Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Ibarat pepatah gula, pasti semut mencari sumber gula itu, mengerumuni
dan dikumpulkan sebagai sumber makanan. Begitu pula bila pepatah itu ditujukan
bagi sistem pendidikan negara yang dipimpin PM Najib Razak, Malaysia. Di daerah
perbatasan saja, bagian negara Serawak, tepatnya di Lubuk Antok – salah satu kecamatan
dari Ibukota Sri Aman, denyut nadi dunia pendidikannya terasa bergairah sejak
memasuki wilayah itu.
Hari itu, Minggu (4/10), saya dan wartawan Mediator dan
Postkotapontianak.com berkesempatan melewati garis depan perbatasan antara
Indonesia-Malaysia. Dari Kec. Badau ingin ke Lubuk Antok, Malaysia, kita harus
urus KTP lebih dahulu di Kantor Imigrasi Sanggau Pos Lintas Batas Nanga Badau.
Ijin sudah keluar, kendaraan baru boleh melintas.
Bayang-bayang jalan rusak milik Indonesia sebelum sampai Malaysia benar
rupanya. Jalan berbatu, lubang membuat mobil oleng kiri kanan. Waktu belum 5
menit pertama, sudah terdapat pos TNI sebelah kiri. Tak jauh dari situ, tugu patok
batas dengan papan nama Indonesia-Malaysia mencolok pandangan mata. Beberapa
mobil plat Malaysia parkir dekat tugu itu. Penumpang sepertinya singgah sekedar
santai minum, karena ada warung kopi di situ.
Kendaraan mobil kami terus melaju dengan kecepatan 40 KM saja. Jalan
rusak tidak bisa membuat kendaran melaju dengan kencang. Kiri kanan jalan perkebunan sawit belum
berbuah milik Malaysia dengan perbukitan gersang, pemandangan sehari-hari
pelintas kendaraan.
Di ujung jalan sudah tampak jalan mulus bergaris marka putih jelas Malaysia
memotong batas dengan jalan yang rusak dari Badau –Indonesia. Cuma 15 menit
saja dari Badau ke Lubuk Antok. Kendaraan belok ke kiri menuju kota kecamatan
Lubuk Antok. Rumput tetangga memang lebih bagus, barangkali itu kata yang
pantas terucap. Dari mulai kami berangkat setelah berjam-jam hanya jalan rusak
dan yang belum diperbaiki saja milik Indonesia. Berbeda dengan jalan mulus
Malaysia berbanding 360 derajat dengan milik Indonesia. Tak lama terdapat pos
lintas batas yang dijaga petugas Polis Diraja Malaysia memeriksa syarat-syarat
identitas yang kami bawa.
Setelah melewati pos lintas batas, mulai terasa denyut gairah pendidikan
di Lubuk Antok. Tampak bangunan Elementary
School sama dengan Sekolah Dasarnya milik Malaysia. Dari luar gedung dipasang Air Conditioner dengan bangunan
permanen. Tak sampai 10 menit, tampak dari kejauhan, ada satu bangunan megah
seperti gedung apartemen di Jakarta. Rasa penasaran menyembul, bertanya-tanya
gedung apakah gerangan.
Itu adalah gedung asrama siswa-siswi SMK Lubuk Antok. Gedung itu di
dalam kompleks yang dibatasi dengan pagar kawat berduri. Tulisan besar di
samping gapura sekolah itu bertuliskan SMK Lubuk Antok begitu jelas dilihat
oleh setiap para pelintas kendaraan. Siswa-siswi keluar masuk, baik jalan kaki,
maupun dengan sepedanya. “Itu gedung asrama SMK,” kata supir kami.
Malaysia tampaknya ingin menunjukkan tajinya bahwa itulah pendidikan
sesungguhnya mereka di wilayah perbatasan Malaysia -Indonesia. Gadis remaja
berseragam olahraga SMK Lubuk Antok tampak lalu lalang keluar masuk sekolah.
