Catatan Jurnalis di Garis Depan Perbatasan Antar Negara (bagian 1-5)



Menginjakkan kaki di perbatasan Indonesia-Malaysia. Hari itu, pintu batas perbatasan milik Malaysia masih berupa tanah. Tak lama berselang, seminggu kemudian Malaysia mengaspal jalan tepat di belakang saya berdiri itu.



Puring Kencana yang Merana

Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau

Hari itu pun tiba waktunya, hari di mana memiliki kesempatan menatap langsung dari dekat kehidupan masyarakat satu kecamatan di paling ujung utara kab. Kapuas Hulu. Kecamatan yang sering disebut-sebut oleh orang, pejabat-pejabat pemerintahan kabupaten, perwakilan DPRD, serta media-media cetak maupun elektronik sebagai kecamatan dengan infrastruktur paling suram.

Jum’at, siang hari di tanggal 29 Juli 2011, pertama kali saya menginjakkan kaki di kecamatan Puring Kencana. Kecamatan yang sangat terkenal dengan istilah perumpamaan “antara Langit dan Bumi”. Kecamatan yang yang bersebelahan dengan negara tetangga Malaysia.

Langitnya Malaysia dengan infrastruktur jalan mulus, listrik terus terang-terang terus, kesehatan terjamin mutu dokter dan fasilitas medisnya, dan pendidikan dengan sarana prasarana lengkap. Lain hal dengan Puring Kencana, adalah cerminan Indonesia. Jalan belum juga beranjak dari tidurnya masih sangat memprihatinkan kondisinya, kesehatan tanpa dokter ditambah fasilitas kurang memadai, dan tingkat pendidikan hanya sampai serta sarana pendidikan yang ala kadarnya.

Saya ikut turut rombongan Wakil Bupati Kapuas Hulu, Agus Mulyana menuju Puring Kencana. Kunjungannya itu adalah kali pertama, dari belum genap satu tahun ia menjabat sebagai pendamping AM. Nasir, Bupati Kapuas Hulu. Pertimbangan dengan seabrek tugas ke pemerintahan dan tentu jarak yang begitu jauh dari Putussibau ke Puring Kencana, mungkin menjadi alasan menunda sementara ia melihat rakyatnya di kecamatan ini.

Sebelum menuju Puring Kencana, di Kec. Nanga Badau, di kantor pemerintahannya Ahmad Salafudin, Wakil Bupati melepas akhir serangkaian Kuliah Kerja Nyata (K2N) Mahasiswa Universitas Indonesia. Jumlah 21 orang. Tanda tanya besar muncul di ubun-ubun kepala. Mengapa UI memilih Badau? Karena Badau, wilayah terdepan dan berbatasan langsung dengan negara lain. Dra. Sri Murni, Ketua panitia K2N 2011 UI mengatakan seperti itu.

PLB Nanga Badau menjadi lokasi dari sekian daerah-daerah lain di Indonesia sebagai pilihan lokasi K2N UI. Selain Badau daerah lainnya yaitu, Desa Wayabula Kec. Morotai Selatan Barat Kepulauan Maluku; Pulau Palue di Kab. Sikka NTT; Pulau Ende di Kab. Ende NTT; Kep. Meos Bekwan dan Distrik Waigeo Utara Raja Ampat; Kec. Wasior di Papua Barat; Desa Ombay, Desa Maritaing, Desa Kolana di Kab. Alor NTT; Desa Ustutun di Maluku Utara; dan Desa Haumenia Ana dan Desa Nilulat di Kab. TTU NTT. Borneo Tribune, Kamis (29/7). 


Lokasi lain K2N UI yang disebutkan di atas merupakan wilayah-wilayah yang berbatasan dengan kabupaten sesama negara Indonesia dan berbatasan dengan negara lain seperti dengan Filipina dan Timor Leste. Pemandangan lain dari pada lainnya mencolok di depan mereka. Di Badau, mahasiswa-mahasiswi UI melihat langsung mobil-mobil plat Malaysia hilir mudik, sandang papan made in Malaysia, dan listrik yang menerangi kehidupan sehari-hari masyarakat berasal dari Malaysia pula.  

Waktu sedikit, jarum jam terus berputar seirama bersama putaran bumi mengelilingi matahari siang itu. Agenda rombongan harus bergegas menuju Puring Kencana, sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Tetapi sebelum menuju Puring Kencana, paling diharapkan adalah memantau kondisi PLB Badau – Lubuk Antu. Secara fisik, PLB Badau Indonesia sudah siap. Hingga garis terdepan fisik jalan mulus, bangunan siap pakai, berbanding 360 derajat dengan milik Pak Cik-Mak Cik. Hingga garis terdepan masih jalan tanah.
Keterangan Foto: Perbedaan PLB Indonesia dan Malaysia. Indonesia dari sisi bangunan PLB lebih siap ketimbang Malaysia. Ironinya Indonesia lebih memperhatikan PLB terlebih dahulu, tapi masyarakat perbatasan masih minim dengan infrastruktur jalan dan listrik. Berbanding terbalik dengan Negara Malaysia.
Foto: Viodeogo
Tapi pemandangan paling mencolok mata, adalah perkebunan sawit milik Malaysia di kiri kanan. Indonesia paling mencolok adalah pemandangan hutan belantara, di antara berdiri pohon-pohon karet. Baju-baju almamater berwarna kuning itu, tak ketinggalan mengabadikan jejaknya pernah berada di daerah perbatasan. Sesampai di Jakarta, mereka ceritakan, Malaysia punya perbatasan, Malaysia punya makanan, Malaysia punya Listrik dan Malaysia yang menampung TKI-TKI Ilegal Indonesia.

