Berkah Karet di Musim Penghujan

Viodeogo
Borneo Tribune, Putussibau

Dirigen kecil warna putih dipanggul oleh Triyanus. Terlihat ia habis mandi, kepala dan tubuhnya basah. Dirigen itu isinya air bersih untuk dimasak. Dengan bertelanjang dada, tato kecil bergambar Maria -ibu Yesus- basah terkena tetesan air dari dirigen kecil yang ia bawa. 

Triyanus sampaikan kalau ia baru pulang dari mandi setelah seharian menoreh karet miliknya. Waktu saat itu pukul 13.20 WIB, matahari walaupun sesekali tidak terlalu menyengat mengeluarkan cahaya sinarnya, tetapi hawa panas di desa Nanga Awin, Putussibau menstimulus orang yang pulang kerja untuk merasakan dinginnya air.

Triyanus merupakan seorang penoreh. Ia memiliki 600 pohon siap panen dari total 2000 pohon karet yang dimilikinya, berada di atas tanah seluas 2 ha. Musim memasuki bulan sekarang ini, hujan hampir setiap hari mengguyur Putussibau dan sekitarnya termasuk Kec. Putussibau Utara tempat Triyanus mengais rejeki dari karetnya. 

Ia dan petani karet lainnya sedang senang karena harga karet di pasaran melonjak tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. “Kalau di tempat ini, harganya Rp 18 ribu, tapi kalau tempat lain bisa sampai Rp 20-22 ribu rupiah per kilo,” tuturnya.

“Saya baru saja menjual 52 kg setelah mengumpulkan karet selama 5 hari,” ungkapnya menjual 52 kg itu hari Sabtu kemarin. Sehari diakuinya, bisa mengumpulkan rata-rata 10 kg. Musim penghujan di bulan Januari ini, memberikan berkah bagi penoreh karet seperti dirinya, karena produksi karet yang sedikit akibat cuaca hujan justru harganya melonjak naik. 

Permintaan toko dan perusahaan akan karet meningkat, berdampak pada harga karet di pasaran yang beranjak naik membuat penoreh seperti dirinya rajin mengumpulkan getah karet sebanyak mungkin.



Harga getah mulai beranjak naik, dimulai pada tahun tahun 2010 yang hanya berkisar Rp 3 rb, kemudian merangkak ke harga Rp 7 rb-8rb hingga akhirnya masuk bulan Januari 2011 ini, Rp 18 ribu menjadi harga tertinggi yang pernah dirasakan penoreh karet saat-saat ini. 


Dalam musim penghujan seperti ini, Triyanus mengaku pernah mengumpulkan karet dalam 9 hari yang jika diuangkan setara Rp 3 juta lebih, hitungannya 1 hari 10 kg. Berbanding terbalik sebenarnya, ketika masuk musim kemarau hinggapun tertampung 10 hari, susah untuk mendapatkan harga tinggi karena karet membludak jumlahnya.

Triyanus sangat memperhatikan mutu dari hasil torehan karetnya. Sebelum dibekukan, kotoran kayu dan kulat dibersihkannya. “Kalau tidak, toko atau perusahaan membersihkan sendiri lalu memberikan harga di bawah harga pasaran, karena kualitas karetnya kotor,” katanya. 

Biasanya pun ada toko yang main timbang saja menurut Triyanus. “Tidak dibongkar dulu getahnya,” terangya. Persaingan antar toko pun terjadi, jika kualitas bagus toko berani ambil tinggi. Tapi kata Triyanus, masih diambang kewajaran, misalnya dengan menambah Rp 500 atau Rp. 1000 saja.

Sehari-hari pekerjaan utama Triyanus memang menoreh karet. Mulai jam 6 pagi ia berangkat dari putusibau ke Nanga Awing menggunakan sepeda motor dengan waktu 15 an menit. Baru pulang menoreh jam 11 siang. 

Ia biasanya melepaskan penat seharian bekerja dengan beristirahat di rumah singgahnya dekat perkebunan karet miliknya, yang berada di tepi jalan raya kecil terbuat dari papan kayu beratapkan seng. Sekitar rumahnya terdapat pohon karet dengan ukuran masih belum layak di keruk isinya. Hari Minggu, (23/1), ia membawa serta istri (Martha) dan ketiga anaknya, Kiki, Abong, dan Tia.


Triyanus tidak perlu lagi membawa getahnya yang sudah beku berkilo-kilo banyaknya ke Putussibau. Getah yang terkumpul sudah pasti akan diangkut oleh tengkulak yang menjadi langganannya. Jika tidak yang mengambilnya menggunakan truk, biasanya datang pembeli dengan membawa motor. 

Sambil berbincang, lewat pengendara motor yang disebut Triyanus sebagai pembeli getah. Sisi kiri kanan motor ada bak terbuat dari kayu yang khusus untuk mengangkut getah-getah dari petani karet. “Bak yang satu memuat 25 kg, jadi rata-rata mereka membawa 50 kg getah,” tuturnya.

Di musim penghujan seperti bulan sekarang ini, penghasilan Triyanus meningkat. Ketika masuk musim kemarau, diakuinya pernah dalam sebulan ia hanya mendapatkan uang hasil dari penjualannya Rp. 500 rb saja. “Ini kemarin dalam bulan ini selama 9 hari, saya bisa mendapatkan Rp. 3 jt,” senangnya. 

Di saat harga sembako dan solar tinggi, harga karet di musim penghujan di waktu sekarang ini menjadi berkah bagi dirinya. Pemenuhan kebutuhan hidupnya lebih dari cukup.

Karet bagi Triyanus menjadi penopang hidupnya. Ia telah menanam karet di atas tanah seluas 2 ha miliknya semenjak tahun 1994. “Mulai karetnya bisa berproduksi tahun 2000,” ungkapnya. 

Bibit karet yang ia peroleh tidak dari sumbangan pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, tapi berasal dari miliknya sendiri. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu membantu petani karet lain untuk bibit karet sebanyak 450 bibit per 1 ha.

Dengan menjadikan karet sebagai sumber penghasilan utamanya, Triyanus mampu menyekolahkan ketiga anaknya. Tertua duduk di sekolah 1 SMA, kedua 1 SMP, dan anak ketiga TK. Triyanus dan istrinya bersama-sama menjadi penoreh di kebun karetnya. 

Selepas pulang menoreh, mereka kembali ke Putussibau. Triyanus beralih profesi lainnya kadang mencari lauk pauk dengan memancing atau menambah penghasilan lainnya dengan memancing. Sedangkan istrinya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Comments