![]() |
| Bangunan asrama SMK Lubuk Antok, Malaysia seperti apartemen di Jakarta. Foto: Viodeogo |
Indonesia sebenarnya sudah mulai akan menerapkan konsep sekolah
kejuruan. Kadis Pendidikan, Olahraga dan Pemuda Kab. Kapuas Hulu, Drs.
Antonius, beberapa waktu lalu pernah mengatakan, akan dibangung sekolah berkonsep
kejuruan di daerah perbatasan. Tujuannya, tamatan-tamatan SMP di
kecamatan-kecamatan seperti Puring Kencana, Empanang, Badau, Batang Lupar, Embaloh
Hulu, dapat bersekolah pula dengan berbasis Boarding School. Siswa-siswi dapat
menginap di satu tempat yang dibangun oleh pemerintah Indonesia. Tinggal
belajar sungguh-sungguh saja, tanpa harus memikirkan tempat tinggal.
Ternyata Malaysia sudah lebih jauh melangkah dibandingkan Indonesia dengan
konsep pendidikan berasrama bagi siswa-siswi di wilayah perbatasan. Itu pula
yang menunjukkan bahwa Malaysia tahu cara membangun kawasan perbatasan.
Ini kata Ketua DPRD Kapuas Hulu, Ade M. Zulkifli mengkritik cara
pemerintah Indonesia mengelola pendidikannya. “Program pendidikan Malaysia
jelas, kita yang tidak jelas. Sarana pendidikan Malaysia jauh lebih bagus
apalagi di daerah perbatasan, kita itu jangankan siswa siswinya pandai dengan
komputer, peralatannya saja tidak ada, mesin ketik saja tidak punya,” kata Bang
Teli, panggilan akrab pria jangkung berkacamata itu.
Kritik pedasnya lagi terhadap potret pendidikan Indonesia ia lontarkan.
“Banyak yang telepon ke saya, minta tolong suarakan sekolah-sekolah yang tidak
memiliki bangku-meja belajar. Belum lagi soal bangunan sekolah, di Malaysia
tidak usah saja masuk ke dalam, tapi dari luar berdiri bangunan kokoh sudah
dapat menarik simpatik kita,” ujarnya.
Itu baru realitas perbandingan infrastruktur pendidikan antara
Indonesia-Malaysia. Bicara infrastruktur jalan, Indonesia seolah-olah kalah
telak duluan.
Lihat sekolah sudah, kendaran terus melaju hingga akhirnya menuju
kompleks pasar. Sebuah kompleks pasar
dengan aneka ragam produk yang dijual. Dari pasar tradisional, warung kopi,
kedai makanan, berbagai macam food court,
swalayan mini, toko meubel. Salah satu food
court, di belakangnya terdapat taman untuk bersantai ria. Bersih kesan
pertama kali melihatnya. Sekitar 10 meter saja ada toilet. Sekedar buang air,
pengunjung harus keluarkan uang 2 sen Malaysia.
Tapi bukan itu yang jadi perhatian besar saya, rupanya terdapat sungai
yang membelah kecamatan Lubuk Antok. Taman itu menghadap ke sungai dengan
konsep pedestrian. Pemandangan sejuk terasa sekali di tengah terik matahari
garis equator, yang tak bisa dirasakan bila berada di kota Putussibau yang
panas terik. Lalu jangan harap bisa menemukan orang menghisap rokok.
Pandai nian, pemerintah Malaysia menata ruang kota kecamatannya.
Pemerintah Malaysia tahu, karena jarak dekat bukan hal sulit bagi warga
Indonesia mengunjungi paling dekat wilayah Malaysianya. “Belum ke Sri Aman kan,
itu ibukota Kabupaten luasnya mirip Kota Putussibau. Tapi cantik sekali konsep
pembangunannya,” kata Yohanes Telajan, staf Humas Setda Pemkab Kapuas Hulu,
saat saya berbincang-bincang dengannya tentang Sri Aman Malaysia, Jum’at (7/10)
di ruang Humas.
Terbit di Borneo Tribune, Sabtu, 8 Oktober 2011
Terbit di Borneo Tribune, Sabtu, 8 Oktober 2011

Comments
Post a Comment