Banyak yang mengatakan bangunan lintas batas Malaysia belum jadi-jadi, namun mereka membangun infrastruktur dekat perbatasan seperti jalan dengan mulusnya, listrik 24 jam (Badau dapat suplai dari listrik Malaysia), kesehatan kualitas baik (tempat rujukan warga perbatasan Indonesia), dan pendidikan mutu mumpuni.

Lihat kondisi pintu PLB milik kita sudah, lanjut istirahat makan siang, dan bersiap-siap ke Puring Kencana. Tersedia 3 mobil gardan siap meluncur. Wartawan naik Angkudes, yaitu jenis gardan disediakan bagi transportasi masyarakat di kecamatan-kecamatan wilayah perbatasan. Sesuai namanya gardan diperuntukkan untuk jalur jalan yang menantang. Mobil angkudes yang kami naiki itu sungguh mengenaskan sekali kondisinya. Atap mobil seperti ingin lepas saja setiap mobil melewati jalan jelek. Gagang belakang untuk naik patah, terlihat bekas dilas berkali-kali.
 Keterangan Foto: Mobil gardan Satpol PP tarik mobil Angkudes yang amblas tak bisa melewati jalan rusak. Foto: Viodeogo, Borneo Tribune



Brak..brak..brak.. suara atap angkudes bergoyang setiap melewati jalan rusak. Tempat duduk di bak bagian belakang terlihat retak bawahnya. Orang melayu Kapuas Hulu bilang suram oi, mengerikan. Khawatir tiba-tiba saja atap bisa lepas seketika dan menimpa kami.  

Anak Bangsa di Lingkaran Keterbatasan Fasilitas
Sampai ke Puring Kencana pukul 5 sore, berangkat dari Badau pukul 1 siang kurang. Lama singgah di Kecamatan Empanang, kecamatan sebelum Puring Kencana. Di kecamatan ini, Wakil Bupati didampingi Kepala Satpol PP Pemkab Kapuas Hulu, Dini Ardianto menyempatkan melihat puskesmas Empanang. Nasibnya kasihan. Tabung oksigen tidak ada.

Ruang rawat inap minim tempat tidur. Bersihkan peralatan medis dari air sungai tapi air sungai tercemar merkuri akibat PETI ilegal. Lainnya, jika masyarakat Empanang sakit parah, tinggal milih dirujuk ke Badau, Putussibau atau Malaysia. “Infus saja kita gantung dikaitkan di tali yang ada pakunya,” kata dr. Ricky Winata. Satu-satunya dokter di Kec. Empanang. Ia juga menjadi dokter untuk di Kec. Puring Kencana. Paling tidak sebulan sekali ia ke sana.

Bekerja di daerah perbatasan memang bukan keinginan semua orang. Jauh dari keterbatasan, mulai dari susahnya mendapatkan sarana transportasi yang memadai, minim listrik hingga informasi, membuat dahi mengernyit memutuskan mau atau tidak berada di perbatasan. Camat Empanang, bahkan dijuluki masyarakat Empanang sebagai Camat 3 hari. Julukan itu diberikan kepada Indrayadi, Camat Empanang yang jarang berada di tempat untuk melayani aspirasi rakyatnya.

Warga Empanang mengeluhkan pemimpinnya justru lebih banyak menghabiskan waktu lain. Temenggung Adrianus Rawing, Yohanes Drani sebagai Dewan Adat, dan Antonius Bawing dari BPD yang mengatakan itu. “Saya tidak mau bicara soal itu,” kata Camat Empanang diminta penjelasannya tentang julukan itu.

Kami tidak lama, berada di Empanang. Karena harus harus cepat sampai ke Puring Kencana, sebelum senja terbenam menyapa kedatangan kami. Bayangan tentang perjalanan menuju Puring Kencana yang rusak parah mulai berputar-putar di kepala. Tapi kenapa sepertinya jalan masih mulus saja ini. Struktur jalan  tidak beraspal memang, tapi dibuat pengerasan jalan.

Akhirnya, jalan buruk itu pun di depan kami. Tepatnya setelah melewati simpang Nanga Merakai. Jalan berbatu, menanjak, bergelombang-gelombang dan berlubang seolah-olah simbol penanda gerbang selamat datang di jalan rusak. Terhitung mobil angkudes amblas 3 kali, ban itu tidak mampu melewati lubang jalan yang buruk. Terpaksa turun kami. Naik lagi, jalan lagi, dan turun lagi. “Aku takut atap ini lepas menimpa kita,” kata Masius, teman wartawan dari Kapuas Raya Post.

