Kabiro Kapuas Hulu


Viodeogo

Borneo Tribune

Malam pertama di Kota Putusibau, Senin 17 Januari 2011, saya berada di kota berjuluk Uncak Kapuas ini. Tahu kedatanganku, saya dan Yulan Mirza janjian bertemu. Ia, Kabiro Kapuas Hulu Borneo Tribune yang kelak kemudian hari, saya yang melanjutkan misi jurnalistik koran harian kami di kota ini.

"Di mana Bos, Di Cafe Tia yah ngumpulnya," ujar bang Yulan. Aku masih bingung di mana cafe tersebut. Karena seumur-umur baru kali ini keluar ke Putusibau pada malam hari. 

Iyalah, jelas-jelas ke Putusibau hanya beberapa jam saja setiap kali menyambangi kota dengan jarak tempuh kurang lebih 18 jam ini. Kota yang sangat jauh, yang pernah kutempuh, dan sering ku datangi tanpa pernah menikmati suasana kota ini dengan berlama-lama.

Cafe Tia tepat di samping SPBU Jl. Kom Yos Sudarso. Jalan utama di Kota Putusibau dan juga sebagai jalan negara. Ku parkir motor punya omku, karena belum punya kendaraan sendiri. Di pelataran halaman bang Yulan sudah ada bersama temannya bernama Butar, mereka menyambutku. 

"Pesen minum Vio," satu-satunya temenku yang hingga seterusnya memanggil nama dengan sebutan itu. Kopi jaheku datang, dan kerupuk basah kusantap, membuka awal obrolan kami bertiga di malam pertama kumpul bersama-sama. Hingga muncullah teman lain Rian Indo Warta, Mulyadi, Icang Madina.

Singkat cerita, beberapa hari ke depan, topik mengarah ke mana saya tinggal kelak. Yah, rencananya saya  tinggal di mess Dinas tapi untuk saat ini, belum menempatinya. Sambil menunggu bang Yulan berkemas-kemas, saya tinggal di rumah Om, adek bapak yang pertama. 

Cukup tidak enak juga harus tinggal dengan keluarga, karena tuntutan kerja wartawan tidak kenal waktu. Pernah, sewaktu keluarga kecil ini sedang kumpul, kejadian seperti hari ke tiga, saya harus meliput seorang anak yang tenggelam di Sungai Sibau -Pala Pulau-. Sehabis liputan jam 10 malam, lihat seisi rumah sudah tertidur pulas dan gelap. 

Mau tidak mau, agar ketenangan keluarga om ku tetap nyaman, keputusan menempati mess dinas harus sesegera mungkin.

Tugas baru saya benar-benar dimulai selepas keberangkatan Bang Yulan ke Pontianak. Ia memang membuat sebagian teman-temannya kehilangannya sebagai kawan seperjuangan laskar pena. 

"Yul, kalau aku ke Pontianak, aku kasih kabar," ucap Mulyadi. Perpisahan berat buat kami, dan bagiku ini menjadi tantangan baru berada di Putusibau. Benar deh...baru yak aku sadar malam tu, sepi kota tu. Nisi nemu keramaian, ditambah agi dingin udara yak. 

"Nuan yak, di Pontianak kiri kanan ramai, nyampe ditu baru ngerasa sepi kan, badan melengkung kedinginan lagi, coba kian mantau sentua yak. hehehehehe...,"padah -kata- Butar. Tetapi dibalik itu semua adalah tantangan Besar di depan mata saya telah menunggu.

Comments

  1. semoga bisa betah di sana, tapi tidak betahan lama di sana. hehehe ...

    ReplyDelete

Post a Comment