Menjaga Temali Etnisitas di Sungai Kakap

Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Tampak dari atas suasana kapal klotok pengangkut ikan di Desa Sungai Kakap.
Foto: Viodeogo/Borneo Tribune
Suara kapal klotok perlahan-lahan menyusuri Sungai Kakap setelah pulang dari Laut Cina Selatan. Seorang awak berdiri di paling ujung kapal. Dia berteriak memberitahukan kepada Nahkoda kapal, agar body kapal tidak menyentuh pondasi Jembatan Bintang Tujuh.

Sangat pelan sekali, kapal bergerak. Asap hitam tetap mengepul ke udara keluar dari cerobong kapal. Kapal berwarna biru itu berhasil melewati di bawah Jembatan Bintang Tujuh. Sekitar 30 Meter bersandar di dermaga.

Para kuli pengolah ikan hasil tangkapan bergegas mendekati kapal. Mereka memasukkan ikan-ikan dari laut ke box-box yang diisi dengan es batu. Ikan itu kemudian ditimbang. Hasil tangkapan dominan ikan Pari dan Hiu. Para agen ikan telah menunggu ikan hasil timbangan. Agen kemudian membawa ikan itu ke Kota Pontianak, Sungai Pinyuh, dan beberapa daerah lainnya.

Begitulah rutinitas kapal-kapal pengangkut kapal pulang dari melaut menuju dermaga harus melewati jembatan Bintang Tujuh dengan hati-hati. Sedangkan kapal lain bersandar ada yang sedang diservis.

Aseng (32 th) terjaga dari tidurnya. Anak laki-lakinya bernama Vixcel (11) membangunkan Aseng dari tidur siang. Dia terjaga karena panggilan anaknya. Dia keluar menemui saya. Dia adalah seorang Juragan ikan asin. Hari itu bukan jadwalnya berangkat ke laut. Dia bercerita, jika ingin melaut dalam waktu dekat ini, kisaran 2 minggu lagi.

Aseng tinggal di Dusun Merpati, Desa Sungai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Dusun ini berada setelah Jembatan Bintang Tujuh. Jaraknya Sungai Kakap-Kota Pontianak kurang lebih 1 jam saja dengan kendaraan bermotor.

“Terhitung hanya sebulan sekali saya melaut,” ujarnya. Dia pergi bersama-sama dengan 4 anak buahnya, menuju laut Cina Selatan. Hasil tangkapan ikan kemudian diolah menjadi ikan asin dan kemudian dijual. Setelah kembali, ada kalanya kapal motor miliknya tidak melewati Jembatan Bintang Tujuh. Seringkali pula motor klotoknya melewati bawah jembatan.

Jembatan itu dikeramatkan oleh masyarakat Desa Sungai Kakap, khususnya para nahkoda kapal menuju Dermaga Kapal Desa Sungai Kakap. Masyarakat mempercayai bila ujung kapal menabrak pondasi, sesuatu akan terjadi pada kesialan kapal yang menabrak.

“Dulu seringkali kapal menabrak jembatan itu, hasil tangkapan tidak laku. Dalam setahun ada saja kapal yang menabrak. Biasanya kapal itu dijual dengan harga paling murah, atau tidak dipergunakan lagi oleh pemiliknya,” kata Aseng.

Aseng berbicara dengan bahasa melayu Pontianak. Tapi terasa sekali logat bahasa Tio Ciu yang ia ucapkan. Sudah 10 tahun ia menjadi seorang juragan ikan asin belum pernah menabrak Jembatan Bintang Tujuh. Anak buah kapalnya sudah paham agar melewati jembatan dengan hati-hati.

“Anak buah saya orang Bugis, dari Bapak hingga anaknya. Mereka ngerti aaa..dengan adat kami. Tidak mau sembarangan bekerja. Saya suka dengan cara kerja mereka,”

Karyawannya semua merupakan orang dari Suku Bugis. Aseng tergabung di Balai Karyawan Kapal Klotok. Satu balai berisi belasan karyawan. Di balai itu, Aseng bergabung bersama-sama dengan paman dan bapaknya yang sama satu profesi. Hanya saja pamannya bukan juragan kapal. Pamannya buruh pengangkut hasil tangkapan ikan.

“Orang-orang Bugis itu, memang sudah lama kerja dengan kami. Ada saudara-saudara yang mau kerja, kami terima.” Ada yang ikut dengannya, kata Aseng lebih 10 tahun. Ia mengakui bahwa orang seperti dirinya Tionghoa, kalah dengan cara kerja orang Bugis dalam hal mencari ikan.

