan yang gusar atau mempermalukan pemerintah dan perusahaan
swasta berhubungan baik dengannya sering kehilangan pekerjaan atau mengalami
nasib buruk.
Karena sebagian besar media di China adalah milik negara, liputan
investigatif dalam bentuk apapun sangat jarang. Pemerintah secara rutin
melarang pemberitaan atas isu-isu tertentu. Bahkan sebelum berita-berita
diajukan ke pejabat untuk dikaji, mereka sering melakukan sensor diri.
Kontrol pemerintah atas media diperketat menjelang Olimpiade Beijing
2008, dan pembatasan masih berlaku hingga hari ini, kata Phelim Kine, seorang
peneliti Asia untuk Human Rights Watch yang bermarkas di New York.
“Pemerintah terus mencari cara baru untuk merusak perkembangan media
bebas sesungguhnya di China,” kata Kine kepada IPS. “ini proyek yang sedang
berlangsung dan mereka ahli. Yang digarisbawahi pemerintah China adalah usaha
mereka untuk mempertanyakan monopoli kekuasaan selama 60 tahun lebih dan mereka
sadar kontrol media sangat penting untuk mewujudkannya .” Tapi beberapa
wartawan mau menggali lebih dalam dan berhasil.
Pada bulan Juli, misalnya, kepolisian provinsi Zhejiang mengeluarkan
surat tuntutan untuk Qiu Ziming, wartawan mingguan bisnis Economic Observer, atas pengaduan sebuah perusahaan lokal
berpengaruh karena Qiu membongkar insider trading (transaksi perdagangan
sekuritas berdasarkan informasi orang dalam yang belum atau tidak disiarkan
kepada publik). Atasan Qiu menyuarakan
dukungan mereka terhadap liputan Qiu dan surat tuntutan itu pun ditarik. Polisi
kemudian meminta maaf kepada pubik. Hal yang jarang terjadi.
Semakin banyak jurnalis warga menggunakan blog dan perkakas interne
lainnya untuk menyebarkan berita sebelum informasi tersebut disensor. Dan media
seperti Southern Weekend, Southern
Metropolitan Daily, dan Beijing News
lebih bebas dari sensor untuk melaporkan isu-isu sensitif.
“Salah satu yang menginspirasi jurnalisme China, bahwa ada orang yang,
meski sensor negara begitu meresap, mempertaruhkan karier mereka, gaji mereka,
kemampuan mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru...mau menolak amplop, untuk
mendapatkan berita yang untuk sebagian besar orang berkuasa lebih suka mereka
tak meliputnya,” kata Kine.
Tapi resiko dari otoritas di China yang tertantang juga kian besar. Pada
23 Juli, Gheyret Niyaz, wartawan Uighur dan editor situsweb Uighurbiz, dijatuhi
hukuman 15 tahun penjara karena “membahayakan keamanan negara.” Tahun
sebelumnya, Niyaz bikin marah pemerintah dengan memberikan wawancara kepada
media asing setelah kerusuhan etnis yang meletus di provinsi Xinjiang, rumah
bagi beberapa kelompok etnis termasuk Eighur yang berbahasa Turki.
Minggu yang sama saat putusan Niyaz, tiga wartawn lain dari Xinjiang
dituntut dengan tuduhan sama dan dihukum antara tiga sampai 10 bulan. Pada bulan
Maret, Zhang Hong, editor Economic Observer,
dipecat beberapa hari setelah menjadi co-writer
editorial yang menyerukan penghapusan sistem hukou (pendaftaran rumah tangga). Pada
bulan Juni, Boa Yuehang, editor harian China Economic Times, dipecat setelah mengungkap skandal di utara
provinsi Shanxi yang mengaitkan kematian empat anak dan 17 orang sakit dengan
pengadaan vaksin.
Dalam kasus-kasus terburuk, wartawan mengalami kekerasan atas liputan
isu-isu sensitif. Pada bulan Juli, seorang pria tak dikenal memukuli Chen
Xiaoying, reporter China Times, sebagai balasan atas liputan Chen mengenai
dugaan kesalahan Shenzhen State
Enterprise Co. Pada bulan April, kelompok berjumlah 10 orang mengenakan
pakaian preman menyerang Yang Jie, reporter Beijing News, saat dia mengambil
gambar sebuah tempat yang dibongkar paksa.
Pada bulan Juni, Fang Xuanchang, wartawan investigatif terkemuka dari
majalah bisnis berbahasa China Caijing,
dirawat di rumah sakit setelah diserang preman menggunakan baja batangan. Fang
mengungkap keberadaan gandum yang dimodifikasi secara genetis di China;
menentang seorang ilmuwan di sebuah televisi yang mengklaim dapat memprediksi
gempa bumi; dan mengungkap seorang dokter yang mengklaim punya obat untuk
kangker.
Fang mengatakan kepada majalah Foreign
Policy bahwa para penyerangnya jelas-jelas berusaha membunuhnya. Tak ada
penangkapan yang dilakukan.
Wartawan bukan hayan menghadapi pemerintah. Menurut laporan pada
Agustus lalu oleh Reporters Without
Borders, sebuah organisasi nonpemerintah internasionali untuk kebebasan
pers, wartawan kian jadi target ancaman dan sensor dari perusahaan sektor
publik dan swasta.
Dalam satu kasus, dua wartawan diinterogasi polisi setelah menulis
tentang massalah di Hanlin, sebuah perusaahaan bioteknologi di shandong, untuk
situsweb Qianlong.com. Tulisan itu dicabut setelah departemen propaganda lokal
diberitahu penguasa di Beijing.
“Ini tren yang kian mengkhawatirkan,” kata Vincent Brossel, yang
bertanggung jawab atas Dsk Asia pasifik di Reporters
Without Borders. “Hanya dalam beberapa minggu kami mengalami pemukulan,
penyerangan, kasus penahanan, dan sensor atas (isu-isu sensitif).”
Brossel mengatakan satu-satunya cara menyelesaikan masalah ini adalah
pemerintah daerah dan nasional mendukung media, bukan perusahaan. “Tapi apa
yang kami temukan dalam kasus-kasus terbaru adalah bahwa perusahaan memiiki
cukup pengaruh dan uang dan kekuasaan untuk mendapat dukungan dari polisi dan
pemerintah lokal.... Pemerintah seharusnya beridir di pihak kebebasan media dan
hak untuk tahu.
Translated bu Imam Shofwan. Edited bu Budi Setiyono. Naskah di atas
diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS. Diambil dari Borneo Tribune,
Rabu 22 September 2010.
Comments
Post a Comment