Daya' Tamambaloh, Kapuas Hulu

Viodeogo
Kapuas Hulu, 19 April 2010

Foto-foto prosesi pernikahan adat Daya' Tamambaloh, di Kapuas Hulu. Ia pernah saya publikasikan di blog saya sebelumnya. Sengaja saya pindahkan ke blog ini, supaya menjadi satu-kesatuan dengan tulisan-tulisan saya lainnya. 


  
  
 


Kecemasan dan Sukacita Pernikahan Daya’ Embaloh


By: Yanuarius Viodeogo Seno


Prosesi adat pernikahan tradisional bagi masyarakat suku Daya’ Embaloh menjadi ritual yang sangat ditunggu. Beragam tahap ketika hari-H prosesi pernikahan menjadi sangat meriah di tanggal 29 Desember 2009 di desa Ulak Pauk, Embaloh Hulu, Kapuas Hulu. Suku Daya’ Embaloh adalah salah satu subsuku Daya’ di kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. 


Sebelum kedua mempelai duduk di singgasana pelaminan, pasangan pengantin dan iringan undangan masyarakat harus melewati tahap menuju ruang resepsi dengan minum tuak dan sepotong kue kecil, itupun tidak hanya satu gelas saja karena sudah ada para penjaga-penjaga gerbang pelaminan yang rata-rata anak muda menunggu dengan gelas tuaknya untuk diminum. 


Bersama iringan tabuh, gong, dan Saron para penjaga-penjaga ruang resepsi dengan nyanyian menghentakkan kakinya sekeras mungkin di atas sepasang bentangan papan (siliao) untuk menyemangati pesta pernikahan tersebut. 


Tiba saatnya diritual makan-makan dan bukan sekedar makan-makan saja. Dengan duduk saling berhadap-hadapan, para undangan yang hadir bisa menyaksikan suguhan persembahan tarian dari kedua mempelai walau si mempelai laki-laki tidak bisa menari dan persembahan tarian dari orangtua atau wali kedua mempelai. 


Hiburan tarian sambil menikmati makanan pembuka ada Lemang. Tak lengkap dan harus ada dalam proses pernikahan ini adalah nyanyian tembang sajak lisan yaitu Baranangis. Tepat dihadapan kedua mempelai, seorang nenek(Piang) melantunkan sajak-sajak berisikan nasehat-nasehat kehidupan berumah tangga kelak bagi pengantin. 


Pelantun-pelantun Baranangis semakin sedikit jumlahnya. Sangat sulit menemukan generasi muda yang mengerti Baranangis. Waktu terus berjalan, semoga pelantun-pelantun sajak tak hilang ditelan arus dinamika jaman. 

Comments