“Mereka lebih paham dengan Laut Utara di sana. Tujuannya sampai ke perbatasan Pulau Natuna, dan Kepulauan Riau,” kata Aseng. Sekali tangkap, Aseng dapat 3-4 ton hasil tangkapan. Aseng memiliki 2 jenis kapal klotok yatu pukat mata halus dan pukat mata kasar. Pukat mata halus, itu bisa menjaring ikan-ikan dengan ukuran lebih kecil seperti ikan-ikan karang, ikan Merah, Ikan Tongkol, dan Ikan Manyu. Kalau pukat mata kasar itu dapat menjaring ikan jenis Hiu dan pari-pari saja.

Hasil bagi tangkapan 40:60. Setelah mengeluarkan biaya pengeluaran ongkos transportasi, es batu, makanan, dan Solar. Barulah dibagi hasil dengan karyawannya. Ia mengakui pemakaian solar lebih mahal. Dalam pulang pergi menampung 2000 liter. Untung bersih hanya Rp 5 juta.

Pemilik kapal klotok sedang menyandarkan kapalnya untuk dicat ulang.
Foto: Viodeogo/Borneo Tribune
Suatu ketika, dalam perjalanan dengan cuaca berkabut, kapal menyasar sampai perbatasan negara Malaysia. Polisi penjaga pantai Malaysia menuduh, awaknya memasang pukat. Akibatnya, polisi merazia kapal dan menahan selama 3 bulan para awaknya. Tapi kejadian tersebut tidak membuat dirinya marah kepada anak buahnya.

Hingga sekarang, Aseng sangat mempercayai para awak kapalnya. Aseng sering berkomunikasi dengan para anak buahnya menggunakan bahasa Tio Ciu. Hanya saja dalam perayaan Imlek, mereka lebih memilih ke Laut. “Kecuali lebaran kita, mereka ke laut. Acara Lebaran tidak datang, karena jauh dari Kakap,” ujarnya. Aseng mengartikan Lebaran itu Imleknya orang Tionghoa.

Aseng mengatakan, kehidupan masyarakat di Sungai Kakap antar etnis tanpa ada gesekan fisik dan cekcok mulut membawa nama suku. Walaupun berbeda strata pekerjaannya.

Ia sendiri memiliki adik ipar yang menikah dengan suku Dayak. Malahan Pamannya sendiri orang Melayu. Ia pun memiliki paman beragama Islam.“Pak Mude (paman) saya menikah masuk Islam. Sekarang dia Melayu. Kalau Imlek sering menunjungi kami. Sebaliknya juga lah, kami ke rumah mereka kalau mereka Idul Fitri,” ujarnya.

Awalnya saat akan menikah dengan istrinya, pernikahan ditentang oleh nenek dan kakek Aseng. Tetapi Pak Mude berhasil menyakinkan orangtuanya, pilihannya tidak salah.

“Nanti abang singgah jak. Kalau abang mau ke arah Pontianak kan ada tikungan, rumahnya di samping warung warna kuning,” kata Vixcel, anak Aseng. “Dia menikah dengan orang melayu. Orangnya baik bah. Cuma sekarang lagi kerja bantu juragan mengangkut ikan,” tambah Aseng.

Aseng katakan pamannya tidak makan babi. “Dia ndak mau. Kami sekeluarga juga mengerti. Tapi kami tetap silahturahmi ke rumahnya,” ujarnya. Ia bilang bahwa anak pertama pamannya, mirip dengan adik laki-lakinya.

 “Mirip sekali. Benar mirip sekali,” ujarnya dengan senyum senang. Bila waktunya berkumpul dengan keluarga besar, bahasa Tio Ciu jadi komunikasi bersama.

Dia pun memiliki adek ipar laki-laki dari Istrinya menikah dengan wanita Dayak dari Desa Mandor, Kabupaten Landak. Ia menikah secara Khatolik, walaupun si adek ipar tetap memeluk agama Konghucu. Selain itu adek sepupunya perempuan menikah dengan Dayak dari Sanggau Ledo. “Ibu Suaminya orang Tionghoa, bapaknya orang Dayak,”

Perkawinan campur beda etnis di keluarga Aseng merupakan hal yang biasa. Jika satu keluarga mengadakan pesta makan-makan, Aseng akui rumah orang tuanya menjadi penuh. Begitu acara satu RT. Sebagai ketua RT 2/RW Dusun Merpati, Desa Sungai Kakap. Rumahnya tak jarang mengadakan hajatan.