Akhirnya sampai juga di kecamatan. Muka, baju, celana menguning dan pegang rambut menjadi keras, seperti menggunakan hair spray, rambut kaku akibat serbuan debu. Sebabnya tak lain dan tak bukan, kaca-kaca mobil angkudes tak ada tutupnya, dan itu membuat debu mudah sekali masuk. Penumpang angkudes bukan kami saja para wartawan, bersama 2 polisi, dan 1 warga Puring Kencana ikut bersama kami sepanjang perjalanan tutup hidung menghindari debu jalanan.

Sesampai di Nanga Kantuk, ibukota kecamatan Puring Kencana, masyarakat sudah menunggu. Adat Iban menyambut kedatangan rombongan. Tabur tuak, dan potong leher ayam simbol menyambut tamu dari suku Dayak Iban. Istirahat sejenak, bergegas mandi dan makan malam.

Cahaya Lampu di Malaysia, Kegelapan di Puring Kencana (Indonesia)
Pukul setengah 8 malam waktunya makan malam. Sambil makan malam, malam itu sebenarnya kami menunggu pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Turkmenistan. Seru pasti pertandingan ini. Mau lihat seperti apa antusias masyarakat yang 30 menit jaraknya dengan negara tetangga melihat pertandingan ini. Pak Wakil Bupati, ternyata menunggu pertandingan itu.

Sambil menyuap nasi dan lauk yang disediakan ibu-ibu kecamatan, pertandingan sepakbola menemani kehebohan malam ini. “Gooooooool, gonzales lagi,” teriak seisi rumah. Indonesia unggul skor 4-1. Kenyamanan menonton mulai terganggu karena listrik tidak kuat tahan menahan beban pemakaian. Lampu sebentar-bentar redup. Tak lama mati. Tak sampai semenit hidup lagi. “Tolong gensetnya dihidupkan lagi, mana si itu,” teriak Hermanus memanggil pesuruhnya untuk hidupkan genset listrik.


Di rumah dinas Camat Puring Kencana, Drs. Hermanus Jamayung, menggunakan listrik tenaga surya. Penggunaan listrik hanya pada malam hari. Tidak semua masyarakat di Puring Kencana memiliki PLTS. Ada yang membeli listrik dengan bantuan genset. Tenaga surya hanya untuk keperluan kantor kecamatan saja. PLTS itu merupakan hibah dari Jepang.

Seperti di tempat lain, ada warga menggunakan listrik generator-solar sel. Sepasang suami isteri Bertus (46 th) Gada (41 th) membeli mesin genset pembangkit listrik merk Sanghai untuk menerangi rumahnya. Tak jauh dari rumah Bertus, sudah 66 tahun Indonesia merdeka, ada warga yang masih gunakan pelita minyak tanah. Hanya yang memiliki uang bisa membeli genset itu.

“Lebih memprihatinkan lagi listrik tidak ada di puskesmas,” kata Raymundus Ricky, warga Puring Kencana. Kalau mau berjalan sekitar 30 menit saja merupakan perbatasan Indonesia-Malaysia. Hamparan perkebunan sawit dan kampung tempat tinggal warga Malaysia. Cahaya lampu bagaikan keramaian kunang-kunang yang sedang berpesta di setiap malam harinya.

Begitupun dengan hiburan. Di candradimuka lain, masyarakat dapat menikmati segala informasi dari televisi dan internet. Sebelum Puring Kencana terdapat Kec. Empanang, di situ terdapat listrik 24 jam dari Malaysia. “Cuman inilah hiburan kami nonton tv, keluar rumah ladang karet, sepi sekali. Biasa kami di Putussibau merasakan ramai datang ke sini sepi,” kata Ny. Mentuak (istri Sekcam Puring Kencana). Keluarganya membeli Digital, semua acara tidak ada yang acara Malaysia. Tapi bila pasang antena biasa, chanel Malaysia lah yang mendominasi. 

Zaman sekarang handphone pun menjamur. Tak sedikit warga Puring Kencana memiliki handphone. Ironinya, di sana tidak ada satelit telekomunikasi. Baik itu merk Telkomsel dan Indosat yang memonopoli saluran seluler di Kapuas Hulu. Justru yang ada signal telekomunikasi milik Malaysia yang lancar seperti namanya DJ, Memesis, dan My Selkom. “HP saya tidak signal Indonesia,” kata Bertus.

Bertus adalah kepala sekolah di salah satu SD di Nanga Merakai Kec. Puring Kencana. Ia begitu senang tampaknya, tempat ia tinggal dikunjungi oleh orang luar. Ia sepertinya tahu orang luar ingin mengetahui kondisi Puring Kencana yang sungguh membuat hati ini luluh. Kondisi di mana selama berpuluh-puluh tahun, dari Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY kini, hidup dalam pusaran dunia keterasingan, dari bangun pagi, dan tidur malam lagi dilakoni sepanjang hidup warga Puring Kencana.

