Gawe Dange Dayak Kayant

Pesta Panen (1)
Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau

Panen padi telah usai, kini setelah melakukan pekerjaan berat dengan tujuan agar asap dapur tetap mengepul, masyarakat Dayak Kayant mengadakan tradisi Gawe Dange.  Suatu tradisi ungkapan rasa terimakasih dan ucapan syukur Dayak Kayant kepada Maha Kuasa atas panen raya yang tetap berlangsung hingga saat ini.

Tak jauh dari Kota Putussibau, dengan menempuh kurang lebih 45 menit perjalanan, masyarakat desa Datah’ Diaan Mendalam, Kec. Putussibau Utara mengadakan pesta syukur panen padi. Hendak menuju desa itu, tersedia 2 pilihan yaitu jalur sungai atau jalan darat.

Perjalanan jalur terakhir sedikit menantang, dan perlu menyiapkan uang Rp. 40 ribu, dan pastinya bensin motor. Karena lewat jalur darat harus menyeberang sungai. Ada dua kali penyeberangan saat keberangkatan, satu kali menyeberang keluar uang Rp. 10 ribu. Dengan Pergi-Pulang total Rp. 40 ribu.
Foto: Nenek Lawa (73 th), wanita Dayak kayant yang tersisa yang masih memiliki tatto dan telinga berlubang besar
Hari itu, Selasa, (17/5), masyarakat Datah’ Diaan sebagian kaum perempuan, begitu juga dengan beberapa kelompok pria menggunakan pakaian adat sedari pkl. 12.00 WIB berkumpul di rumah adat Lung Linge Hatung artinya Muara Sungai Pelangi bersiap-siap bersukacita merayakan Gawe Dange. Pastor Rafael –pastor Paroki Sto. Agustinus Padua Dalam mengatakan dalam bahasa Dayak Kayant.

“Pahani Do Dange Dumaan 2011. Menglu Lawaan Maring Nyinah Dumaan Pare. Hamal Lening Dawing Ade,” kata pastor yang sebelumnya lama memimpin umat di Paroki Benua Martinus Kec. Embaloh Hulu itu.

Artinya adalah suka cita di hari Dange 2011, bergembira di rumah adat menyambut tahun panen adat tanah Mendalam. Setiap tahun Gawe Dange dirayakan masyarakat Mendalam. Sistem perayaan Gawe Dange tidak diadakan satu desa saja. Tetapi berdasarkan jumlah stasi Sto. Agustinus Padua Dalam yang berjumlah 7 stasi (lingkungan). Penyelenggaraan adat berlangsung 7 hari di masing-masing stasi.

Selama acara Naik Dange berlangsung di Rumah Adat Lung Linge Hatung, yang diremikan pada tanggal 9 Mei 2009 oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Sintang dan Gubernur Cornelis. Rumah adat ini juga sebagai tempat menginap wisatawan baik peneliti luar atau ingin mengenal obyek-obyek wisata dari Dayak Kayatn.

 “Ada 4 bilik yang dibagi berdasarkan 2 dusun di desa ini, yaitu bilik Dusun Pagung dan bilik desa Aging,” kata Markus Jaraan, Kades Datah’Diaan.

Rumah adat ini, seperti Markus ceritakan merupakan cerminan umum masyarakat Dayak Kayant bertemu rajanya. Dalam bahasa Dayak Kayant tempat pertemuan raja dan rakyatnya di Rumah Adat Lung Linge Hatung yaitu Aminayah Nayan.

Namun, seiring perkembangan jaman rumah adat dijadikan sebagai tempat masyarakat adat melestarikan budayanya. Seperti latihan tari, rapat adat, menerima kunjungan tamu, dan tentu pusat tempat diselenggarakan pesta syukur hasil panen.

Tahun ini, Markus katakan hasil produksi panen menurun dibandingkan dengan hasil-hasil panen sebelumnya. Penyebabnya dikarenakan musim tanam yang terlambat akibat faktor curah hujan yang tinggi. (bersambung).