Di RT itu, Aseng lebih dikenal dengan nama Andre Lay. Marga Lay merupakan marga bapak Andre. Di Sungai Kakap hanya keluarganya memiliki marga Lay. Sehingga warga penduduk asli sungai Kakap atau yang lama bertahun-tahun tinggal di situ mengenal dirinya. Di Kakap sendiri terdapat marga Tan, Lin, The, Goe, dan Gui.

Di dusun ini terdapat 25 KK. Hanya 2 pintu saja yang merupakan orang Dayak. “Tidak ada permasalahan beda agama. Malahan orang Dayak di sini luar kepala hapal bicara bahasa Tio Ciu,” ujar Aseng. Orang–orang Tionghoa di Dusun Merpati ada pula pendatang dari daerah lain. Yang bahasanya menggunakan bahasa Khek. Tapi percakapan sehari-hari di Sungai Kakap dengan bahasa Tio Ciu. 

Aseng sendiri awalnya menggunakan bahasa Khek. Bahasa Tio Ciu menjadi bahasa utama dengan bahasa Melayu untuk berkomunikasi dengan sesama warga di Dusun Merpati ini. 

“Istri saya orang Hok Lok bukan orang Kakap. Kalau saya Khek, karena Datok saya asli orang Khek,” ungkapnya. Aseng pernah mempelajari jejak identitas keturunan keluarga istrinya. Ternyata istrinya memiliki marga Lay. Dalam perkawinan orang Tionghoa, beberapa dekade lalu tidak diijinkan menikah dalam satu marga. Nenek Aseng tidak setuju bila dirinya menikah dengan satu marga.

Bahasa Pemersatu

Kristiana memegang Sandy dan keponakannya.
Foto: Viodeogo/Borneo Tribune
Kristiana (35 th) berteriak memanggil anaknya Sandy (6 th) yang sedang bermain dengan saudara sepupunya. Kristiana dengan bahasa Tio Ciu menyuruh Sandy masuk rumah, karena sedang hujan deras. Pemandu saya mengartikan ucapan Kristiana yang memanggil anaknya masuk ke dalam rumah. Saya membawa penutur agar lebih memudahkan saya diterima dalam keluarga Tionghoa.

Kristiana adalah seorang wanita Dayak Senakin. Dia menikah dengan Yam Ti (39 th). Pria Tionghoa asli lahir di Desa Sungai Kakap. Dalam 12 tahun pernikahannya, Kristiana dan Yam Ti dikaruniai 4 orang anak, yaitu Aleng (13 th), Rendy (9 th), Sandy (6 th) dan Ray ( 3 bulan).

Bahasa Tio Ciu kini bukan lagi bahasa yang menakutkan bagi dirinya. Awal-awal menikah, bahasa Tio Ciu menjadi kekhawtiran di dalam dirinya dalam menempuh bahtera rumah tangga. Namun, semenjak diboyong oleh suaminya ke Sungai Kakap setelah menikah secara adat Dayak dan pemberkatan secara Kristen di Senakin, sekarang bahasa Tio Ciu bahasa sehari-hari dalam widuri rumah tangganya.

“Saya bicara dengan anak saya dengan bahasa Tio Ciu,” kata Kristiana sambil memangku Sandy. Pemandu saya bilang, kalau Sandy memiliki struktur muka Dayak, dengan mata yang lebih besar. Itupun diiyakan oleh Kristiana. Dibandingkan anak-anaknya yang lain, Sandy lebih mirip anak Dayak pada umumnya. Tidak bermata sipit.

Tak jauh dari tempat kami duduk di samping rumah Aseng, suaminya duduk di teras depan rumahnya. Sesekali menoleh ke arah kami sambil tersenyum. Kemudian Yam Ti masuk ke rumahnya. Kristiana bilang, suaminya orang pemalu. Tidak terbiasa berbicara dengan para tamu.

Karena sore itu hujan deras, kami dipersilahkan Kristiana masuk ke ruangannya. Rumah ini sangat sederhana. Berlantai dan berdinding kayu. Atap seng. Masuk ke dalam, terdapat pemisah ruang tamu dan keluarga tanpa atap. Pemisah itu berjarak 2 meter. Fungsinya sebagai tempat meletakkan tong-tong besar penampung air hujan.