Tahun lalu Trans TV pernah meliput kondisi Kec. Puring Kencana. Bertus mengenakan topi pemberian dari crew salah satu tv swasta nasional itu. “Saya yang jemput mereka datang ke sini dan membawa mereka ke perbatasan sampai melihat Malaysia dari dekat. Jadi kalau ndak dapat-dapat rugilah, untungnya saya dikasih topi ini,” senang Bertus.

Laskar Pelangi di Daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia
Tubuh seperti remuk sekali rasanya. Ini dampak dari perjalanan yang cukup melelahkan bisa sampai ke Kec. Puring Kencana. Konsekuen harus berada di dalam bak belakang mobil angkudes yang kondisinya sangat memprihatinkan itu. Istirahat tidur adalah jawaban tepat memulihkan kondisi badan. Angin malam begitu dingin sekali. Sekcam menyiapkan tempat tidur untuk kami. Jelang subuh, dingin semakin menusuk tubuh. Sprei alas dari kasur yang tipis menjadi selimut, ibarat kepompong jadinya.

Pagi menyambut, nafas menghirup udara segar dari kecamatan yang sempat tahun lalu diisukan beberapa jumlah warganya ini ingin eksodus ke Malaysia, karena menilai Pemerintah RI tidak perduli menutup mata, dan telinga dengan kondisi rakyatnya.

Pagi itu dingin sekali, tak heran karena di depan rumah Sekcam belantara hutan dengan pepohonan karet. Sedingin perhatian pemerintah pusat seperti tak memalingkan mukanya di wilayah yang menjadi kaca beranda depan dengan negara lain ini. Berdasarkan data bulan Mei 2007, jumlah penduduk Kecamatan Puring Kencana berjumlah 2.288 jiwa. Hitungannya sekitar 1 km di huni 6 jiwa penduduk.

Pagi itu, berkesempatan bertemu dengan masyarakat sekitar. Berjalan menyusuri kiri kanan ilalang dengan jalan yang jelek. Sampailah di perkampungan penduduk. Nama tempatnya Nanga Suruk, di sana sudah terdapat jalan rapat beton lewat program PNPM. Terlihat Wakil Bupati mengajak staffnya bermain sepakbola dengan warga. Berangsur-angsur lapangan itu menjadi pusat perhatian, dari rumah-rumah pendudu, balik jendela dan pintu mata menuju Agus Mulyana menendang bola. Tidak ingin kalah seperti Ahmad Bustomi di posisi gelang Timnas Indonesia yang bermain malam hari sebelumnya.

Tak jauh dari lapangan, sekelompok anak-anak perempuan berpakaian seragam coklat berlari-lari menuju SDN 1 Sungai Antuk Puring Kencana. Cika (6 th), Popy (2 th), Inul (2 th), dan Ndut (2 th), murid-murid yang berlari itu. Wajah ceria gadis kecil-kecil ini seolah-olah sama sekali tidak menyiratkan bahwa pendidikan di kecamatan itu memprihatinkan. Padahal pendidikan menjadi masalah pula di wilayah perbatasan termasuk Puring Kencana.

Keempat gadis cilik itu kelak tamat SMP, mereka harus keluar dari kecamatannya mencari bangku SMA. Sekolah di Kec. Puring Kencana hanya sampai tingkat SMP. Berdasarkan data Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga, jumlah sekolah tingkat SD sebanyak 9 sekolah dan SMP berjumlah 2 sekolah. Sedangkan untuk kebutuhan guru, guru SD berjumlah 23 orang dengan Kepsek 9 orang, dan SMP 4 Guru dan 1 Kepsek.
Keterangan Foto: Dari kiri-kanan, Popy (2 th), Inul (2 th), Ndut (2 th) dan Cika (6 th) murid-murid SDN 1 Nanga Antuk, Puring Kencana hendak pergi sekolah, Jum’at (29/7), masa depan cerah cita-cita dari daerah terpencil berada dalam mimpi gadis-gadis cilik itu. Pendidikan di daerah perbatasan milik Indonesia tidak sebaik pendidikan perbatasan milik Malaysia. Foto: Viodeogo, Borneo Tribune
SD milik Cika, Popy, Inul dan Ndut di SDN 1 Sungai Antuk fisik bangunannya tidak mengkhawatirkan. Begitu juga dengan SMPN 1 Puring Kencana kondisi fisiknya bagus. Namun tidak sedikit warga Puring Kencana ingin merasakan pendidikan lebih baik. Ada yang sebagian mengambil langkah menyekolahkan anaknya di Malaysia. Tapi bukan perkara mudah, bersekolah di Malaysia. Sistem peraturan di Malaysia pun tidak selamanya berpihak kepada orang Indonesia ini.

