Belajar Menulis Langsung dari Penerima Nieman Fellowhip Harvard

Viodeogo
Borneo Tribune

Sebanyak 13 peserta beruntung bisa mengikuti pelatihan menulis yang disponsori oleh Eka Tjita Foundation bertempat di Sei. Rungau, Sampit, Kalimantan Tengah. Jadwal pelatihan dari tanggal 15-20 November 2010, mundur seminggu dari jadwal semula yang seharusnya 8-13 November dikarenakan anak Menteng Jakarta, yang sekarang menjadi Presiden AS mengunjungi Indonesia, dan salah satu instruktur pengajar kami harus meluangkan waktu untuk keperluan Obama hadir di Jakarta. 

Di daftar silabus yang diberikan kepada peserta, salah satu instruktur kami adalah Andreas Harsono. Andreas Harsono, yang mengabdikan hidupnya pada jurnalistik. Ia terlihat tak seperti umurnya yang sudah berumur 45 tahun, saat saya temuinya di Hotel Amaris, Palangkaraya. Masih tampak terlihat diumur 35 tahun ke atas. Berperawakan kulit putih, walau dengan rambut penuh dengan uban, kelihatan segar, dan bersih. 

Andreas Harsono
Ia orang ketiga Indonesia penerima Nieman Fellowship selama 1 tahun belajar jurnalistik di Universitas Harvard, AS. Pertama adalah Goenawan Moehamad dari Tempo, dan yang kedua Ratih Harjono dari Kompas. "Obama datang, itu bikin repot saja, sepanjang Jl. Thamrin-Sudirman itu tidak ada sama sekali Taxi lewat, karena jalan ditutup, aku harus jalan kaki menuju ke rumah," katanya. 

Kami akan berangkat ke Sei. Rungau, sebelum itu berkumpul di Wisma Edelweis sambil menunggu bis jemputan dan peserta yang belum lengkap. Dalam silabus kegiatan, muncul satu nama bernama JJ. Kusni sebagai guest speaker, dan kami bertemu di wisma itu. Dia tidak ikut bersama-sama dengan kami karena banyak pekerjaan di Palangkaraya. “Saya nanti Sabtu, di hari terakhir baru memberikan materi, walau hanya beberapa jam saja. Di sini saya masih banyak pekerjaan,” ujar pria yang lama berada di Paris itu kepada kami.

Bis fasilitas AC datang, dan perjalanan menuju Sei. Rungau butuh waktu 6 jam melewati kota Sampit. Pelatihan berada di Training Center perkebunan kelapa sawit PT. Abadipratama anak perusahaan dari Sinar Mas. “Saya sendiri tidak tahu, ternyata pelatihan dan penginapan miliknya Sinar Mas,” kata Andreas keheranan.

Sesampai di penginapan, kami baru memulai pelajaran setelah makan malam. Masuk ke kelas, dimulai dengan perkenalan. Berawal dari pengenalan instruktur yang mengajar kami selama 5 hari ke depan.

“Nama saya Andreas Harsono, sehari-hari saya di Pantau, dan beberapa lembaga mengontrak saya seperti Eka Tjipta Foundation, Human Rights Wacth, dan lainnya,” tutur mantan wartawan The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) ini. berikut Fahri Salam. “Saya freelance di Pantau,” ujarnya.

Terakhir adalah Andriani Kusni. “Saya menulis di beberapa kolom kebudayaan surat kabar di Kalteng, menemani ibu-ibu perajin ukiran, manik-manik, baju-baju Dayak,” kata pekerja budaya ini lembut dalam pengucapannya, dan memiliki kolom khusus kebudayaan di Kalteng Post.

Di antara instruktur kami bertiga itu, memang yang menonjol dari sisi pengalamannya adalah Andreas Harsono. Paling mudah mau membaca karyannya, bisa dilihat blog miliknya. Tulis namanya di mesin pencari kata-kata internet, terpampang namnya paling atas menyeruak di antara artikel-artikel lain.