Di dalam ruangan keluarga itu terdiri sebuah televisi, dan lemari pakaian. Di dinding terpajang 4 bingkai foto-foto prosesi pemakaman adat Tionghoa. Lainya foto-foto gadis saudara Yam Ti dengan baju dan dandanan ala wanita di film-film klasik Bruce Lee.   

Kristiana pun keluar membawa Ray, anaknya yang baru berumur 3 bulan. “Anak saya yang pertama lahir dengan adat Tionghoa, seperti contohnya makan ayam yang diberikan arak, mertua saya yang minta. Tapi setelah itu saya ndak mau lagi. Bau arak, bisa mabuk rasanya,” ujarnya. Ayam masak arak itu bernama Ke Ciu dalam bahasa Khek, Koi Ciu dalam Bahasa Tio Ciu.

Kristiana dan suaminya tetap berbeda agama. Ia menganut agama Kristen, sedangkan suaminya Konghucu. “Gereja GKE ndak jauh dari sini keluar dari Pasar Kakap. Setiap minggu saya bawa anak-anak saya ke gereja. Suami saya ndak marah, orangnya cuek lah,” tuturnya.

Sehari-hari Kristiana hanyalah seorang ibu rumah tangga. Bangun pagi memasak untuk 2 anaknya yang akan berangkat ke sekolah. Sedangkan suaminya adalah kuli mengangkut ikan hasil tangkapan dari kapal-kapal yang baru datang dari melaut.

“Penghasilan suami dalam sebulan Rp. 5-6 juta. Tapi dapatnya tidak sekaligus. Biasa Rp. 800 ribu, atau ratusan ribu. Jadi ndak terasa uang terpakai untuk ini itu,” kata Kristiana. Karena hanya tamatan SMP dan suaminya SD, ia akui sulit untuk mendapat pekerjaan dengan pendapatan yang pasti.

Apapun pekerjaan yang suaminya lakoni, ia hanya mengharapkan suaminya bekerja seperti para pengangkut kuli orang Tionghoa lainnya di Sungai Kakap. Tidak meninggalkan anak-istrinya. Ia beruntung karena suaminya tidak kasar kepada dirinya. “Malahan kami sering diajak mertua makan-makan di rumah mertua,”

Setelah berbincang dengan Kristiana, saya teringat dengan Pak Mude -paman Aseng. Saya ke rumahnya, rumahnya keluar dari Pasar Kakap. Sempat bertanya kepada salah satu warung, pemilik warung menunjukkan rumah Pak Mude. “Rumahnya berwarna kuning, ada sangkar-sangkar burung,” kata pemilik warung.

Setelah memarkirkan sepeda motor di depan rumah yang dimaksud. Seorang pria tua menyapa saya. Ia mengaku Akau, Pak Mude Aseng. Saya sampaikan maksud dan tujuan saya menemuinya. Tetapi Dia mengaku baru pulang dari mengangkut dan memilah-milah ikan dari juragannya. Dia menyarankan istrinya menemani saya.

“Bapak baru saja pulang dari kerja dek, ingin istirahat,” kata Haryani istri Akau membuka pembicaraan saya. Haryani adalah istri Akau (56 th). Orang tuanya berasal dari Yogyakarta. Tetapi Haryani lahir di Desa Sungai Kakap 51 tahun lalu. “Saya orang Melayu, karena lahir di Kalimantan,” ujarnya mengidentitaskan dirinya sebagai orang Melayu walaupun kedua orangtua dari tanah Jawa.

Setiap hari ia menjual Pecel di pasar Kakap. Jualan pada malam hari, selepas magrib. Dulu sebelum mulai bermunculan tempat-tempat hiburan seperti permainan biliar, warnet, dan rental game, Haryani mendagangkan makanan pecel jam 4 sore. Pulang ke rumah sampai jam 11 malam, sekarang paling lama jam 2 malam.

“Saya numpang di orang Cin, orangnya baik. Tidak mau diminta uang sewa, yang penting tempatnya ramai. Karena pertanda dia banyak rezeki,” kata Haryani. Ia mengaku, Aseng paling menyukai pecel buatannya. Apalagi anak-anaknya Aseng.

Suaminya kini menjadi mualaf tidak membuat hubungan antar keluarga dengan suaminya retak. “Bapak dulu Budha, masuk Islam menikah dengan saya. Mamak dan adek-beradeknya baik, pengertian sama saya,” kata Haryani.