Pemerintahannya memiliki sistem yang ketat. Seperti ingin menyekolahkan ke Malaysia, anak Indonesia tidak dapat langsung masuk SD atau SMP, tetapi harus dari tingkat TK, kecuali si anak memiliki IC. Setelah itu bila ingin lanjut ke jenjang SMP, anak tersebut harus memiliki IC (identity card). “Tidak bisa lanjut SMP karena akan diseleksi dengan KTP Malaysia. Jadi kembali ke Indon. Cari keluarga atau ada jaminan keluarga di Serawak, sebagai penjamin administrasi,” kata Gaga.  

Setelah itu pemerintah Malaysia bagian Serawak memberikan Kartu Timbang atau IC keluarga bisa juga berfungsi sebagai bukti untuk mencari penghidupan di Malaysia. Orang Malaysia menyebutnya Kartu Peranak. “Itulah coba Kakek sama nenek saya punya Kartu Peranak, tidak susah seperti di Indonesia sini. Padahal mereka sering ke Malaysia,” tambah Gaga. 

Kesusahan lainnya, sistem pendidikan Indonesia tidak bisa dengan mudah menerima tamatan SD dari Malaysia jika ingin lanjut ke SMP di Indonesia. Syaratnya siswa tersebut, harus kembali lagi ke bangku kelas 6 baru bisa lanjut ke jenjang SMP. Gaga tahu peraturan itu pasti menyusahkan anaknya. Maka walaupun dengan keterbatasan pendidikan dan sulitnya mencari penghasilan, ia berusaha keras memberikan pendidikan setinggi mungkin kepada anaknya. Dari Puring Kencana, anak paling sulung sebentar lagi wisuda di salah satu Akper di Jakarta. Pendidikan menjadi penting bagi warga Puring Kencana, si sulung anak Sekcam di Stikes Universitas Kapuas Raya Sintang, masuk semester 5. 

Malaysia memang sekarang memiliki sistem pendidikan lebih baik dari pada Indonesia. Di daerah perbatasan, negara itu mampu mendirikan sekolah wahid bertaraf internasional. Siswa-siswinya di wilayah perbatasan yang ingin sekolah, tidak perlu khawatir tidak memiliki tempat inap. Pemerintah Malaysia menyiapkan Boarding School/asrama bagi tempat tinggal siswa-siswinya. “Malahan SMP kelas 3 mendapat laptop, dan buku-buku pelajaran gratis,” kata Bertus Kepala Sekolah SDN 4 di Nanga Merakai. 

Di Puring Kencana, jangankan laptop, gedung, seperti sarana prasarana olahraga, laboratorium saja tidak ada. Bahkan SMA saja tidak ada. Sebagian anak-anak Puring Kencana yang beruntung bisa merasakan pendidikan Malaysia oleh orang tuanya sekembali dari Malaysia setidaknya berimbas memperoleh pendidikan yang bermutu. “Anak-anak tamat SD Malaysia cakap bahasa Inggris sehari-hari,” kata Bertus. 

Harapan memperoleh mutu pendidikan lebih baik, dilakukan pemerintah Indonesia. Kini reformasi di bidang pendidikan dimulai dengan memperhatikan nasib guru-gurunya. Guru-guru di Puring Kencana, masuk kategori guru daerah terpencil dan perbatasan. Program sertifikasi dan tunjangan khusus dinilai bisa membantu meningkatkan kesejahteraan guru perbatasan. Tujuan lain agar guru-guru betah mengajar di lokasi yang jauh dari segala fasilitas itu. “Seperti kami di sini, kalau sertifikasi dapat,  berharap terpencil tidak hilang,” harap Bertus.

Kadis Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Kapuas Hulu, Drs. Antonius mengakui perhatian terhadap guru-guru dari perbatasan memang sangat kurang dari pemerintah pusat sejak dulu. Tapi sekarang, pemerintah mulai memperhatikan guru-guru yang mengajar di daerah terpencil dan perbatasan. “Untuk membuat guru itu betah, pemerintah memberikan perlakukan khusus dengan adanya tunjangan khusus. Ini dia Rp 16,5 juta pertahun diberikan per triwulan sekali kepada masing-masing guru perbatasan dan daerah terisolir,” tunjuk Antonius. Itu barulah tunjangan khusus, belum lagi gaji perbulan dan gaji 13, THR, dan yang mendapatkan sertifikasi.  

Puring Kencana memiliki luas wilayah 454,55 kilometer persegi. Terdiri dari 5 desa dan 15 dusun. Beruntung musim sedang kemarau, saat kami hendak menyambangi kecamatan itu. Sehingga perjalanan bisa dipangkas hampir memakan waktu 5 jam. Kalau musim hujan tiba, disarankan berangkat lah dari Putussibau pagi hari. Khawatir kemungkinan memakan waktu lama, kendaraan menggunakan mobil siap-siap amblas. Tidak ada mobil angkutan umum menuju Puring Kencana. Bis angkutan umum dari Putussibau hanya sampai Kec. Badau.