Dalam waktu dekat ia akan meluncurkan buku berjudul –Agama Saya adalah Jurnalisme-. Ia adalah murid Bill Kovach, pengajarnya sewaktu menerima beasiswa belajar Jurnalistik di Harvad. Bill Kovach pernah menjadi Kepala Biro Washinton New York Times, dan penerima penghargaan Putlizer sebuah apresiasi tertinggi di dunia bagi jurnalistik, ketika ia memimpin redaksi harian Atlanta Jounal-Constitution.

Hasil karya terkenal yang dimiliki Bill Kovach adalah Sembilan Elemen Jurnalisme, bisa ditemukan di belakang sampul notes Pantau, dan notes milik harian Borneo Tribune. “Borneo Tribune mencantumkan 9 elemen jurnalismenya di notes mereka,” ujar Andreas Harsono sambil memegang mengangkat notes yang saya bawa sebagai catatan selama reportase itu.

Belajar di Kebun Sawit Sinar Mas

Menulis bukan sekedar panggilan jiwa, tidak cukup hanya bakat. Menulis perlu jelajah daya pikir yang tinggi, makanya pelatihan ini dinamakan Pelatihan Menulis dan Berpikir.

Di tempat lain, menurut Andreas Harsono, pelatihan menulis di Sei. Rungau selama 6 hari (15-20 November 2011) sangat-sangat kurang waktunya. Biasanya Pantau, mengadakan lebih dari 1 bulan, paling tidak lebih dari 1 minggu. Hari pertama pelatihan kami dibagikan buku karya Bill Kovach untuk masing-masing peserta.

Peserta yang ikut pelatihan datang dari kalangan tiga jurnalis termasuk saya, aktivis bagi masyarakat Dayak di Kalteng tiga orang, aktivis Walhi satu orang, mahasiswa Universitas palangkaraya empat orang dan teman dari PNS Dinas Agama Kalteng, dan satu orang wartawan harian di Palangkaraya.

Kami berbaur untuk belajar menulis di perkebunan sawit PT. Bina Sawit Abadipratama. Untuk 2 hari pertama, materi belajar dimanfaatkan untuk mengenal cara interview orang yang akan diwawancarai, lalu pengenalan tulisan secara narasi.

Kami juga ada jadwal menonton film dokumenter, sebelum diputar film berjudul Black the Road, diputar sebentar gambaran utuh penyiksaaan 2 pria Papua oleh TNI durasi 10 menit. Potongan gambar itu sempat menghebohkan tubuh TNI, karena diunduh di Youtube. Kekejaman militer Indonesia berlanjut saat kami menyaksikan film Black the Road, film dengan settingan perjuangan GAM di Aceh yang ingin memisahkan diri dengan Indonesia.

Berhenti sejenak setelah menonton, film, acara berikutnya untuk persiapan terjun lapangan keesokkan harinya dengan tujuan wawancara para buruh kebun sawit. Besok, kami menuju tempat tingga para buruh tidak jauh dari lokasi Training Centre tempat kami menginap.

Sebutan kompleks tempat buru yang kami tuju bernama Pondok I. Ada 3 mobil jenis L 300 yang membawa kami si pewawancara menuju lokasi. “Berdasarkan Deklarasi Brisbane yang membahas tentang new media, setiap warga bisa menjadi ‘wartawan’, tutur Andreas Harsono yang melihat sebagian dari kami tidak hanya dari wartawan. Aktivis, mahasiswa dan amsyarakat umum lainnya bisa juga menjadi wartawan.
Di Pondok I, kami pencar mencari buruh sawit. Info dari Aziri Syafirin, penanggung jawab Training Centre, mereka yang di Pondok I ada sebagian buruh lepas dan buruh tetap. Saya bertemu Umar Syaifuddin di dalam warung milik narto, rekan kerjanya.

Umar berasal dari Banyuwangi, di perkebunan inilah ia bertemu dengan istrinya yang juga seorang buruh dan guru untuk SD milik perusahaan. Dengan mengenakan singlet, tubuhnya yang hitam Umar mulai bercerita meninggalkan bapak, ibu kakak dan adiknya di kampung untuk mencari penghidupan di tanah Kalimantan. 

Terbit di Borneo Tribune, Minggu (28/11) dan Senin (29/11) 2010.

Comments