Haryani mengakui, almarhum kedua mertuanya orang mengerti dengan status ia dan suaminya. “Kalau dulu mamak mertua masih hidup, besoknya akan Tahun Baru Imlek, saya ditunggu oleh Ibu mertua di rumahnya. Makan besar,” ucap Haryani.

“Lauknya mamak pisahkan buat kau. Aku ndak mau sembarangan ngasi kau makan,” kata Haryani menirukan ucapan ibu mertuanya. Semenjak kedua mertua orang tua sudah tidak ada, Haryani merasakan kehilangan dua pribadi yang sempat menentang pernikahan dirinya dengan suaminya.

“Mamak suka kasih anak saya ampau, ikan asin, cencalok, dan terasi. Terasinya paling enak di Kakap ini,” cerita Haryani. Cencalok udang kecil yang difermentasikan. Haryani mengakui, walau kedua mertuanya telah meninggal, saudara-saudara dari orang tua Akau tidak menjauhi dirinya.

“Warung Kopi besar samping Vihara Utara, itu adek Mertua. Kalau ada acara makan-makan selalu jak menyisihkan kerupuk dan ikan asin buat kami,” ungkapnya dengan logat Melayu. Sewaktu Bapak mertuanya meninggal, Ibu mertua Haryani meminta Haryani menggunakan baju putih dan pengikat kepala. Pakaian khas agama Konghucu dalam upacara penghormatan kepada keluarga yang meninggal.

Haryani mengikuti serangkaian acara adat dengan pakaian putih. Anak-anaknya saat itu masih kecil. Ibu mertua Haryani memintanya mengenakan pakaian tersebut. Sebagai penghormatan terakhir kepada Bapak mertua, Haryani tidak menolak.

“Kau ni orangnya bagus yah. Payah menemukan menantu seperti dirimu,” Kata Haryani tiru ucapan Almarhum Ibu mertuanya teringat saat upacara penghormatan meninggalnya Bapak suaminya kala itu.

Haryani merasa perlu membalas kebaikan budi orang tuanya yang telah meninggal. Maka bila tanggalan wafat mertuanya, ia selalu mengingatkan suami dan anak-anaknya untuk bersembahyang. “Kau harus sembahyang untuk orang tuamu. Aku temankan kau sembahyang. Aku ndak megang dupa,” begitu ia ucapkan kepada suaminya.

Begitu pula kepada anak-anaknya. Ia selalu mengingatkan agar anak-anaknya tidak lupa dengan kakek-neneknya. “Anak saya sering tanya, bolehkan sembahyang ke Pekong. Saya sarankan pergi sembahyang. Itu Akong-Amak kalian. Doakan mereka,” kata Haryani. 

Sama dengan Kristiana yang saya temui sebelumnya, mendengar bahasa Melayu yang Haryani ucapkan, dialeg dan intonasi Tio Ciu terdengar sekali-kali. Haryani sebelum menikah dengan Akau, belajar bahasa Tio Ciu dengan siapa saja.

“Di keluarga suami, mereka pakai bahasa Cin. Kalau kita tak tahu, bodohlah kita. Maka belajar,”

“Ada satu tetangga yang mau mengajarkan bahasa Cin. Aku coba keluarkan bahasa itu ya, ternyata tidak ditertawai, malah diajarkannya. Kalau tempat lain diketawakannya,” tambah Haryani.

Kini ketiga anaknya Evan Julianto (25 th), Evi Mariana (21 th), dan Heri Chandra (20 th) bisa berbahasa Tio Ciu. Anaknya yang bungsu, Siska Aprianty (11 th) masih terbata-bata mencoba mengucapkan bahasa Tio Ciu kepada ketiga saudaranya.

Haryani menekankan, bukan berarti anak-anaknya bisa bahasa Tio Ciu kemudian gagah-gagahan. Dia tidak ingin anaknya menggunakan kata berbahasa kasar kepada teman-temannya. “Emak malu di pasar, apalagi di pasar itu banyak keluarga bapak kalian. Emak ndak mau, anak Melayu dinilai kasar bicaranya,” kata Haryani menasehati anak-anaknya.  

Dia memberitahukan kepada saya, jangan sembarang berbicara kasar di Desa Kakap ini. Karena bila seseorang pendatang luar Desa Sungai Kakap datang ke Sungai Kakap mengeluarkan kata atau kalimat kasar mendapat teguran dari orang Tionghoa Kakap sendiri. “Tukang kerupuk, sama cuci baju bisa bahasa Cin di sini,” ungkapnya.