Belajar untuk maju dari segala bidang tidak ada lagi kata kompromi lagi bagi bangsa ini. Apalagi ingin maju. Bila tidak, hanya bisa gigit jari melihat negara tetangga melangkah 2 kali lebih maju dari negara Indonesia. Malaysia memiliki komitmen membangun negaranya. Agus Mulyana berpesan kepada masyarakat Puring Kencana, jangan putus berjuang menyuarakan kondisi kecamatannya yang jauh tertinggal dari kecamatan-kecamatan lain. Ia mengingatkan paling kecil jika mengharapkan kemajuan bersama untuk kecamatan, warga Puring Kencana dalam setiap tugas saling rangkul antar masyarakat. “Perangkat desa harus kompak. Lakukan komunikasi dengan kecamatan,” kata Agus, kepada wartawan.  

Sungguh menyedihkan sekali melihat kondisi masyarakat Puring Kencana. Dan menyangkut semua bidang pelayanan kepada masyarakat, termasuk bidang kesehatan. Bidang kesehatan merupakan yang membuat hati ini miris seperti tersayat-sayat membayangkan ke mana pemerintah selama ini. Puskesmas Puring Kencana, tidak memiliki listrik. Sehingga perawatan medis tidak berjalan maksimal. Keberadaannya di atas bukit, dikelilingi hutan belantara. Di puskesmas itu, terdapat 3 tenaga medis. Terdiri dari 2 laki-laki, dan 1 perempuan. Paling menyedihkan lagi, ternyata menurut pengakuan warga setempat, jarang sekali dokter tugas praktek di Puskesmas Puring Kencana. 

“SK penugasan untuk dokter bertugas itu ada. Ini tidak pernah dalam sebulan mengunjungi Puskesmas,” kata Raymundus Ricky. Masyarakat bila sudah tidak dapat bertahan dengan sakitnya, lebih memilih ke Batu Lintang, Malaysia. Jalan 30 menit, dengan naik motor atau mobil hilux merk Malaysia. Warga lebih memilih Malaysia dibandingkan ke Puskesmas di Kec. Puring Kencana. Kalau ingin ke Badau atau Empanang terlalu jauh, dan jalan rusak. Hampir 2 jam menuju Puskesmas Empanang. Belum lagi dengan kondisi jalan yang mengenaskan itu. Jika ke Malaysia, hanya perlu waktu hampir 1 jam saja, terdapat sekelas puskesmas yang memadai. “Ke Malaysia  yang sakit keluar 800 ringgit, kalau dirujuk ke Malaysia,” kata Camat. Akibatnya Oksigen di Puskesmas Puring Kencana jarang digunakan, karena masyarakat lebih memilih Malaysia.    

Malaysia pun seolah-olah menjadi surga bagi warga Puring Kencana. Bila saja pendidikan dan listrik Malaysia memberikan fasilitas, mungkin lengkaplah sudah perhatian Malaysia ketimbang Indonesia. Kesehatan warga Puring Kencana ke Malaysia, jual dan beli hasil alam dan produk makanan jadi dan lainnya, warga lebih memilih Malaysia. Dengan hanya perjalanan hampir 30 menit dan 1 jam menggunakan sepeda motor atau mobil, sampailah ke wilayah Batu lintang, Malaysia. Wajar bila lebih banyak produk dan Ringgit Malaysia di Puring Kencana.

Masyarakat Puring Kencana membawa karet dan lada. Warga sangat tergantung dengan Malaysia. Uang pun dominan transaksi dengan ringgit. Uang 1 Ringgit sama dengan Rp. 3 Ribu. Ny. Gaga menunjukkan kepada saya uang Kertas 10 Ringgit bergambar Mass Rapid Transportation (MRT), pesawat, dan kapal. Di uang 50 ringgit digambarkan pohon sawit. Malaysia tampaknya ingin menunjukkan kepada dunia, negara yang siap bersaing dalam dunia ekonomi global. Ditandai dengan transportasi bukan masalah di Malaysia. Kemudian dengan gambar sawit, Malaysia mau memperlihatkan sebagai raja sawit, yang bisa memakmurkan rakyatnya dengan dibuktikan fasilitas infrastruktur yang memanjakan masyarakat di perbatasan.

Dampak uang ringgit Malaysia beredar di Puring Kencana, berimbas dengan sulitnya masyarakat menyesuaikan rupiah dengan ringgit. Nilai rupiah terlalu rendah dengan ringgit. “Saking rendahnya nilai uang rupiah, uang Rp 50 rb rupiah tidak ada nilainya untuk berbelanja. Saya harus menoreh lebih keras lagi, dari situ dapat tambahan duit banyak,” kata Gaga.
Keterangan Foto: Penjual sembako di salah satu warung di Nanga Antuk, Puring Kencana menunjukkan uang kertas Ringgit Malaysia. Seorang anak membeli snack merk Malaysia seharga 3 sen Ringgit. Foto: Viodeogo, Borneo Tribune
Sembako, makanan, lada, hampir rata-rata di warung merupakan produk Malaysia. kendaraan motor dan mobil ilegal dari Malaysia. Hanya kendaraan plat nomor polisi Indonesia, kebanyakkan dipakai oleh pegawai negeri. Beli mobil cukup keluar uang Rp. 50-55 juta, kalau motor Rp. 5-6 juta. Saat zaman kayu sedang marak-maraknya lebih banyak mobil atau motor ilegal. Produk kecil saja, yang saya lihat adalah minuman air kemasan botol mineral merk Borneo dari pabrik Sarawak, Malaysia. 

