Walau Sering Gempa, Tetap Rindu Negeri Sakura (1)
Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Segelas teh hangat menemani bincang-bincang saya bersama Nanang Hariyadi–alumni mahasiswa yang pernah kuliah di Jepang. Cuaca dingin kota Putussibau pukul 13.00 WIB, karena seharian hujan membasahi kota paling ujung timur provinsi Kalbar ini.
Cuaca begitu tidak menyurutkan semangatnya menceritakan pengalamannya selama 3 tahun menempuh studi di negeri Sakura 2002-2005 kepada saya. Nanang tinggal di jalan Antasari, Putussibau.
Sambil bercengkerama, tayangan televisi NHK Jepang, menuntun obrolan kami seputar Jepang yang baru saja terkena gempa sebesar 8,9 Skala Ricther itu. Provinsi atau prefecture di Jepang yang paling parah akibat gempa terbesar sejak dasawarsa 150 tahun lebih, terletak di provinsi Iwate dan Sendai. Kedua provinsi itu jauh dari Shizouka Ken -provinsi tempat Nanang menempuh ilmu sastranya.
Nanang katakan, Shizouka terletak di Jepang Utara, kalau Iwate dan Sendai di Jepang Timur, ke arah Tokyo utara. “Dari Hamamatsu Eki menuju Tokyo, naik Densha –Kereta Bawah Tanah ditempuh 5-6 jam, kalau dengan Shinknsen –Kereta Super Cepat hanya 20 menit saja,” tuturnya, Minggu (13/3). Hamamatsu Eki adalah stasiun kereta yang masih berada di provinsi Shizouka.
Sewaktu terjadi gempa dahsyat, Nanang tak henti-henti terus melakukan komunikasi ke teman-temannya di Jepang. Di Shizouka ken, provinsi itu tidak mengalami Tsunami seperti di Iwate dan Sendai, karena letaknya di Selatan Jepang.
Padahal menurutnya, tempatnya tinggal di Fukuroi dan Hamamatsu masih dalam Shizouka Ken, dekat sekali dengan lokasi pantai.
“WNI Tidak ada yang meninggal, dan luka parah. Ini status WNI yang legal, yang ilegal tidak tahu nasibnya tetapi ada hampir 200an orang WNI illegal kebanyakan dari Jateng –Temanggung,” tuturnya menyebutkan jumlah WNI di prefecture Shizouka.
Nanang hingga sekarang, terus melakukan kontak dengan kerabat dan rekan sekolahnya dulu melalui jaringan media sosial terutama Facebook.
“Untuk mengupdate informasi awal-awal dengan saluran komunikasi SMS masih sulit, jadi teman-teman menginformasikan lewat FB,” ujarnya.
Jepang memberikan kesan tersendiri bagi Nanang, bahkan di tahun 2011 ini ia sebenarnya hendak melanjutkan studinya bersama dengan istrinya, Murniati. Ia diterima di Horishima University lewat beasiswa Monbukagakusho. Namun, ia dihadapkan dua pilihan yang cukup sulit bagi masa depannya.
Nanang harus bermusyawarah dengan keluarganya apakah memilih beasiswa Monbukagakusho atau mengambil CPNS. Kala itu, Nanang diterima kedua-keduanya. Tapi, dengan hasil musyawarah bersama keluarga, ia memilih CPNS bekerja di Pemkab Kapuas Hulu.
Keamanan, tenang, suasana udara yang segar negeri sakura, menjadi kerinduan terpendam yang ingin Nanang selami lagi, ia punya harapan suatu saat nanti bisa sekolah di sana kembali.
“Teman-teman di sana terus menanyakan kapan kami datang ke Jepang lagi, karena mereka tahu saya berhasil mendapatkan beasiswa Monbukagakusho,” ungkapnya yang menjadi peserta terbaik penerima Monbukagakusho di Kedutaan besar Jepang tahun .