Dalam kehidupan berkeluarga, Haryani menggunakan bahasa Melayu. Jika suatu waktu, ia sedang cerewet, suaminya sudah mengerti keluar rumah. “Kalau saya lagi ngomel—ngomel di rumah, suami saya ambil baju, keluar dia, tahu dia kalau saya mara,” kata Haryani sambil tertawa.

Peran Pemerintah Merekat Relasi Etnis

Di desa ini hidup warga hidup rukun walau berbeda etnis.
Foto: Viodeogo/Borneo Tribune  
Camat Sungai Kakap, Sudiono Supyanto, S.Sos, mengatakan hubungan etnis sudah terbentuk sejak lama di Sungai Kakap ini. Selama 3 tahun memimpin 14 desa di Kecamatan Sungai Kakap, hubungan etnis yang dominan mulai dari Suku Melayu, Tionghoa dan Dayak terbentuk secara alami.  

“Saya sebagai Camat Sungai Kakap selama 3 tahun, melakukan upaya-upaya pembinaan kegiatan keagamaan supaya tidak terjadi perpecahan. Itu yang kita hindarai. Peran pemerintah memberikan pengertian kepada warga-warga kehidupan harmonis sangat penting,” kata Sudiono. 

Kecamatan Sungai Kakap memiliki jumlah penduduk 101.200 jiwa. Terdiri dari 12 desa yaitu Desa Sepuk Laut, Desa Punggur Besar, Desa Punggur Kecil, Desa Kalimas, Desa Tanjung Saleh, Desa Sungai Belidak, Desa Sungai Kakap, Desa Sungai Itik, Desa Pal IX, Desa Sungai Rengas, Desa Juruju Besar, dan Desa Sungai Kupah.

Secara agama penduduk di Kecamatan Sungai Kakap yang beragama Islam berjumlah 89.502, Kristen 1496, Khatolik 1330, Hindu 165, dan Budha atau masuk dalam pencatatan pemerintahan Kecamatan Sungai Kakap sebagai Konghucu berjumlah 6531.

Pola pembagian pekerjaan didominasi oleh tiga etnis besar di Kecamatan Sungai Kakap yaitu, Tionghoa, Melayu dan Dayak. Warga Tionghoa lebih banyak berada di kawasan pesisir pantai yaitu Desa Kakap. Mereka selain nelayan juga pemilik Kapal Klotok. Etnis Melayu, Jawa, dan Madura berkerja di Sektor pertanian.Etnis Dayak lebih dominan di Desa Punggur bermata pencaharian pertanian.

Relasi Lentur Antar Etnis

Dr. Yusriadi, MA, pengajar Linguistik di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak melihat, bahwa fenomena relasi hubungan antar etnik di Sungai Kakap memiliki hubungan yang lentur. Menurutnya, bahasa Tio Ciu sebagai bahasa penutur menjadi bahasa yang mengikat hubungan ekonomi, sosial, budaya dengan etnis lain. Selain bahasa Melayu.

“Orang Tionghoa senang bila orang lain di luar etnisnya bisa bercakap dengan bahasa Tio Ciu. Itu adalah faktor penting menjalin relasi,” kata alumni Universitas Kebangsaan Malaysia ini. Ada apresiasi sosial yang tinggi yang diberikan orang Tionghoa kepada orang di luar etniknya, karena bisa berbahasa mereka.

Dia menilai, bahwa batas bahasa tidak segaris dengan batas suku. Jadi bahasa bisa melampaui batas-batas suku yang ada di Sungai Kakap. “Itu yang berbeda di daerah lain. Bahasa segaris dengan suku,” terang Yusriadi.

Pencitraan yang baik, dari warga Tionghoa Sungai Kakap harusnya menjadi model bagi daerah lain. “Di Kakap tidak dipakai istilah Tionghoa. Pemakaian kata itu hanya berlaku di pemerintahan saja. Kata Cina tercipta tidak menimbulkan kesan konotasi negatif. Jauh dari kesan ekslusif. Kita disambut dengan tangan terbuka. Kakap bisa menjadi model kerukunan antar etnis di beberapa daerah,” kata Dosen yang mengelola Club Menulis di STAIN ini membawa komunitasnya ke Sungai Kakap.

Comments