Tato Sebagai Budaya Populer


Viodeogo

Yogyakarta, 16 Maret 2010

Era men-steorotype tato sebagai simbol negatif sudah lewatkan saja. Sekarang saatnya berbicara tentang tato sebagai gaya hidup dan bagi hampir orang-orang yang menggoreskan tinta di kulitnya tato sebagai ekspresi. Sebagian masyarakat yang bertato mungkin senang jikamindsetnya tato dari sudut sejarah. 

Khusus kita berbicara orang Indonesia, tato di Indonesia memiliki garis kehidupan yang begitu indah untuk ditulis dalam lembaran kebudayaan negara ini. Apalagi tato menjadi menjadi ruang romantisme bagi kita untuk melihat perjalanan beberapa suku di Indonesia yang masyarakatnya bertato. 

  
 

Tato di Indonesia sudah terkenal dari suku Mentawai di Siberut, Sumatera Barat dan tentunya yang sangat terkenal adalah tato dari suku Daya’ di Kalimantan Barat. 

Ngomongin Tato bagi Suku Mentawai dulu yuk!!!!! Bagi suku Mentawai, tato memiliki arti jati diri bagi sub-subsuku di Mentawai, ekonomi, dan batas wilayah kesukuan di Mentawai.

  

a. Tato sebagai tanda kenal pribadi mencerminkan kepiawaian seseorang, misal motif binatang sebagai simbol ahli berburu. Sedikit perbedaan di subsuku Mentawai Sikabaulan ada motif binatangnya maka simbol binatang pujaan atau hasil perburuan.


b. Kalau ada dukun (sikerei) di Mentawai maka ia menggunakan simbol tato sibalubalu dan tudak, sederhananya gambar kalung. Kalau di bahunya ada motif bintang, dia juga seorang sikerei.

c. Motif lingkungan artinya relasi masyarakat dengan alam. Masyarakat Mentawai saja sudah kenal namanya kearifan lokal dari nenek moyang mereka, sedangkan kita masih mau belajar tentang kearifan lokal apalagi pemanasan global. Masih untung mau belajar, kenal kearifan lokal saja masih banyak masyarakat kita yang tidak tahu.

Giliran suku Daya’, sebagai orang daya’ penulis tergerak hati untuk menyuarakan makna tato dalam dunia keterbukaan saat ini. Ini yang tidak boleh dilupakan oleh orang banyak, makna tato bagi orang Daya’ Kalimantan Barat mensimbolkan sifat jantan, kuat, berani dan memiliki makna kepercayaan untuk keselamatan dan kerukunan. Tato bagi masyarakat Daya’ sebagai bahasa dalam berinteraksi sosial antar komunitas.

  
 

Dalam masyarakat Daya’ yang masih menggunakan tata administrasi adat, tato bisa dilihat dari kepemilikan atribut sosialnya seperti tato sebagai simbol kepala suku, dan panglima perang. Secara teknis, semakin gelap atau hitam merupakan kualitas tato yang terbaik. Tato juga memiliki makna kecantikan bagi si perempuan Daya’. 


Jika di lengan bawah ada tato maka perempuan itu sebagai ahli tenun. Keunikan makna tersebut ada di Daya’ Iban. Perempuan Daya’ memiliki prestise tinggi jika ia ahli menenun, menari, dan menyanyi.

Jika ada masyarakat Daya’ yang di bagian tubuhnya memiliki motif pohon garing ada kepercayaan bahwa orang tersebut akan dikenang sepanjang masa namanya, dan orang tersebut memiliki derajat sosial yang tinggi yang tidak dilihat dari kepemilikan secara material seperti banyaknya ternak atau kepemilikan lahan melainkan kesolidaritas dalam berelasi sosial, bermoral dan sopan santun kepada sesama. Si pemilik tato tersebut menjadi teladan bagi yang lainnya.

Tato sekarang sudah berubah makna, yah…karena zaman berubah. Kita berbicara konteks sosial dalam tato di kehidupan yang bergerak kemodernitas saat ini. Sebagian orang yang merelakan kulitnya mau ditato sebagai ekspresi diri. 


Posisi orang yang di tato juga berada dalam daerah urban yang struktur adminstrasi adat berhadapan dengan administrasi formal negara dengan peraturan-peraturan ada yang kaku ada tapi ada juga yang fleksibel. 

Tulisan-tulisan kapital di tangan bisa sebagai makna cinta anaknya, tulisan nama istrinya atau gambar di lengan atasnya bergambar lidah sebagai simbol cinta band Rolling Stones. 


Ada salah satu teman saya asal Bali, di tangan kanannya bertulis nama adiknya rela ditato sebagai tempat ia menunjukkan cintanya kepada adiknya karena adiknya meninggal akibat kecelakaan. 

Bisa jadi kenapa ia mentato lengan bukan karena tato sebagai budaya populer, tetapi karena persembahan untuk adiknya, tetapi karena trend posisi tato saat ini di area tangan, mulai dari bawah siku hingga di pergelangan tangan. 


Satu lagi temanku yang menganggap dirinya pungkers sejati, mau mentato tubuhnya karena alasan keindahan tato jika terukir bukan karena menganggap tato seperti pemaknaan masyarakat suku Mentawai atau Daya’. 

Si pemilik tato bisa jadi sulit mengungkapkan jati dirinya dengan kata-kata, tapi lewat tato lah jati dirinya terekspresikan. Kemudian lihatlah sebagian para pemain sepakbola dan pemain basket, tato menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

Pembuat-pembuat tato (tatois) yang sudah memiliki studio tato sendiri ada yang sebagian memiliki idealisme menuangkan karyanya di kulit manusia. Tato bukan sekedar menggambar kemudian jadi, tato merupakan karya seni yang bernilai tinggi dengan indera mata maka tato harus terlihat indah. 

Jadi pengerjaannya harus hati-hati dan profesional (dengan jarum suntik yang steril, konsumen tato harus melihat dengan mata kepala sendiri bahwa jarum suntik yang dipakai pertama kali dipakai dari segel kemudian langsung dibuang). Karena tato yang indah dan memiliki seni adalah tato yang sehat bagi kulit ditato.

Secara sosiologi motivasi tato bisa didefinisikan seperti berikut: simbol pemberontakan terhadap lingkungan keluarga atau sosial, memaknai suatu peristiwa atau perayaan, terlihat keren, ingin memiliki pola-pola tradisional (Susan Holtman: Body Piercing in The West: A Sociological Inquiry. 2002). 

Sumber:
Buku     : Abdul, Hatib. 2006. TATO. Yogyakarta: LkiS
Majalah : Foto Media. Edisi April 1996. ISSN 0852-596

Foto:
1.   Majalah Foto Media: Rama Surya
2. Ian Charles Stewart.1987. Indonesians Portraits From an Archipelago. Indonesia: Pranajawati
3. Foto-foto juga dari koleksi pribadi penulis

Comments