Selama di Jepang ia pernah merasakan dua kali terkena goncangan gempa tapi suasana negeri tenteram itu membuatnya ingin kembali ke sana. “Watashi tachi wa nihon ni natsukashigaru, nihon e mata modotte kuru yo,” tambahnya. Nanang artikan dalam bahasa Indonesia yaitu -Kami merindukan Jepang, ingin kembali ke sana.
Memoar Of Nippon
Mulai Dari Cum Laude hingga Amannya Negeri Samurai (2)
Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Kurun waktu 2002-2005 selama menempuh studi di Jepang dirasakan Nanang Hariyadi (31) sempit sekali untuk dijalani. Karena ia merasakan masih perlu banyak belajar dan merasakan kebudayaan negeri yang pernah terkenal dengan film Memory of Geisha itu.
Jepang, menurut Nanang bukanlah negera tujuan utama melanjutkan studinya. Justru ia ingin ke negeri kangguru sebagai tempat peraduan meraih ilmu pengetahuan.
“Saya sempat ikut tes beasiswa ke Australia, yang diambil hanya 3 orang saja, tapi saya berada di urutan keempat, berharap salah satu di antara mereka tidak jadi terima beasiswa. Ternyata ketiganya tetap berangkat,” ujar Nanang dengan mengatakan saat itu sempat hampir putus asa karena tidak berhasil kuliah di sana.
Merasa perjuangannya sia-sia, Nanang katakan bahwa ia hampir terjerumus di tindakan-tindakan negatif. Karena labilnya pikirannya saat itu.
Dengan sadar, ia berusaha mencari cari jalan untuk menuangkan rasa hampir keputusasaannya itu dengan kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa LIA Yogyakarta. Nanang memang memiliki minat bahasa asing yang tinggi, kemudian melamarlah ia diperusahaan Jepang di Indonesia.
Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangannya itu mengharuskan ia menguasai bahasa Jepang. Sambil mengikuti kursus bahasa Jepang di dalam negeri, hingga menerima beasiswa berangkatlah Nanang ke Jepang.
Jepang memberikan magnet tersendiri bagi Nanang kala itu. Berada di provinsi Shizouka, provinsi itu lebih didominasi pekerja industri dan para pelajar. Sama seperti di provinsi-provinsi lainnya, etos kerja dan belajar menjadi hal nomor satu di Jepang. Beberapa buku pelajarannya selama di Jepang Nanang bawa ke Indonesia.
Sekarang buku-buku itu sedang dikemasnya. “Minggu depan saya pindah dari kontrakkan ini, jadi lupa nama toko buku tempat beli buku-buku itu,” ucapnya yang selama ini tinggal di rumah kontrakan yang terlihat begitu sederhana.
Hasil menimba ilmu 3 tahun, Nanang membawa prestasi menggembirakan yaitu lulus dengan predikat Cum Laude.
Jepang, bukan saja tempat yang nyaman untuk menimba ilmu. Seperti membuka kembali memorinya, Nanang termenung sejenak dengan sambil senyum-senyum. Di samping istrinya, Nanang mulai cerita pengalaman temannya yang pernah kehilangan dompet di Eki –stasiun kereta. Beranjak dari kereta menuju Supermarket di saat hendak membayar, dompetnya hilang.
“Kami kaget mendapat informasi darinya, akhirnya kami melapor ke polisi, setelah mengisi formulir admistrasi kehilangan, tak lama kemudian polisi menyerahkan dompet teman dan tanpa satupun isi di dalamnya hilang,” terangnya.
Tak sampai di situ saja, keamanan bagi penduduk Nippon tak diragukan lagi. Pernah suatu kali, Nanang menitip kepada temannya di Gifu, masih di prefecture Shizouka supaya membelikan satu jam tangan. Karena jarak antara apartemen Nanang dan toko jam itu harus ditempuh dengan menggunakan Densha, maka Nanang langsung menuju toko jam itu.