Pintu masuk atau warga Puring Kencana sebut Ketu Asam ke Malaysia terdapat nama wilayah perbatasannya yaitu Batu Lintang. Ingin ke Malaysia masuk melalui Batu Lintang harus memiliki surat lengkap, “Asal lengkap surat-surat motor bisa lewat pos polisi penjagaan dari Malaysia,” ujar Bertus. 
Sebenarnya bisa tanpa surat-surat lengkap masuk ke Batu Lintang, asalkan jangan terlalu sering. Biasanya yang wora wari tanpa surat lengkap sudah kenal lama dengan petugas pintu masuk. Lebih menarik mendengar cerita sebagian warga bila ingin ke Pontianak, Kalbar. Lebih dekat ke Pontianak lewat Batu Lintang-Sri Aman (Serawak, Malaysia)-Entikong-Pontianak.

Jarak tempuh lebih dekat, dan sudah pasti tidak perlu khawatir menemui jalan yang rusak. “Bapak kalau mau ke Pontianak lewat Sri Aman, karena lebih cepat,” ujar Ny. Jamayung, istri Camat Puring Kencana. Begitu pula, biasanya warga dari Badau ke Sri Aman langsung ke Entikong hanya butuh waktu kurang lebih 4 jam. Kemudian dari Entikong dilanjutkan ke Pontianak. Di Batu Lintang sudah tersedia tempat pemberhentian bis, menuju Sri Aman.

Jika orang Indonesia lebih banyak mudah mendapatkan produk-produk ilegal motor atau mobil dari Malaysia, jangan harap orang Malaysia mudah mendapatkan produk ilegal dari Indonesia. Karena pemerintahnya melarang keras, dengan peraturan yang sangat ketat. Malaysia-Indonesia sepakat dalam MoU, jalur-jalur seperti jalan menuju Badau, Merakai Panjang, dan Nanga Langau diakui jalan Malaysia sebagai jalur legal. Kalau jalan lain di luar disebutkan tadi, maka dianggap ilegal. Pemerintah Malaysia mempercayakan petugas Indonesia untuk mengawasi orang-orang Malaysia membeli kendaraan dari Indonesia melewati sepanjang jalan tersebut.

Indonesia Pusaka, Indonesia Tanah Air Beta
Malaysia sepertinya lebih memperhatikan warga negara perbatasan Indonesia. Ntah apa dibalik perlakuan Malaysia kepada warga negara perbatasan Indonesia. Soal mencari pekerjaan, Malaysia menjadi surga bagi warga negara Indonesia meraup pundi-pundi Ringgit untuk dibawa pulang.     

Majing, seorang pria, sekarang dipercayakan menjadi Ketua RT 4, di Desa Nanga Suruk, Puring Kencana. Ia berpetualang mulai dari negeri Melayu Jiran hingga negara Sultan Bolkiah, Brunei Darusallam. Ia merantau ke Malaysia dan Brunei di tahun 80-83 an. Setiap 3 bulan sekali pulang ke Puring Kencana. Karena tak memiliki latar pendidikan tinggi, di negeri orang, Majing bekerja sebagai tukang kayu bangunan perumahan.

Merasa tidak betah, dan jauh dari kampung asal, Majing kembali ke Puring Kencana, kerja apa saja, asalkan dekat dengan orang-orang tercinta. Majing, Minggu siang (31/7) itu, mengenakan kaos buntung berwarna merah. Di lengan kirinya terukir tato lambang negara Indonesia, Garuda. Tepat di atas kepala burung Garuda, tertulis kata Malindo. “Singkatannya Malaysia Indonesia. Ini bukti, aku pernah berjalan jauh ke Malaysia,” kata Majing. Ia lelaki dari suku Dayak Iban. Tradisi Dayak Iban mengenal perjalanan jauh seseorang dilukiskan dalam gambar bentuk tato di kulit badan.

Keterangan Foto: Tato bergambar Garuda dan bertuliskan Malindo di lengan atas milik Majing, Ketua RT 4 Nanga Suruk, Puring Kencana. Tato itu membuktikan dirinya pernah merantau jauh hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam demi mencari  pekerjaan layak untuk taraf hidup yang lebih baik. Foto: Viodeogo, Borneo Tribune
Walaupun dengan kondisi tak kunjung membaik di negeri sendiri, Majing tetap memiliki kerinduan dan memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Kerinduan infrastruktur yang baik diharapkan menjadi mimpi nyata bagi seorang Majing. “Kami mau orang-orang duduk di Dewan Kapuas Hulu pun perhatikan infrastruktur Puring Kencana. Sebenarnya wajar kita keras seperti ini,” ungkap Stevanus Udin, petani lada menambahkan perkataan Majing. 