Siapa Lagi Cinta Tanah Mendalam?
Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau

Sepanjang perjalanan melalui jalur darat, tidak tampak tanda-tanda akan ada kemeriahan gawai Dange. Kiri kanan jalan hanya terlihat perkebunan karet, dan hamparan ilalang yang tumbuh hingga ketinggian manusia dewasa.

Pengunjung yang pertama kali seperti saya ini, tampak kebingungan yang ingin menuju tempat penyelenggaraan pesta. Mulai ditemukan beberapa ruas jalan yang bercabang hingga seperti jalan tak berujung.

Awal-awal masih bisa ditemukan rumah penduduk sekedar untuk bertanya agar tidak sesat di jalan, tapi tidak menutup kemungkinan kendaraan yang berdampingan pun harus terpaksa harus berani distop menanyakan lokasi kegiatan. 

Sesampai di penyeberangan sungai masuk ke desa Datah’ Diaan, umbul-umbul menyambut kedatangan tamu. Beberapa warga terlihat lalu lalang mengenakan pakaian adat.

Desa Datah’ Diaan Mendalam memiliki 234 KK dengan jumlah 936 jiwa. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Mendalam adalah petani sawah ladang, dan penoreh. Walaupun bertempat tinggal dekat dengan aliran sungai, mereka bukan nelayan. Sehingga hasil kebutuhan ikan tidak untuk dijual, namun hanya dikonsumsi saja.


Wajar bila saat pesta panen syukur, masyarakat lebih mempersembahkan hasil panen padi setiap ritual adat Gawe Dange. 

Simbol-simbol yang dikaitkan dengan padi menemani rangkaian persembahan di altar rumah adat. Di tengah-tengah antara bilik-bilik dusun Pagung dan dusun Aging yang dijadikan altar, terdapat tempayan dan Lasah tempat menyimpan padi untuk dipersembahkan kepada Maha Kuasa.

 “Ada juga sumpit, mandau, labung gaga, dan perisai, serta kain adat Taha dibuat oleh ibu-ibu dewasa,” terang Markus.

Persembahan-persembahan itu diapit oleh 4 kayu penyangga simbol bilik rumah adat. Langit-langit rumah adat pun dihiasi oleh Penghaut –hiasan khusus dange dan Kayu Ma’eh Payuang –sejenis kayu yang jika dikeruk tidak patah.

Selain itu ada hiasan berbentuk jajaran genjang namanya Teblab. Ia bisa berputar bila tertiup angin. Hiasan-hiasan dilangit dan sekitarnya terlihat tidak sama sekali menggunakan hiasan modern seperti balon, atau kertas hias.

Pastor Rafael mengatakan siapa lagi yang tidak mencintai tanah mendalam, kalau bukan orang Mendalam sendiri. “Identitas orang mendalam tercermin di diri orang Mendalam, bukan orang lain yang mencintai tanah kita, tapi kita yang mencintai tanah kita,” ucapnya.

Berbagai pernak-pernik simbol kemeriahan di rumah adat menjadi atribut identitas masyarakat Mendalam mengenalkan kepada para tamunya. Begitu juga di kulinernya merupakan khas makanan selama perayaan adat.

Ada yang namanya Pitoh –sejenis pulut, tapi fisiknya tipis ramping dibalut dengan daun pisang, ada juga Serukung  -pulut pada umumnya bisa dijumpai di daerah mana saja, kemudian ada nasi yang dilapisi daun sip –sejenis tanaman palem sehingga membuat nasi menjadi lebih harum.

Maur Marcelina, Anggota Komisi C DPRD Kapuas Hulu yang hadir saat pesta mengatakan budaya Dayak Kayant Mendalam harus terus dipertahankan walau sekarang teknologi sangat mudah diakses oleh siapa saja. “Masyarakat, pemerintah dan pihak legislatif pun harus saling mendukung kelestarian budaya,” kata wanita yang juga orang asli Mendalam ini.