Ternyata temannya menitipkan jam di atas pintu toilet yang saat itu toilet sedang ramai pengunjungnya. Sesampai di sana, jam baru dengan segel harga utuh masih pada tempatnya. “Jam itu terlihat sekali kalau di tatap dari bawah,” ujarnya.
Wajar saja apabila pencurian di Jepang tidak seperti di Indonesia. Nanang katakan, setiap 3 bulan sekali biasanya ada jadwal pembuangan barang-barang elektronik bahkan terbilang produk baru. Barang-barang itu gratis diambil, tapi yang mengambil, seperti Nanang tuturkan bukan orang Jepang.
“Banyak sekali barang elektronik atau barang lainnya masih sangat baru tapi tidak lagi dipakai orang Jepang, karena selalu update produk baru,” ujarnya.
Jepang yang Ramah Lingkungan (3 Habis)
Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau
Jepang bukan saja terkenal dengan budaya disiplin warganya yang tinggi. Misal seperti Nanang tuturkan dalam hal mengendarai sepeda motor maupun kendaraan lainnya. Segala peraturan dipatuhi oleh warganya, tak heran lalu lintas Jepang tertib sekali, kesemrawutan lalu lintas jarang terlihat.
Bahkan disiplin kerja juga menjalar hingga kepatuhan warga menjaga lingkungan hidup masyarakatnya.
Nanang ceritakan pengalamannya, contoh kecil saat hidup tinggal bersama tetangga disekitarnya. Pernah suatu hari, bersama ke 5 temannya, Nanang ingin bakar sampah. “Kita senang waktu itu asap rumput mengepul. Asapnya mengepul kemana-mana,” ceritanya semangat.
“Tiba-tiba, datang polisi –Omawari San, menyuruh segera mematikan api dari sampah yang dibakar, karena asapnya menyebabkan polusi udara,” ungkapnya. Di Jepang, setiap rumah, sampah dikumpulkan baik itu sampah rumah tangga juga sampah rumput. Pulang ke Indonesia, setelah menikah, istrinya membakar sampah di depan rumah.
“Dari atas rumah, mas Nanang teriak marah-marah jangan bakar sampah kering,” kata Murniati, saat itu mengatakan dia masih terbawa budaya disiplin dari Jepang.
“Saya sempat kesal, setiap kali melihat mobil pick-up membuang sampah ke sungai Kapuas. Saya pernah teriak depan sopirnya supaya sampah-sampah itu jangan dibuang di bawah,” ujarnya. Nanang dan Murniati selalu melihat pick-up yang buang sampah setiap subuh di jembatan Kapuas Putussibau.
Begitu juga dengan peralatan elektronik. Negara Jepang melakukan penertiban bagi warganya yang kedapatan menyimpan peralatan elektronik tidak digunakan. “Jadi biarpun seperti DVD yang masih berfungsi tapi tidak dipakai, karena ada DVD lainnya pasti DVD itu disita oleh polisi.
Setiap warga diingatkan supaya tidak membeli peralatan sia-sia yang tidak dipakai juga ujung-ujungnya,” tuturnya. Peralatan yang diambil polisi tidak dimanfaatkan polisi, justru barang itu masuk dalam barang bekas, gratis boleh diambil orang lain.
Jepang sangat menerapkan lingkungan yang ramah lingkungan. Tingkat kesadaran akan lingkungan dari warganya begitu sangat tinggi. Nanang yang terbiasa dengan pola hidup bersih selama di Jepang, kaget bukan kepalang ketika kembali ke Indonesia kesemrawutan berada di mana-mana.
Tapi lambat laun, Nanang sudah biasa melihat kurang disiplinnya sebagian warga Indonesia memperhatikan lingkungan sekitar. “Menerapkan kesadaran sama sampah harus dari lingkungan paling kecil yaitu keluarga,” pungkasnya.
Comments
Post a Comment