Stevanus mengingatkan kepada Pemerintah RI, jangan menghabiskan urusan tetek bengek politik busuk di pusat. Akibatnya, urusan perut rakyat di daerah perbatasan terlupakan. Ia mengatakan, karena perhatian pemerintah lebih memikirkan konflik-konflik antar elit-elit di Jakarta, wilayah-wilayah perbatasan yang rawan konflik peperangan fisik tidak diperhatikan. “Daerah perbatasan itu rawan sekali, misal masalah patok batas. Dari tahun 2006-2007 sering terjadi pergesaran patok batas,” ungkap Stevanus.

Di Puring Kencana terdapat 307 patok mulai dari daerah Langau hingga Merakai Panjang. Ada 3 patok beberapa tempat berada di tengah hutan mengalami pergeseran. “Digeser saja 2 meter, ditarik garis koordinat bisa habis berapa hektar tanah Indonesia,” Stevanus mengingatkan. Kalau terjadi pergeseran patok batas hanya dengan beberapa meter saja, ada kemungkingan terjadi penambahan luas wilayah yang menguntungkan negara lain.   

“Perbatasan itu katanya serambi depan, tapi daerah kita-kita ini dijual dengan janji-janji oleh para pejabat kita,” tuturnya. “Gubernur Kalbar sama sekali tidak pernah datang ke Puring Kencana. Kalau  Menteri PDT, hanya sampai Badau, jadi mereka tidak tahu kondisi rakyatnya. pak Tambul dan pak Alex dulu pernah ke sini,” tambahnya. 

Mudah-mudahan tidak seperti fatamorgana di padang gurun yang tandus, dan kering merontang, Pemkab Kapuas Hulu harus berjuan memberikan secercah harapan kepada masyarakat Puring Kencana. Masalah jalan dan listrik, Puring Kencana mendapat prioritas utama. “Kecamatan lain jangan iri, karena 1-2 tahun ini Pemkab genjot jalan ke Puring Kencana. Anggaran untuk perbatasan itu Rp 24 M untuk tahun ini, belum lagi tambahan dari APBD dan lain, kata Agus Mulyana.

Persoalan listrik bagi penerangan masyarakat Kecamatan Puring Kencana, Agus informasikan Pemkab sudah berupaya lewat Menteri Pertambangan Energi, tahun 2012 dengan anggaran Rp 23 M untuk pembangunan PLTMH di Batang Lupar, hingga Puring Kencana mendapat pasokan listrik. “Mohon listrik ini, pemerintah pusat mendukung, Pusat harus perhatikan ini bila menganggap masyara perbatasan bagian NKRI,” minta Agus.

Mulai tahun ini sudah dilakukan peningkatan jalan lewat pengerasan, mulai dari simpang Nanga Kantuk-Merakai panjang-Melancau sepanjang 8 km lebih. 

“Saya memahami, masyarakat yang ada diperbatasan, begitu jauh dari ibukota. Aparatur pemerintah terus melakukan pembinaan kepada masyarakat, bahwa berkaitan dengan daerah perbatasan diberikan wawasan kebangsaan. Seperti pasang bendera pada 17 agustus nanti. Sehingga tidak ada lagi opini berkembang, masyarakat tidak memiliki wawasan kebangsaan. Saya dari dulu tantang itu, tidak benar orang perbatasan tidak memiliki wawasan kebangsaan tinggi.
Di sini orang bisa nyanyi Indonesia Raya,” terangnya.

Cinta negeri dari masyarakat perbatasan bukan sekedar rasa bangga memiliki spirit ideologi Pancasila, tapi lebih dari itu perhatian pemerintah pun harusnya setinggi semangat sila keempat Pancasila kepada warga Puring Kencana.

Hari semakin siang, waktunya pulang meninggalkan warga yang memiliki sekompleks mimpi-mimpi suatu saat nanti jalan akhirnya mulus, listrik 24 jam terang, pendidikan dengan sarana prasarana berkualitas, hingga sarana dan tenaga medis kesehatan memadai.

Di perjalanan pulang, mobil angkudes siap mengantarkan lagi kami pulang ke Badau. Kembali lagi akan merasakan buruknya jalan selama 4 jam ke depan. Supir memutar CD kompilasi berbagai macam lagu. Rasa jenuh sepanjang jalan sedikit terobati. Kebetulan atau tidak, setelah melewati jalur Merakai Panjang, terdengar lagu dari Saykoji, berjudul Indonesia Pusaka. Bulu kuduk merinding mendengarkan lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki itu. Air mata menetes perlahan karena ingat masyarakat Puring Kencana yang berjuang dari segala keterbatasan bertahun-tahun lamanya. 

“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala, tetap di puja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”


Catatan: Diterbitkan sebanyak 5 edisi di Borneo Tribune. 

Comments

  1. Selamat Kawan!!! Teruskan demi "perjuangan" yang tak akan pernah selesai ini. Ayo Bung!!! salam.-

    ReplyDelete

Post a Comment