Seusai mengatakan demikian, Maur mengambil androidnya sambil merekam berbagai jenis tarian yang diperagakan oleh Hiwar –sebutan bagi kaum pria, dan Ngarang –sebutan bagi kaum perempuan.

Keteguhan Pelestarian Budaya dan Pesta Arang (Habis-3)

Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau

Tua muda berbaur menjadi satu di rumah adat, bersukacita merayakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen padi pada tahun ini. Di antara warga, nenek Lawa (73 tahun) duduk sederet dengan gadis-gadis dan perempuan dewasa Dayak Kayant sambil melihat sekelompok  bocah-bocah kecil menari.

Nenek Lawa salah satu perempuan Dayak Kayant yang masih menjaga keteguhan budaya Dayak dengan telinganya yang masih berlubang berukuran besar, dan kehadiran tatto mulai dari tangan hingga jarinya dan di kakinya.

Telinga berlubang besar dan tatto menjadi simbol keanggunan, kecantikan, kehormatan perempuan adat Dayak Kayant masa itu. Seiring perkembangan jaman, tradisi itu mulai ditinggalkan dengan berbagai alasan dari nilai masyarakat.



Tidak banyak lagi perempuan-perempuan yang mempertahankan tradisi itu. Kades Markus Jaraan katakan jumlahnya sedikit tinggal 5 orang saja, salah satu nenek Lawa.


Tarian Lengiling –dua orang ibu-ibu dewasa menari tarian ibarat burung-burung elang yang mengelilingi desa. Tampaknya nenek Lawa malu-malu diajak menari. Namun, akhirnya saat menari bersama-sama dalam kelompok besar, ia begitu semangat menari. Bahkan hingga ikut sambil menyanyi.

Beberapa jenis tarian masyarakat Dayak Kayant ditampilkan pada hari itu. Selain tarian Lengiling, ada tarian Pewitang -1 pria remaja dan 1 gadis menarikan tarian perang. Kemudian ada tarian Bakaat yang wajib ada saat gawe Dange yaitu suatu tarian persembahan hasil panen.

Gadis-gadis cilik pun tak mau ketinggalan menari dihadapan penonton. Mereka menarikan Tarian Sekiba’ Ujung Bakung –ibaratnya menari berputar-putar di atas air.

Dengan sambil minum air tapa –minuman khas terbuat dari ketan berwarna putih susu rasanya manis karena telah mengalami proses peragian dan air arak, ternyata Pastor Rafael ditarik seorang   pria untuk menari tarian Ibar Kenyah. “Lekak-lekuk gerak tari Romo sedikit berbeda, karena ia tampilkan gekstur ciri khas tarian Tamambaloh,” kata Kothilde, perempuan (25 tahun) asli Tamambaloh, Sub-Suku Dayak di Kapuas Hulu.

Tarian pun terus berlanjut hingga jam 3 sore. Tak terasa justru semakin ramai kegiatan. Tetapi tampaknya puncak kegiatan pun hampir selesai saat itu juga. Tanda-tandanya mulai terasa ketika beberapa dari mereka mengoleskan arang dimuka.

Rupanya itu adalah akhir dari acara pesta Gawe Dange di Desa Datah’ Diaan Mendalam. Semua muka tak luput dari arang, tak satupun orang mukanya bersih, pasti ada saja yang hitam.

Kegiatan gawe pun berakhir, tapi sebelum turun dari rumah adat, masyarakat termasuk para tamu, harus minum tuak dari para ibu-ibu, dan gadis remaja. Suatu perayaan pesta gawe yang berbekas dihati bagi pengunjung. 

Teringat kata-kata Pastor Rafael, siapa lagi yang mencintai identitas mendalam jika bukan orang mendalam sendiri. Tapi bukan berarti pun semua orang bukan orang Mendalam saja yang mencintai adat orang lain tujuan hanya satu yaitu demi pelestarian budaya. 

Comments